
Gantari meregangkan tubuhnya ketika alarm berbunyi dan tidak lama disusul pula oleh suara kumandang adzan Subuh.
Setelah menguap dan merapikan selimut, Gantari meraih ponselnya. Tumben-tumbenannya, loh dia begitu.
Sialnya, sesi tumben itu justru membuat subuh Gantari menjadi buruk. Hatinya sedikit kecewa karena ponselnya bersih dari notifikasi apapun, kecuali chat grup.
Gantari meletakkan kembali ponselnya dengan tersungut-sungut.
"Pesanku nggak dibalas? Oke, sip."
Pesan yang mana, ya? Kok aku lupa. Oh, pesan yang ditarik itu.
Bahkan, hingga Gantari selesai mandi, salat, menyiram tanaman, dan masak, tetap saja ponselnya tidak menerima pesan dari Nevan.
Gantari mendengkus ketika melihat hasil masakannya sendiri.
"Ngapain sih aku masak cumi asam manis pagi-pagi gini?" desahnya bingung sendiri.
Akhirnya, hasil masakan itu dimasukkan ke dalam kotak makan dan akan dibawanya ke Rawikara Retail, kantor Nevan.
Uhuy!
Sesekali bikin dia senang nggak apa-apa, deh, pikir Gantari.
Dia memacu Retic dengan kecepatan sedang, karena Nevan selalu mewanti-wanti dirinya agar tidak kebut-kebutan.
Nevan terus. Jadi, kangen. Efek pengangguran apa, ya?
***
Nevan memijit pelipisnya karena merasakan kepalanya mulai berdenyut akibat begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lantas memejamkan mata. Tiba-tiba, ia teringat pada pesan yang ditarik Gantari tadi malam. Saking sibuknya, dia sampai lupa dengan rasa penasarannya terhadap isi pesan tersebut.
Kini rasa penasaran itu muncul kembali, jadi Nevan membuka matanya dan meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Kemudian, kembali menyandarkan punggungnya lagi.
Langsung membuka aplikasi WhatsApp dan mengabaikan pesan lainnya, Nevan tidak kerepotan mencari nama Gantari karena memang sudah ia sematkan agar selalu jadi yang teratas.
Cie.
Baru saja dia akan mengetik pesan untuk Gantari, Fikri masuk dan menarik perhatian.
"Pertemuan dengan Bu Wilona satu jam lagi, Pak. Lebih baik kita pergi sekarang."
"Loh?" Nevan kaget bukan karena informasi yang diberikan Fikri, tapi karena kenapa Fikri yang mengingatkannya, bukan Utami.
"Kok kamu yang mengingatkan?"
"Sepertinya saya memang ditakdirkan merangkap jadi sekretaris Bapak, soalnya Utami hari ini sakit dan sekarang lagi periksa ke Rumah Sakit," jelas Fikri panjang lebar.
"Oh, ya?" Nevan tampak kebingungan, namun kebingungan itu belum ada apa-apanya ketimbang informasi lanjutan yang disampaikan Fikri.
"Menurut Elma, Utami tertekan karena mengira kita pacaran."
"Hah?" Nevan membelalakkan matanya tak percaya. Dia bahkan menggeleng tak habis pikir ketika melanjutkan dengan kesal, "Ada-ada aja pikirannya."
"Makanya, Pak. Jangan menatap saya terlalu mesra," seloroh Fikri yang langsung disambut lemparan berkas oleh Nevan.
"Jauh-jauh loe dari gue!"
"Hoakakaak."
***
Gantari memakirkan motornya di parkiran Rawikara Retail dan langsung disambut ramah oleh Pak Wahyu. "Mbak Gantari, apa kabar?"
Gantari membuka helmnya, lalu tersenyum. "Baik, Pak. Udah lama nggak ketemu, ya," balas Gantari tak kalah ramah.
Wahyu mengangguk, mengiyakan. "Semenjak Mbak Gantari berhenti kerja, kita nggak ketemu lagi. Balik lagi, dong, Mbak."
Untuk ucapan Wahyu tersebut, hanya Gantari balas dengan terkekeh ringan, lantas pamit menuju ruangan Nevan dengan kotak makan yang ia jinjing di tangan.
__ADS_1
"Loh, Tar!" Nanda menghampiri Gantari, lantas memeluknya sebentar. "Kamu nggak ketemu Pak Nevan?"
Gantari mengangkat sebelah alisnya, bingung. "Pak Nevan lagi keluar, ya?"
"Iya. Barusan aja. Sama Fikri," terang Nanda.
Gantari ingin mendesah kecewa, namun ia tahan. "Lama nggak, ya, Nan?"
"Duh! Kalau itu aku nggak tau. Coba ditelpon." Kemudian, raut Nanda berubah jahil ketika melanjutkan, "Kalian lagi berantem, ya?"
"Enggak," jawab Gantari gelagapan
"Ya udah, aku nunggu di dalam, ya."
"Silakan," balas Nanda dengan senyuman usil, lalu dia teringat tentang niatnya yang tadi ingin memfotokopi dan buru-buru melanjutkan pekerjaannya tersebut.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Gantari pulang dan memberikan kotak makan siang yang harusnya ia berikan untuk Nevan pada Nanda dan kawan-kawan.
"Kangen banget sama masakan loe Tar!" teriak Elma heboh dan bagaikan gula yang dikerubungi semut, teman-teman yang mendengar teriakan heboh Elma ikut mengerubungi, hingga membuat Nanda mendecak sebal.
"Berkurang, deh, jatah aku."
Gantari terkekeh geli melihat tingkah mantan rekan-rekannya itu, meski sebenarnya hatinya sedang tidak nyaman. Tadi, dia sudah berusaha menghubungi Nevan di ruangan, namun pacar sibuknya itu tidak menjawab panggilan.
Setelah puas melihat kehebohan tim lamanya, akhirnya Gantari memutuskan untuk kembali pulang dengan perasaan kecewa.
Kejutan perdananya gagal.
***
Utami sedang duduk di rumah tunggu Panca Hospital seorang diri dengan jaket Irfan yang membungkus tubuhnya. Tadi, dia memang diantar Irfan, namun Utami bersikeras menyuruh Irfan kembali ke kantor. Dia berjanji akan pulang menggunakan taksi ke rumahnya dengan selamat setelah memeriksakan diri dan Irfan terpaksa setuju setelah meminjamkan jaket parasut pada Utami.
Tatapan Utami begitu hampa sembari menunggu nomor antrian. Sebenarnya, keceriaan gadis muda itu sudah tidak lagi terlihat sejak beberapa hari yang lalu.
Utami merasakan tenggorokan kering, mungkin lantaran efek suhu badannya yang terlampau tinggi. Ya, Utami demam.
"Kak?"
Percuma ganteng kalau bengkok, batin Utami ngelantur.
"Tas Kakak kebuka, tuh," lanjut si laki-laki tampan.
Utami mulai fokus. Ia terkejut mendengar ucapan laki-laki tersebut, lantas menundukkan kepalanya dan melihat tas yang tadi ia letakkan secara asal di atas kursi kini isinya sudah berserak di lantai.
"Astagfirullah!" Utami memekik dan memungut barang-barangnya yang berantakan.
Ada copet apa, ya?
Utami memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas, sembari mencoba memastikan jika semua barangnya aman dan lengkap.
Dompet.
Charger handphone.
Bedak.
Lipstik.
Kaca lipat.
Buku catatan.
Handphone?
"HP-ku! HP-ku hilang!" teriak Utami panik.
"Kak?"
Utami mendongak di sela kepanikannya dan rupanya laki-laki tadi masih ada di dekatnya, tengah menunduk melihat Utami yang sedang bersimpuh di lantai.
"Hp kakak ada di kantong jaket."
__ADS_1
Utami melotot, lalu dengan cepat menundukkan pandangan dan benar, dia menemukan ponselnya aman di sana. Utami nyengir, mendadak ia merasa seperti orang bodoh. Namun, ketika hendak berdiri tiba-tiba ia merasakan kepalanya pening dan hampir saja terjatuh. Beruntung ada laki-laki tadi yang cekatan menahan tubuhnya.
Si laki-laki membantu Utami untuk duduk, lalu memberikannya minuman yang ia minta pada perawat. Utami patuh, ia menenggak air mineral itu hingga separuh, karena memang sejujurnya sejak tadi kerongkongannya terasa kering.
"Sudah lebih baik?"
Utami menoleh lagi dan rupanya laki-laki itu masih di sana, duduk di sampingnya. Namun, tiba-tiba mata Utami terbelalak kaget, hingga membuat si pemuda ikutan kaget.
"Kamu ... teman Gantari, kan?"
Mungkin benar kata iklan, kalau kurang minum bisa mengakibatkan fokus berkurang juga.
"Maksudnya, Gantari Dihyan Irawan?" tanya Farez memastikan. Ya, pemuda itu adalah Farez Fatahillah. Dokter tampan rupawan yang dipatahkan hatinya oleh Gantari Dihyan Irawan.
Utami mengangguk cepat dua kali, terlalu antusias.
Farez tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan. Hal ini membuat Utami yang tadinya lemah, lesu, dan lunglai kini tampak begitu bersemangat. Ia memutar tubuhnya menghadap Farez dengan begitu antusias.
"Kita pernah ketemu di pemakaman Ibu Gantari," ingat Utami. "Waktu itu kamu memeluk, Gantari. Benar, kan?"
Uwu ... Semangat sekali interogasi gadis ini.
Farez yang masih tidak mengerti hanya menatap Utami bingung, tapi mendengar nama Gantari dibahas dan kenangan pelukan singkat itu diungkit membuat Farez sedikit tersipu.
"Kamu pacar Gantari, kan? Iya, kan?" desak Utami tak sabaran.
Farez makin tersipu. Ia mengulas senyum malu-malu sembari mengusap tengkuk. Ucapan Utami barusan seperti taburan bunga yang begitu indah bagi Farez.
"Jadi, Gantari pacaran sama Pak Nevan itu bohong, kan?"
Ngek!
Amblas sudah suasana hati Farez ketika mendengar nama Nevan disebut. Mendadak bunga-bunga yang jatuh tertaburan tadi berganti warna menjadi abu-abu. Farez ingat lagi dengan patah hatinya.
"Bener, kan?"
Farez menatap Utami malas. Entah apa sebabnya gadis itu jadi lupa dengan sakitnya sendiri.
Sebenarnya Farez ingin membiarkan kesalah pahaman ini, namun ada sisi dirinya yang melarang.
"Bukan. Saya dan Dihyan cuma berteman."
Pelan-pelan senyum Utami merekah. Wajahnya begitu berseri ketika mendengar klarifikasi Farez barusan.
"Jadi beneran Gantari sama Pak Nevan pacaran?"
Nevan lagi. Sakit tau, Ut.
Farez mengangguk lemah dan Utami melonjak bahagia.
"Jadi, Pak Nevan nggak belok?" tanyanya mengguncangkan tubuh Farez yang entah kenapa justru kini berubah lemah, lesu dan lunglai.
"Jadi, cinta pertamaku, Pak Nevanku, memang laki-laki sejati? Yipi!"
***
Bang Nevan : Uhuk! Ja-jadi Utami ....
Jika : Seneng, tuh.
Bang Nevan : Biasa aja.
Jika : Eh, Bang! Kemarin Jika disamperin Pak Angkasa. Serem, Bang. Galak.
Bang Nevan : Ngapain dia?
Jika : Eum ... Eum ...
Bang Nevan : Jika? Jangan macam-macam, ya.
Jika : Apa? Kenapa? Kamu siapa? Aku di mana? Aku amnesia, nih, kayaknya.
__ADS_1