Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Empat Puluh


__ADS_3

Angkasa keluar kafe dengan dada yang bergemuruh. Rahangnya semakin mengeras ketika Leo bertanya ramah padanya, "Kemana lagi sekarang kita, Pak Ang?"


Tatapan tajam langsung ia hujamkan pada asisten pribadinya itu, lantas ia bergerak cepat mendekati Leo dan mencekik lehernya kuat, hingga membuat Leo beringsut mundur dan punggungnya membentur keras badan mobil.


"Aku tidak suka mendengar nada suaramu," tukasnya tajam.


Leo yang sudah kesulitan bernapas berusaha mengangguk dan mengucapkan kata maaf susah payah.


Angkasa tidak langsung melepaskan cengkramannya. Ia masih menikmati wajah dan leher Leo yang memerah. Baru setelah Leo tampak lemas ia melepaskan tanganya, hingga Leo terjatuh dan terduduk di paving blok.


Leo terbatuk-batuk, mencoba melancarkan kembali pasokan oksigen ke otaknya. Kemudian ia tampak susah payah mengatur napas, hingga Angkasa ikut berjongkok, lalu berujar nyaris seperti berbisik, "Gantari Dihyan Irawan sampai hari ini belum bekerja padaku."


Leo merasakan tubuhnya menggigil. Ia memang belum berhasil melaksanakan perintah Angkasa yang satu itu. Dengan sekali sentakan Angkasa mengambil kunci mobil dari genggaman Leo, lantas ia kembali berdiri.


"Jangan berani-beraninya menemuiku sampai kau buktikan omong kosongmu kemarin," ucap Angkasa, lalu ia masuk dan membanting pintu. Kemudian, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Leo yang masih terhenyak di pelataran parkir.


***


Nevan kembali lagi ke kantor. Pikirannya masih melayang pada Angkasa. Si Mafia abal-abal itu pasti kembali merencanakan sesuatu. Maka, Nevan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Gantari.


Bukan Gantari namanya kalau tidak membuat Nevan kesal karena Gantari tidak menjawab panggilannya lagi dan lagi.


Rupanya Gantari sedang sibuk dengan sepeda motor barunya. Ia cengengesan melihat sepeda motor matic warna merah yang terparkir di teras rumahnya.


"Pantes!"


Gantari terlonjak kaget, lantas melotot pada Nevan.


"Aku khawatir setengah mati dan kamu malah cengengesan disini," sungutnya.


Sepertinya Nevan memang langsung tancap gas ketika Gantari tak juga menjawab telepon.


Gantari tampak tak peduli. Dia masih sibuk memandang Retic, nama sepeda motor barunya, dari segala sisi.


"Aku bisa menjaga diri," balas Gantari akhirnya, karena ia tahu Nevan sedang menghujamnya dengan tatapan siap membunuh.


"Jangan dekat-dekat dengan Angkasa, aku serius," ucap Nevan pelan.


Gantari mengangguk, lalu menatap Nevan hangat.


"Mau berkeliling sebentar?" tawarnya.


Nevan menghela napas putus asa. Wanita di depannya ini memang keras kepala, tapi ia cinta.


"Boleh, tapi jangan salahkan aku kalau kamu bernostalgia."


Ucapan Nevan barusan sontak membuat Gantari melotot tak percaya.


"Ya, udah nggak usah," sungut Gantari, lantas ia mengambil helm dan memakainya.


"Bercanda, Sayang."


Akhirnya mereka mengelilingi kota dalam diam. Tidak ada yang bicara karena memang keduanya kembali terjebak dalam nostalgia. Diam-diam Gantari meneteskan air matanya. Dulu ini adalah cita-cita mereka dan hari ini keinginan itu terwujud entah sementara atau selamanya.

__ADS_1


Gedung-gedung tinggi pencakar langit mulai pamer kerlip lampu. Sejak matahari masih betah bersinar dan kini memilih untuk menundukkan pandangan, mereka masih asik melaju membelah jalan raya.


Singgah sebentar di masjid menunaikan kewajiban, lantas meluncur lagi.


"Ayo pulang," ajak Gantari.


Nevan menggeleng. "Ayo ke taman kota. Lihat air pancur," balas Nevan norak.


Di persimpangan jalan tampak beberapa polisi berdiri dengan rompi hijau stabilo-nya yang sontak membuat Nevan menghentikan laju kendaraannya.


"Kenapa?" tanya Gantari bingung.


"Aku nggak punya SIM C," jawab Nevan linglung.


Gantari langsung memukul punggung Nevan gemas. "Kenapa nggak bilang dari tadi?"


"Ya, udah. Ayo tukeran."


Beruntung jalan tak terlalu ramai. Jadi, mereka ngobrol di pinggir jalan begini tidak ada yang memaki.


"Aku juga nggak punya. Makanya aku ngajak kamu," balas Gantari sebal.


Nevan melotot. Kemudian, ia menoleh ke belakang demi bisa mendelik pada Gantari.


"Kamu bisa beli motor, tapi nggak ngurus SIM?" tanya Nevan tak percaya.


"SIM bukan syarat beli motor, kalau kamu belum tau," sungut Gantari.


Akhirnya salah satu petugas berseragam itu risih dan melambaikan tangan mengintruksikan Nevan dan Gantari untuk mendekat. Membuat sepasang manusia itu saling bergumam melempar kesalahan.


***


Gara-gara kejadian semalam pagi ini Gantari bertekad untuk mengurus SIM C. Pagi-pagi dia sudah bersiap pergi dengan gaya casual seperti biasa. Ia mengelus sepeda motornya sebelum keluar dari rumah.


"Sabar, ya, Retic. Aku buat SIM dulu, nanti baru kita tak terpisahkan," ucap Gantari, lantas membuka pintu dan keluar rumah.


"Selamat pagi, Nona Gantari."


Gantari terlonjak, lalu menoleh dan mendapati seorang pemuda yang tidak ia kenal.


Menyadari kebingungan Gantari, Leo buru-buru menjelaskan, "Saya Leo asisten Pak Ang."


Tebak Gantari, Pak Ang yang dimaksud ialah Angkasa, makanya ia memutar bola mata.


"Tolong saya, Nona," ucap Leo lagi. Ia maju selangkah, lalu dengan panik berkata, "Kalau saya gagal membawa Nona berkerja di sana, saya bisa habis."


Hampir saja, Gantari terbahak. Jadi, itu maksud dan tujuan asisten Angkasa ini.


"Makanya keluar dari sana dan cari kerjaan halal," balas Gantari, lantas ia berjalan meninggalkan Leo.


Itu bukan kali pertama Leo muncul di rumah, Gantari karena hampir setiap hari ia buka lapak di depan rumah Gantari.


Kalau dipikir-pikir, selama dia pindah ke rumah ini, sudah dua kali ia diteror dengan disatroni laki-laki pagi-pagi, yang pertama Nevan. Haha.

__ADS_1


"Saya benar-benar nggak bisa bekerja kalau belum berhasil," ucap Leo memelas.


Gantari menghela napasnya malas di atas Retic. Ini adalah hari pertama dia kencan dengan si Retic, namun sudah di ganggu oleh Leo ini.


"Aku pikirkan sambil jalan-jalan dulu, ya," balas Gantari, lalu menyetater motornya.


Leo menggaruk rambutnya putus asa. "Jangan lama-lama ya, Nona."


Entah kenapa Gantari tersenyum geli melihat Leo. Laki-laki di depannya ini polos sekali. Ia ingat kejadian kemarin sore ketika mendadak hujan turun dan Leo ikut berlari ke jemuran untuk membantu Gantari mengangkat pakaian, membuat Gantari melemparnya dengan keranjang.


Gila aja perkakasnya di angkat makhluk asing.


Sebenarnya pagi ini Gantari pergi ke pemakaman sang ibu. Semalam ia mendadak merindukannya, maka pagi ini Gantari langsung berkunjung. Meski Gantari tahu, dimana saja doa dapat disampaikan.


Tangan Leo gemetar melihat nama Angkasa terpampang di layar ponsel. Namun, akhirnya ia jawab juga.


"Pak Ang?"


"Ini hari terakhirmu. Kalau tidak selama kau tidak akan hidup tenang."


Sambungan terputus.


Leo panik. Ia mondar-mandir di teras rumah Gantari, lalu memutuskan berjalan keluar gang. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Gantari, namun tidak juga ditemukan.


Ya, Tuhan.


Mungkin satu jam Leo berdiri di sana. Mencari-cari Gantari dengan matanya, hingga seseorang dengan sepeda motor merah samar-samar muncul dari arah Selatan.


Leo sontak mengucap syukur. Ia sedikit berlari menyongsong sepeda motor itu, bahkan nekad menghadangnya dengan tubuhnya sendiri.


Gantari panik. Ia terkejut dengan ulah gila Leo sampai dia lupa cara mengerem.


"Awas! AAAAAAAA!"


Dug!


Leo terdorong dan kepalanya membentur tembok gang, hingga bocor, sedangkan Gantari hanya oleng saja, namun tidak ikut terjatuh. Ia berhenti dan menurunkan standar motornya, lalu berlari menghampiri Leo.


"Darah," ucap Gantari panik.


Leo menggeleng. "Ayo, Non. Kerja di Angkasa sekarang."


Gantari menganga, tidak habis pikir dengan yang baru saja di dengarnya. Beberapa orang di sekitar ikut berlari dan menanyakan keadaan Leo dan lagi-lagi Leo menggeleng.


"Saya nggak apa-apa," ucap Leo berkali-kali, lalu menatap Gantari lagi, memohon.


"Ayo ke klinik."


"Nggak perlu, Non."


"Ke klinik sekarang! Kalau nggak, aku nggak mau bekerja di Angkasa gila."


"Baik."

__ADS_1


__ADS_2