
"Tapi bayang-bayang hitam Bulan nggak pernah hilang dari kami!"
Suara seseorang tiba-tiba terdengar menggelar dihampir seluruh ruangan, ditambah lagi karena padi floor memang sedang sepi. Semua menoleh ke arah pintu masuk dan seseorang laki-laki bertubuh tegap dengan kulit sawo matang tengah menatap Gantari dengan mata berkilat marah.
Di belakangnya ada seorang laki-laki lain dengan tubuh tak kalah tegap, namun laki-laki itu tidak ikut melangkah masuk. Ia hanya tetap berdiam diri di dekat pintu dengan posisi siaga.
Laki-laki yang berteriak itu ... adalah Tjokorda Wiratha, paman Gantari.
Nevan dan Edo berdiri terlebih dahulu, disusul Gantari dan Jero. Wiratha terus berjalan mendekat, memangkas jarak di antara dirinya dan sang keponakan yang pernah ia sekap.
"Ibu selalu saja meratapi Bulan. Memperhatikan Bulan diam-diam sampai ibu lupa kalau masih punya anak lain. Bulan itu noda!"
"Tjokorda Wiratha!" Jero berteriak murka, bersamaan dengan mendaratnya sebuah tamparan tepat di pipi Wiratha.
Wiratha mendecih. Tamparan itu sama sekali tidak melukai wajahnya, namun tidak dengan hatinya. Wiratha menoleh pada Jero.
"Maya sampai mati itu kesalahan ibu!" balas Wiratha tak kalah tinggi. "Tjokorda Maya, adikku, harusnya masih hidup kalau saja ibu memberinya sedikit perhatian."
Tubuh Jero bergetar, lantas ia mulai terisak. Tubuhnya melorot ke lantai, tapi untung saja dia masih bisa menahannya dan duduk kembali ke kursi.
"Cukup Wiratha!"
"Sampai mati pun aku nggak akan menerima anak wanita penghibur ini masuk dalam keluarga kita!" Wiratha menunjuk wajah Gantari murka. Melihat itu, Nevan sudah melangkah maju dan langsung menarik kasar pundak Wiratha, hingga laki-laki paruh baya itu sedikit oleng.
"Tenang saja, Tuan Muda. Aku tidak akan mengganggu calon istrimu, asalkan dia tidak berniat masuk ke keluarga kami," ucap Wiratha dengan kedua tangan terangkat. "Lagi pula aku tidak berniat menyentuhnya."
__ADS_1
Nevan sudah hampir melayangkan pukulannya, namun Edo buru-buru menahannya. Wiratha tertawa sumbang, lantas melangkah pergi dari sana diikuti oleh pemuda berbadan besar yang setia berjalan di belakangnya.
"Maya siapa? Tolong jangan libatkan Gantari dalam hal ini!" Nevan memperingatkan. Ia meraih tangan Gantari, lantas menariknya keluar dari Teras Dharmawangsa.
Jero menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah. Dia begitu tampak terpukul. Melihat itu Edo merasa iba dan memutuskan untuk mendekatinya, lalu memberikan tisu pada Jero.
"Wiratha benar. Karena terlalu fokus pada Bulan, aku bahkan tidak tau kalau Maya hamil." Tangis Jero pecah lagi.
Edo merasa prihatin melihat wanita tua di hadapannya itu. Perlahan, ia mengusap pundaknya.
"Wiratha sangat menyayangi Maya karena itu dia begitu membenci Bulan, tapi Bulan tidak salah. Itu semua salahku," lanjut Jero susah payah. Edo bahkan dapat merasakan tubuh Jero bergetar.
"Kalau saya boleh tau, Maya ... meninggal kenapa?"
***
"Jangan gitu, dong, Van."
"Terus gue harus gimana? Ngebiarin Gantari terancam?" Nevan menghela nafasnya yang memburu, lalu melanjutkan, "Gue ngeliat tatapan matanya, Do. Gue liat! Itu tatapan dendam."
"Gue paham, tapi menghindar juga nggak ngurangin risiko buat Gantari, kan?"
"Terserah loe, deh." Nevan menepis tangan Edo yang mencoba menahannya pergi.
"Ada satu kecurigaan gue lagi," cetus Edo, hingga membuat langkah Nevan yang ingin berjalan memasuki rumah berhenti. "Tentang kecelakaan Ibu Gantari, Cahaya Bulan, beberapa tahun yang lalu."
__ADS_1
Nevan membalikkan badannya kasar, lantas berjalan cepat ke arah Edo. Kemudian, mencengkram kuat kerah baju detektif swasta itu.
"Jangan macam-macam loe, ya, Do! Kalau Dihyan dengar, dia bisa ...."
"Gimana kalau selamanya Gantari nggak menemukan kebenaran? Pada hal sebenarnya kebenaran itu bisa dia dapetin." Edo menantang Nevan dengan tatapannya. "Loe bisa maafin diri loe sendiri?"
Bruk!
Sebuah pukulan mendarat di wajah Edo, hingga pemuda itu terjungkal ke tanah. Edo mengusap bibirnya yang terasa perih, lantas mendecih.
"Gue tau dari dulu Gantari jadi prioritas penting yang selalu mau loe lindungi, tapi jangan buta gini Van!" Edo bangkit. Ia mencoba berdiri lagi. "Jangan egois dengan terus ngebiarin dia dikegelapan. Gantari butuh tau asal-usulnya, dia butuh tau penyebab kecelakaan ibunya."
"EDO!"
"Loe nggak percaya diri, ya? Loe nggak percaya kalau loe mampu ngejaga Gantari dari om-om Wiratha itu? Pengecut loe, Van."
Edo selalu begitu. Dia selalu pandai memprovokasi orang. Dia selalu pandai mengaduk-aduk emosi seseorang.
"Besok temui Jero di tempat yang sama. Kita selesaikan secepatnya."
Edo membalikkan badannya, lantas melangkah menjauh. Meninggalkan Nevan yang bergeming dengan pikiran berkecamuk.
***
Jika : Udah pada tidur, ya? 👀
__ADS_1