
Hari ini ketika pekerjaan di kantor tidak terlalu padat, Nevan memutuskan untuk makan siang di rumah. Dia juga sudah membawa dua porsi nasi panggang tuna mozarella kesukaan Gantari.
Satu untuk Gantari dan satu lagi untuk Bi Murni. Asisten rumah tangganya itu sama sukanya dengan nasi panggang tuna mozarella. Sedangkan, Nevan tidak begitu suka dengan makanan bercita rasa keju.
Ia meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja makan, lantas menyapa Bi Murni yang sedang mencuci perabotan masak.
"Gantari udah makan, Bi?"
Bi Murni yang kadar fokusnya luar biasa tampak terlonjak kaget. Ia memegang dadanya dulu dramatis, baru kemudian menjawab, "Belum, Mas. Mbak Gantari lagi tidur."
"Kalau gitu, tolong siapkan itu, ya, Bi." Nevan mengedikkan dagunya ke arah meja makan, lalu melanjutkan, "Satu porsi buat Bi Murni."
Wajah Bi Murni berubah sumringah setelah mengintip bungkusan yang ditunjuk Nevan. Tidak semua pembantu mendapatkan perlakuan sebaik ini dan dia termasuk yang beruntung.
Baginya, Nevan dan Gantari bukan hanya majikan, tapi sudah ia anggap seperti anak sendiri. Bi Murni bergegas menjalankan instruksi Nevan, setelah Tuan Mudanya itu beranjak menuju kamar.
Tidak lupa, ia memanggil Virna; asisten rumah tangga baru Nevan, yang baru saja selesai membuang sampah untuk melanjutkan mencuci piring. Virna masih muda. Usianya masih 20 tahunan awal dan tugasnya adalah membantu Bi Murni agar tidak terlalu kerepotan.
***
Hal pertama yang didapati Nevan ketika membuka pintu kamar adalah Gantari yang sedang berbaring dengan tangan memeluk bantal. Sedangkan, kepalanya justru ditopang dengan guling. Sebuah kebiasaan unik Gantari jika tidur siang.
Pernah suatu kali Nevan bertanya dan jawabannya adalah ....
"Supaya aku bisa ngebedain tidur siang sama tidur malam."
Nevan mengulum senyum, lantas pelan-pelan duduk di tepi ranjang. Temperatur udara di kamar cukup dingin, hingga membuat selimut dan sprei terasa sejuk karena belakangan Gantari kerap kali merasa kepanasan.
Ia mengulurkan tangannya dan mengusap pelan rambut Gantari. Terkadang, ia merasa bersalah setiap kali melihat Gantari yang mudah kelelahan dan susah tidur.
Meski, Gantari tidak pernah mengeluh, tapi Nevan tahu pasti jika mengandung bukanlah perkara mudah. Ia mengecup kening Gantari dalam, lalu membisikkan terima kasih padanya, hingga membuat Gantari pelan-pelan membuka mata.
Nevan menegakkan tubuhnya, lalu tersenyum. "Makan dulu, Sayang."
"Mas, kok pulang?"
"Lagi nggak ada kerjaan, tapi nanti balik lagi. Mas bawa nasi panggang tuna, tuh."
Mendengar nama makanan itu disebut, Gantari langsung bangkit susah payah. Hingga, membuat Nevan merasa ngilu.
"Mana?"
"Itu udah disiapin Bi Murni di meja makan."
"Ayo!"
__ADS_1
Gantari beringsut turun dari tempat tidur, lantas menarik tangan Nevan agar mengikutinya keluar kamar. Matanya berbinar ketika melihat makanan kesukaannya itu sudah tersaji di atas meja makan. Bi Murni yang sedang menuangkan minum, ikut tersenyum.
"Kalau pengen sesuatu bilang, Dihyan." Nevan menarikkan kursi untuk Gantari, lantas ikut duduk di sampingnya.
"Tadinya nggak pengen, kok. Beneran, deh. Tapi gara-gara kamu bawain, jadi pengen."
Nevan mendengkus pelan. Selama masa kehamilannya, Gantari belum pernah meminta sesuatu pada Nevan. Padahal, Nevan ingin Gantari mengalami fase ngidam dan merepotkan dirinya dengan keinginan yang tidak masuk akal.
Gantari yang sudah tenggelam dengan nasi panggang tuna-nya tidak terlalu ambil pusing dengan dengkusan Nevan tersebut. Ia menikmati makan siangnya dengan begitu lahap, hingga sesuatu mengganggu perhatiannya. Ia melihat Virna menyiapkan piring dan menyendokkan nasi untuk suaminya.
Gantari meletakkan sendoknya, lalu menatap asisten rumah tangga barunya itu tajam. "Itu pekerjaanku, bukan pekerjaanmu."
Pergerakan Virna terhenti. Ia menoleh, menatap Gantari kaget. "Maaf, Bu. Saya cuma bantu, soalnya Ibu kan lagi makan."
Gantari bangkit, lalu menggeser piring yang sudah disiapkan Virna agar menjauh dari Nevan. Bi Murni yang sudah beralih membuat susu untuk Gantari, segera mendekat.
"Bi Murni nggak bilang sama dia?"
"Sudah, Mbak, tapi Nanti biar Bibi bilangin lagi."
Nevan memegang tangan Gantari mencoba menengahi. "Udah, Dihyan. Ayo, kita makan lagi."
Gantari mengatur napasnya, lalu berujar dingin pada Virna, "Kamu ke kamar, deh."
Untuk yang satu ini Bi Murni setuju. Dia sudah pernah menegur Virna, tapi wanita itu berkelit dengan mengatakan jika bajunya itu sudah sopan.
Tubuh Virna menegang. Wajahnya tampak merah ketika melanjutkan langkah menuju kamar. Sedangkan, Gantari langsung membalikkan tubuhnya menghadap Nevan. Kemudian, bicara dengan nada tegas, "Kalau aku nggak boleh masak nggak masalah, tapi jangan ada yang berani melayani kamu makan selain aku."
Nevan mengangguk, lalu tersenyum lembut. "Kamu cemburu?"
"Siaga satu."
***
Rupanya Virna masih kesal dengan teguran Gantari tersebut. Seharian wajahnya cemberut saja, hingga Bi Murni mau tidak mau menegurnya.
"Kita ini di sini cuma pembantu, jadi harus tau diri. Pasang wajah yang enak dilihat kenapa, Vir."
"Emang kenapa? Emang cuma nyonya-nyonya aja yang boleh cemberut?" Virna langsung ngeluyur pergi, hingga Bi Murni mengurut dadanya sendiri.
"Takut banget sama pelakor. Kalau galak gitu bisa-bisa suaminya beneran direbut orang," sungut Virna sambil mengangkat jemuran.
***
Kini, Nevan lebih banyak memilih menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Pekerjaan yang bisa ia lakukan dari rumah akan ia kerjakan di rumah.
__ADS_1
Seperti malam ini. Nevan menyelinap keluar kamar setelah memastikan Gantari terlelap, lalu menuju ruang kerja. Namun, karena matanya terasa sedikit berat, jadi ia putuskan untuk membuat kopi hitam dulu.
Nevan berbelok ke pantry, lalu mengambil sebuah mug dan memasukkan beberapa sendok kopi dan gula ke dalamnya. Ia sudah akan menyeduhnya dengan air panas ketika seseorang mencegahnya.
"Kenapa nggak panggil Virna aja, Pak?" Virna merebut mug di tangan Nevan, lalu melanjutkan, "Kopi buatan Virna enak, kok."
Nevan bergeming. Ia membiarkan Virna menyeduh kopinya dengan air panas. Bahkan, ia memperhatikan cara Virna mengaduk kopi. Wanita itu tampak terus saja mengulum senyum.
"Virna jadi nggak enak, ah. Masa Bapak sendiri yang buat kopi."
"Saya pernah jadi kuli bangunan, kalau kamu belum tau."
Gerakan tangan Virna terhenti, lalu menatap Nevan bingung.
"Sepertinya Gantari salah melarangmu memakai baju model begitu."
Wajah Virna memerah. Ia menundukkan kepalanya, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan senyum malu-malu.
"Harusnya, Gantari juga melarangmu pakai rok kurang bahan begitu."
Pudar sudah senyum di bibir Virna. Ia mengangkat wajahnya, lalu menatap Nevan.
"Harusnya, Gantari juga melarangmu bicara seperti bebek."
Wajah Virna memucat. Ia menundukkan kepalanya lagi, lalu meremas kuat jemarinya sendiri.
"Malam ini kemasi pakaianmu dan jangan sampai besok pagi Gantari melihatmu. Kalau kamu nggak mau tanganmu dipatahkan karena udah berani mengaduk kopi untuk saya," ujar Nevan dingin. Kemudian, meraih mug berisi kopi tadi dan meletakkannya ke dalam wastafel.
***
Nevan yang sedang memanfaatkan akhir pekannya dengan menyiram tanaman pagi ini, dikejutkan oleh kedatangan Gantari yang tergesa-gesa dari balik pintu. Istrinya itu tampak terburu-buru sekali.
"Mas!"
"Hm?"
"Virna kabur! Kata Bi Murni bajunya nggak ada di lemari."
Nevan memutar kran slang air, lalu memandang Gantari usil. "Kamu, sih, galak."
"Dih! Kok, aku?"
***
Nggak ada catatan Jika Laudia. Nggak usah dicariin 😒
__ADS_1