
Suara sirene menggema lagi, membuat Nevan seolah terjebak dalam de javu. Ia berlari bersama para perawat yang mendorong brankar dan ada Gantari yang tidak sadarkan diri di atas brankar itu.
Napas Nevan tersengal. Pikirannya kalut. Sebenarnya apa yang terjadi?
Tadi semuanya baik-baik saja. Tadi semuanya bahagia-bahagia saja, tapi kenapa sekarang jadi begini?
Seorang Dokter keluar dari IGD dan Nevan langsung melompat mendekatinya.
"Bagaimana, Dok?"
"Anda kerabatnya?"
Nevan mengangguk. "Saya suaminya."
Dokter berkacamata itu menatap Nevan lekat. "Nyonya Gantari baik-baik saja. Nggak ada luka serius, tapi ... bisa ikut saya ke ruangan saja?"
...****************...
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Nevan menarik kuat rambutnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah untuk pertama kalinya di ruang tunggu. Ia bahkan tidak peduli dengan kehadiran Tom dan istrinya.
Utami yang juga ikut datang ke rumah sakit, memandang Nevan dengan prihatin. Ia mendekati Nevan dan ingin mencoba menghibur sang atasan, tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Saya ... saya nggak tau kenapa Gantari manjat pagar."
__ADS_1
Nevan mengatur napasnya, lantas menatap Utami yang berdiri di dekatnya. "Gantari manjat pagar?"
Utami mengangguk kuat. "Iya, Pak. Waktu saya keluar mau manggil Gantari, dia lagi manjat pagar. Habis itu, Gantari jatuh." Utami diam sejenak seolah menimbang, lalu melanjutkan, "Bukannya dia lagi hamil, tapi kenapa malah ... berbuat ceroboh begitu."
Helaan napas kasar kembali Nevan embuskan. Ia tak lagi mau bertanya. Pikirannya kacau, hatinya hancur, hidupnya seketika berantakan.
Gantari sudah sadar dan perawat memperbolehkan satu orang saja untuk membesuk. Tom dan sang istri memilih pamit pulang dan mendoakan Gantari melalui Nevan. Sedangan, Utami memilih tetap menunggu di luar.
Gantari merasa tubuhnya remuk, padahal hanya siku saja yang lecet dan kepala bagian belakangnya yang terasa sedikit nyeri. Harusnya itu bukan alasan untuk membuatnya banjir air mata begini, kan?
"Dion?"
Nevan yang dari tadi menunduk di sampingnya hanya bergumam, tanpa mau memandangnya. Kedua tangannya bertaut seolah sedang menahan sesuatu.
Nevan akhirnya menoleh, mencoba membalas tatapan Gantari susah payah. Ia tahu Gantari sedang menangis. Ia tahu Gantari butuh kata-kata menghibur darinya, tapi hatinya sendiri juga sedang hancur. Ia tidak bisa menjaga hati orang lain, jika hatinya sendiri saja sedang tidak karuan.
"Kamu kenapa diam aja?"
"Terus aku harus gimana?" Nevan menghela napasnya dalam, entah untuk keberapa kalinya hari ini.
Gantari menatap Nevan tidak percaya. Air matanya kembali mengalir deras dalam diam.
...****************...
__ADS_1
Ada hal yang meski kita tahu, tapi tetap tidak ingin mau mengerti. Ada hal yang meski kita mengerti, tapi tetap tidak mau kita terima.
"Kamu lembur lagi?"
Nevan yang baru pulang kerja malam ini, menoleh. Ia tidak sadar kalau Gantari menunggunya di sofa depan televisi.
"Banyak kerjaan."
Nevan akan melanjutkan langkahnya menuju kamar, tapi Gantari langsung berdiri dari duduknya dengan kasar.
"Jangan hukum aku kayak gini terus, Dion!" teriak Gantari tidak tahan. Ya, semenjak Insiden di Surabaya hubungan mereka jadi renggang. Nevan jarang mengajaknya bicara dan hanya menjawab pertanyaan Gantari seperlunya saja.
"Aku capek, Dihyan."
"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan kamu diemin aku?"
Nevan membalikkan tubuhnya cepat, memandang Gantari tajam. "Sampai aku mengerti dengan tindakanmu!"
Gantari tertegun. Ada goresan yang menyayat hatinya dan itu dalam sekali. "Kenapa kamu nggak nanya alasannya?"
"Buat apa? Kalau aku tau, apa anakku bakal hidup lagi?" Nevan menarik napas, lalu mengembuskannya secara kasar. "Dari awal kamu memang nggak mengharapkan dia, kan?"
Perlahan air mata Gantari menetes. Ia menatap Nevan tanpa berkedip. Namun, Nevan seolah tidak peduli. Suaminya itu justru membalikkan badannya dan melanjutkan langkah menuju kamar.
__ADS_1
Ada hal yang meski aku tahu, tapi aku tetap tidak ingin mau mengerti. Ada hal yang meski aku mengerti, tapi tetap aku tidak mau terima.