Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Delapan Puluh Delapan


__ADS_3

Gantari menautkan alisnya ketika merasakan pandangannya berputar saat ia baru saja mencoba membuka mata. Perlahan ia berusaha menggeser tubuhnya agar bisa bersandar di kepala ranjang. Untunglah, pening di kepalanya mulai reda, meski denyutnya masih terasa.


Seketika pandangannya menyisir seluruh isi kamar. Kamar yang begitu luas dengan furniture serba mewah dengan dominasi warna gold, tapi kamar siapa?


Dia di mana?


Gantari memasang tampang waspada ketika sekelebat ingatan terakhirnya tentang sesosok pria berbaju hitam. Ia hendak bangkit dari duduknya dan akan beringsut turun dari ranjang ketika tiba-tiba pintu terbuka tanpa decitan.


Pintu ukir yang lagi-lagi terkesan mewah itu perlahan terbuka lebar dan menghadirkan sesosok pria berbadan tegap yang melangkah masuk. Di belakangnya berdiri pula seorang laki-laki berkaus hitam ketat yang seolah menjaga kendali agar selalu berdiri tepat di belakang si laki-laki pertama.


Gantari mencoba menajamkan mata dan ingatannya. Sekuat apapun ia berusaha, Gantari tetap tidak ingat.


"Siapa Anda?" tanya Gantari waspada. Sekarang dia sudah benar-benar berhasil menurunkan kedua kakinya dari ranjang, namun belum sanggup untuk berdiri. Entah mengapa lututnya terasa lemas begitu juga dengan kerongkongannya yang terasa kering.


Wajah laki-laki yang melangkah semakin dekat dan berhenti tepat di hadapan Gantari mulai terlihat jelas. Kumis tipis yang menjalar di atas bibirnya menambah kesan arogan. Meski tidak lagi terlihat muda, namun tubuh laki-laki berkulit sawo matang itu begitu berotot.


"Kamu sudah sadar?"


Gantari mengerutkan dahinya samar. Aksen laki-laki yang sudah menampakkan uban di kepalanya itu terdengar begitu khas.


"Anda siapa?" ulang Gantari. Dia masih mencoba mengumpulkan tenaga untuk berdiri dan sejujurnya dia juga butuh minum. Tenggorokan mulai terasa pedih dan itu membuatnya tercekik setiap kali ia mencoba bicara.


"Akan aku jawab, tapi hubungi dulu dia. Aku takut dia melakukan hal macam-macam," ujar si laki-laki beruban. Kemudian, ia mengedikkan dagunya dan laki-laki muda yang dari tadi setia berdiri di belakangnya mulai maju dan mengulurkan ponsel pada Gantari dengan sopan, lantas kembali mengambil posisi di belakang sang laki-laki arogan.


Meski tampak bingung, namun Gantari tetap meraih ponsel itu. Ponsel miliknya sendiri.


"Siapa?" tanya Gantari. Tatapan mata Gantari yang tajam mulai menunjukkan atensinya dan entah mengapa laki-laki di hadapannya itu justru tertawa hambar.


"Itu bukan sorot mata ibumu, berarti tatapan itu milik ayahmu, Awan."


Gantari sudah bersiap untuk mencerca dengan pertanyaan, namun keburu di sela. "Hubungi dulu Nevandra Ardiona dan pastikan dia nggak berbuat macam-macam. Baru akan aku jelaskan semuanya padamu."


Pikiran Gantari berkecamuk. Ada segunung pertanyaan dan rasa penasaran yang menggelayut di benaknya. Maka, tanpa ragu lagi, ia mulai menghubungi Nevan sesuai instruksi.


Sekilas Gantari melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan angka 23.03 WIB. Di waktu selarut ini, ia justru berada di tempat asing yang ia sendiri tidak bisa menjamin keamanan dirinya sendiri.

__ADS_1


Panggilan terhubung.


"Dihyan?"


Gantari merapatkan bibirnya sejenak. Keyakinannya tadi seketika goyah. Sekarang, ia ingin mengadu dan menceritakan semua hal yang dialaminya pada Nevan.


Dua laki-laki di hadapannya, menatap Gantari instens, membuat Gantari tidak punya pilihan untuk berubah haluan.


"Dion, ada hal yang harus aku selesaikan. Kamu nggak usah khawatir. Aku baik-baik aja."


"Kamu dimana?" tanya Nevan cepat. Gantari merasakan nada khawatir begitu ketara di suara Nevan, membuat hatinya risau.


"Nanti aku ceritakan. Aku tutup dulu, ya," balas Gantari, lantas memutuskan sambungan begitu saja. Karena, jika bicara lebih lama, Gantari yakin ia tidak akan tahan untuk tidak mengadu pada Nevan.


"Sudah," lapor Gantari. Tatapan sendunya sontak menajam ketika pandangannya beralih pada laki-laki uban.


Si laki-laki justru kembali tertawa. Kali ini terdengar lebih renyah. "Kamu galak, ya? nggak kayak Bulan."


"Anda siapa?" tanya Gantari tajam. Akhirnya, ia berhasil berdiri juga. Menyejajarkan tubuhnya dengan si lawan bicara yang tampak mulai tertarik.


***


Angkasa mengantar Shanessa pulang dengan tersungut-sungut. Gadis itu duduk di kursi belakang, sedangkan Leo duduk di samping Angkasa yang sedang menyetir dengan wajah sebal.


"Ikhlas, Pak Ang. Ikhlas," ujar Leo dengan senyum manisnya.


Ucapan Leo tersebut hanya dibalas Angkasa dengan delikan tajam. Rencananya untuk menemui Gantari gagal total. Pada hal ini saat-saat terbaik untuk menggoyahkan hati Gantari andai dua cecunguk ini tidak mengingatkannya tentang pertemuan bisnis.


Angkasa melirikannya matanya ke spion dalam dan mendapati Shanessa yang terlihat begitu fokus dengan ponselnya.


Pantas saja nggak ikut nyerocos, pikir Angkasa.


"Ada gosip apa?" tanya Angkasa. Matanya sesekali masih melirik ke arah spion dalam dan ia dapat menangkap reaksi terkejut Shanessa dari efek pertanyaannya barusan. Sontak saja senyum tipis tercetak di bibir Angkasa.


Leo yang juga mendengarnya, langsung menoleh kebelakang. Sekadar memastikan apa yang sedang Shanessa lakukan.

__ADS_1


Shanessa memang terkejut oleh pertanyaan Angkasa tersebut. Ia bahkan langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas, lantas menggeleng dengan pandangan tidak fokus. "Nggak ada apa-apa," jawabnya nyaris bergumam.


Angkasa makin memperjelas senyumnya. Kini bahkan nyaris seperti sebuah seringai licik.


"Mau mencoba lagi?" lanjut Angkasa, membuat Shanessa membalas tatapannya lewat kaca spion dengan kening berkerut. "Selagi ada jalan."


***


"Tjokorda Wiratha. Aku putra orang yang kamu cari. Jika menurut silsilah, aku ini ... pamanmu."


Gantari terperngah. Sejenak ia tidak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu dan otaknya terlalu kusut untuk bisa merangkai sebuah kesimpulan.


"Ma-maksud Anda?"


"Andai kakakku itu bukan bekas perempuan penghibur, mungkin kita bisa jadi keluarga bahagia."


"Jaga ucapanmu!" sergah Gantari. Berbeda dengan Wiratha yang masih tampak santai, pemuda yang dari tadi setia berdiri di belakang Wiratha justru tampak sedikit terkejut.


"Andai Tuhan menyuruhku memilih, aku tetap akan memilih ibuku ketimbang saudara sepertimu," hardik Gantari. Dadanya naik-turun ketika mengucapkan kalimat itu. Persetan dengan sopan santun, tata krama atau apapun itu.


Bagi Gantari Dihyan Irawan, Cahaya Bulan, ibunya adalah wanita suci yang layak dihormati.


Gantari melangkah maju melewati Wiratha dan bodyguard-nya dengan wajah merah padam dan kedua orang tersebut sama sekali tidak tampak ingin menghalangi. Seolah misi sudah terpenuhi.


Hampir saja Gantari berhasil keluar pintu, namun ia memutuskan untuk kembali membalikkan badannya dengan kasar.


"Anda takut kami menjadi aib keluarga bangsawanmu? nggak usah khawatir. Aku sama sekali nggak berminat menjalin hubungan dengan kalian. Termasuk dengan Jero." Gantari memutar badannya lagi, lantas benar-benar hilang di balik pintu ukir.


***


Terima kasih untuk segalanya. Tujuanku kini sudah beralih. Melanjutkan novel ini bukan lagi demi jumlah viewers atau bahkan level, tapi demi kamu.


Kamu yang masih rajin bertanya tentang aku.


"Kapan up?" Gitu maksudnya 🙄

__ADS_1


__ADS_2