Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Dua Puluh Lima


__ADS_3

Nevan datang lagi dengan model rambut baru, kali ini dia menggunakan Spiky style. Jengah juga jadi bahan ledekan mirip Song apa?


"Pak Nevan makin ganteng," ujar Nanda tiba-tiba. Dia baru datang dan langsung berpose ala Cherrybelle, lantas mengedipkan matanya berkali-kali


"Rama Ananda," panggil Nevan. "Bulan depan kamu dapat rekomendasi kenaikan gaji, kan? tapi kayaknya bakal saya cancel."


Nanda ciut. Dia lupa kalau yang sedang digodanya adalah orang yang mengendalikan gaji. "Maaf, Pak," gumamnya, lantas langsung berlari kecil ke kubikel.


Elma cekikikan, lalu segera membekap mulut ketika Nevan melirik. Meski belakangan ini Nevan tampak sumringah, tapi aura bosnya masih begitu kuat.


"Gantari," panggil Nevan sambil melongokkan kepalanya ke kubikel milik Gantari. "Ke ruangan saya sekarang."


Gantari sontak berdiri, lalu tersenyum simpul. "Maaf, Pak. Sepuluh menit lagi saya mau menemui klien dengan Fikri," ucapnya merasa menang.


"O, Pak Wiyana, ya?" balas Nevan sambil mengingat-ingat. "Kalau begitu kamu pergi dengan saya. Saya udah lama nggak ngobrol dengan beliau," lanjut Nevan santai, lantas melangkah menuju ruangannya.


Gantari menghentakkan kakinya ke lantai, membuat Fikri nyengir lebar. "Sori," ucap Fikri tanpa suara.


Di dalam ruangan, Nevan sedang melingkari tanggal di kalender, "Dua minggu lagi," gumamnya.


***


Benar saja, hari ini yang menemui klien adalah Gantari dan Nevan. Fikri tinggal ongkang-ongkang kaki saja di kantor, jarang-jarang dia bisa mendinginkan diri di bawah AC.


Seperti yang sudah dikatakan, Nevan memang sedang berbincang santai dengan Pak Wiyana dan Gantari hampir tertidur dibuatnya, dia mengantuk berat mendengar obrolan mereka.


Sebenarnya yang menghandle Pak Wiyana adalah tugas Fikri, sedangkan Gantari hanya sebagai pelengkap saja. Alibinya untuk menghindari Nevan. Jadi, dia tidak tahu apa-apa tentang proyek ini. Hingga, ucapan Nevan membuat jantungnya hampir copot, "Gantari akan menjelaskan bagaimana prospeknya. Tidak adil kan kalau bapak langsung menerima tanpa mendengar presentasi kami dulu," jelasnya tersenyum manis.


Gantari menggigit bibir bawahnya, sedangkan matanya melirik tajam pada Nevan.


Ada apa dengan manusia satu ini? Kenapa jadi hobi menyiksa orang begini? rutuk Gantari dalam hati.


Pak Wiayana tertawa nyaring, hingga membuat Gantari terkejut. "Oh, tidak perlu. Ini kan proyek lanjutan. Saya percaya performanya masih sama," ucapnya bijaksana.


Betapa Tuhan sungguh luar biasa. Dia tidak akan membiarkan umatnya teraniaya, hati Gantari bicara lagi, kali ini penuh syukur. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan helaan napas leganya.


Nevan diam-diam tersenyum mengejek. Dia kenal betul dengan Pak Wiyana dan tawarannya barusan hanya basa-basi saja untuk membuat Gantari sport jantung.

__ADS_1


***


Gantari menggebrak meja Fikri dengan perjanjian kerjasama yang dibawanya. "Aku nggak mau nimbrung kerjaan kamu lagi," katanya tersungut-sungut.


Fikri yang sedang mendengarkan musik, terlonjak kaget, lantas tersenyum usil. "Makasih, ya. Besok aku teraktir, deh," katanya sembari menyimpan berkas tersebut.


"Fikri! Ke ruangan saya sekarang," ucap Nevan tegas. Membuat Fikri meringis dan langsung mengekori si bos.


"Emang berapa gaji kamu sampai mau neraktir-neraktir?" sembur Nevan ketika Fikri sudah masuk ke ruangannya dan menutup pintu.


Fikri mengerutkan keningnya, kemudian teringat ucapannya pada Gantari tadi. Dia baru mau bicara menjelaskan, namun Nevan keburu menyela, "Kalau gaji kamu kebanyakan, biar saya kurangi besok."


"Siap! Tidak, pak," jawab Fikri ala militer. "Saya tidak akan berani meneraktir Gantari lagi," lanjutnya.


"Bagus," balas Nevan sambil mengangguk. Kemudian memberi kode agar Fikri keluar dari ruangannya.


Fikri paham. Ia membungkuk lebay ala pendekar Jepang, lalu membalikkan badan keluar ruangan.


"Segitu nggak sukanya, ya, dia sama Gantari," gumam Fikri sambil bergidik.


***


Farez menyambutnya dengan senyum merekah. Sudah lama juga dia tidak mengobrol dengan Gantari.


"Membawa ibu pulang?" tanya Farez cukup terkejut.


"Iya," Gantari tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Sudah hampir empat hari ibu sadar dari koma, aku mau membawa ibu pulang."


Farez tampak berpikir. "Ibu baru sadar dari koma setelah lima tahun, Dihyan," katanya, lalu hati-hati melanjutkan, "Tubuhnya masih sangat lemah. Ada beberapa tes yang akan dilakukan bertahap. Jadi, aku sarankan biarkan ibu di sini lebih lama lagi."


Gantari akhirnya setuju, meski hatinya masih berat. Ia ingin segera keluar dari rumah Ardiwinata dan membawa ibunya pergi jauh. Bebas seperti dulu.


Ia melangkah menuju ruang rawat sang ibu, ketika samar-samar terdengar suara dari dalam. Gantari bahkan menghentikan pergerakan tanggannya yang sudah mau memutar kenop pintu. Ia merasa tidak asing dengan suara itu.


"Aku yang membuatmu celaka," suaranya terisak. "Andai aku tidak menyuruhmu pergi, mungkin ini tidak akan terjadi." Isakan semakin terdengar ketika ia melanjutkan, "Maafkan aku."


Gantari langsung menerobos masuk, lantas menarik tangan wanita yang sedang duduk di samping ibunya agar menjauh.

__ADS_1


"Mau apa lagi anda?" tekannya tajam.


"Dihyan," Tiwi masih terisak.


"Keluar! Jangan ganggu kami lagi," sentak Gantari. Ia tidak peduli dan tidak ingin mendengar apapun dari mantan mertuanya itu. Namun, suara lemah ibu mengalihkan perhatiannya.


"Dihyan."


Gantari menoleh dan langsung mendekati sang ibu. "Ibu nggak apa-apa, kan?"


"Jangan begini, nak," lanjut ibu terengah.


Akhirnya Tiwi memilih pamit. Ia tidak ingin memperburuk situasi. Memang dia yang salah. Memang dia yang sudah mengusir ibu Gantari waktu itu dan melukai hatinya dengan perkataan yang tidak pantas.


Perawat baru saja memeriksa kondisi ibu. Gantari ingin kepastian medis, jika sang ibu memang baik-baik saja.


Gantari menunduk saja dari tadi, tidak bicara sedikit pun.


"Semua ibu ingin yang terbaik untuk anaknya," mulai ibu. "Begitu juga dengan ibumu ini dan ibu Dion," lanjutnya, lantas menggenggam tangan sang putri.


"Dia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk putranya. Memperlakukan Dion dengan baik sejak kecil. Tentu hatinya sakit melihat anaknya menderita," lanjut ibu susah payah.


"Ibu sangat paham," ibu tampak mengatur napasnya, lalu melanjutkan, "Dan sudah memaafkan Bu Tiwi."


Gantari menoleh, tampak sekali dia menahan tangis.


"Dihyan," panggil ibu lembut, Gantari lantas membalas genggaman tangan ibu, "Jangan dendam lagi, begitu juga pada kakekmu."


Gantari masih diam. Dia tidak ingin menambah beban pikiran ibu.


"Awalnya ibu juga benci pada Pak Darya, tapi orang tua mana yang setuju, anaknya menikah dengan bekas wanita penghibur?"


"Ibu," sentak Gantari tak suka. Ia tidak pernah suka melihat ibunya itu rendah diri karena masa lalunya. "Itu bukan keinginan ibu, kan?" balas Gantari hampir terisak.


Ibu tersenyum hangat. Ia kembali mengeratkan genggaman tangannya pada putri semata wayangnya itu.


"Kasih sayang orang tua itu luar biasa Dihyan, dan ibu memakluminya."

__ADS_1


__ADS_2