
Terkadang, menjadi satu-satunya orang yang tahu tentang kelemahanmu bisa jadi alasan untukku jatuh cinta, ketimbang selalu melihat segala kesempurnaan yang kamu tunjukkan.
***
Shanessa kembali. Dia melangkah dengan lebih percaya diri menuju meja kerjanya.
"Hai, Shaness." Fajar menyapa pertama kali dan itu langsung dapat sikutan oleh Leo.
Shanessa milikku, begitu arti tatapan Leo.
Senyum terkembang Shanessa menjadi jawaban jika saat ini dia sedang sangat bahagia.
Entah kenapa, memiliki rahasia dengan Angkasa bisa membuatnya sebahagia ini. Rahasian pertama, mereka berdua. Cie.
Shanessa mendongakkan kepala karena rupanya Leo masih berdiri di dekatnya dengan senyum-senyum tidak jelas.
"Ada apa, Pak Leo?" tanya Shanessa canggung.
Leo menggeleng, masih dengan senyum aneh yang betah bertengger di bibirnya. "Nggak apa-apa. Senang aja liat kamu kembali."
Shanessa balas tersenyum. Dia juga tahu jika salah satu alasan dia bisa kembali pasti tidak lepas dari campur tangan Leo. "Terima kasih untuk semuanya, Pak Leo."
Bunga-bunga makin bermekaran di hati Leo. Tiba-tiba musim semi terbit di hatinya, hangat dan berwarna.
"Leo, ke ruangan sekarang!"
Dan, tiba-tiba angin datang. Angin yang bertiup kencang dan merontokkan bunga-bunga yang baru bermekaran di hati Leo itu bernama Angkasa.
Tapi apa mau dikata, Leo akhirnya mengikuti perintah atasan dengan kepala tertunduk setelah melempar senyum untuk terakhir kalinya pada Shanessa.
***
Tidak hanya hati gelisah, hati yang kepalang bahagia juga bisa mengakibatkan susah tidur. Buktinya, Nevan. Semalam dia susah tidur lantaran bibirnya ingin melengkung terus dan dadanya selalu terasa geli karena seperti ada gelitik di sana. Kemudian, lihatlah pagi ini dia bangun pagi-pagi sekali tanpa bantuan alarm. Rasanya tidur menjadi hal yang membuang-buang waktu.
Fikri yang sedang duduk di kursi teras sembari memakai kaus kaki, langsung celingak-celinguk ketika melihat sebuah mobil Ferrari hitam berhenti tepat di depan rumahnya.
Matanya menyipit, lalu kemudian langsung melebar ketika melihat sosok berkaca mata hitam keluar dari sana.
"Pak Nevan?"
Nevan membuka kaca matanya, lantas melempar kunci mobilnya pada Fikri yang dengan sigap menangkapnya.
"Pinjam motor," ucap Nevan, lalu duduk di samping Fikri.
"Motor?" tanya Fikri masih bingung.
Nevan mengangguk, lalu mengedikkan dagunya ke arah motor gede hitam yang sedang terparkir dengan gagah di luar garasi. Dia menyesal karena selama ini tidak pernah terpikir olehnya untuk membeli sepeda motor.
Fikri yang melihat arah yang ditunjukkan Nevan langsung melotot.
__ADS_1
"Nggak!" jawabnya cepat. "Itu motor kesayangan gue. Gue cicil sampai tiga tahun."
"Aman. Pasti aman. Kalau kenapa-kenapa kan loe megang mobil gue."
Fikri menunduk, melihat kunci mobil di tangannya. Haruskah dia mendoakan agar motor gedenya itu lecet, agar Ferarri milik Nevan jatuh ke tangannya?
"Kerjaan loe?"
"Udah gue beresin. Hari ini cuma ada pertemuan sama Bu Wilona. Loe wakilin, deh."
"Gila, loe! Dia kan galak. Cuma sama loe aja baiknya."
"Sebenarnya dia itu cuma butuh kasih sayang. Nah, loe kasih, deh tu."
Fikri melotot, lalu menendang kaki Nevan kesal. Kalau di kantor dia tidak akan berani melakukan itu, tapi ini di rumahnya dan dia yang jadi raja.
"Udah, ya. Gue mau jemput pemilik hati dulu."
Firki langsung membuat gerakan pura-pura muntah, saking mualnya mendengar Nevan ngebucin sepagi ini.
Tanpa mempedulikan Fikri lagi, Nevan sudah meluncur dengan motor gede milik Fikri plus jaket kulit berwarna hitam yang sengaja dibawanya dari rumah. Sedangkan, Fikri hanya bisa diam menatapnya dan sesekali mendecak kagum karena kenapa Nevan bisa sekeren itu ketika mengendarai motor gedenya, namun kenapa ketika dia yang memakainya tampak biasa-biasa saja.
Nasib.
Fikri memutar tubuhnya, lalu tersenyum lebar. Kapan lagi dia bisa bergaya ke kantor pakai mobil mahal.
***
Sambil mengucek mata, Gantari melirik ke arah halaman, di sana sudah terparkir sepeda motor gede berwarna hitam entah milik siapa.
"Apa lagi sekarang, Dion?" Gantari mendesah frustrasi menatap Nevan yang tumben-tumbenannya memakai jaket kulit hitam dengan menenteng dua buah helm.
"Ayo, cepat mandi. Kita jalan-jalan," titah Nevan sambil nyengir.
Gantari menatap Nevan bingung. Seingatnya, ini bukan weekend.
"Ini hari kerja." Gantari mengingatkan. Ia menyipitkan matanya, lalu melanjutkan, "Kamu bolos?"
"Aku bos. Lagian, nggak ada kata bolos di dunia kerja," sungut Nevan sebal.
"Sama aja. Udah mangkir kerja, bos pula," protes Gantari.
"Lagian hari ini nggak ada kerjaan, Dihyan."
"Kok bisa? Kamu bangkrut?"
Nevan tertawa hambar, lalu menyipitkan matanya pada Gantari. "Tenang. Aku masih bisa menanggung biaya hidupmu dan anak cucu kita kelak."
Wajah Gantari langsung memerah. Bisa-bisanya Nsvan membahas tentang anak sepagi ini.
__ADS_1
"Cepat mandi. Aku tunggu tanpa penolakan."
Inilah kadang yang membuat Gantari sebal. Nevan itu tukang maksa, tapi dia sayang.
Uhuy!
***
Beda Shanessa, beda pula Angkasa. Jika Shanessa tampak malu-malu merona setiap bertatapan dengan Angkasa, namun si pemuda tampak biasa-biasa saja.
"Kenapa menunduk? Kalau aku bicara ditatap. Begitu etikanya."
Ceile, Angkasa ngomongin etika.
"Eh, i-ya, Pak," balas Shanessa gelagapan.
"Kamu gagap, ya?"
Astaga. Shanessa langsung tidak bisa berkata-kata. Beruntung ada Leo yang siap sedia menjadi pembela.
"Ini pengalaman pertamanya bekerja, Pak Ang. Jadi, maklum saja."
"Tapi, ini bukan pertama kalinya dia bicara, kan?"
Amblas sudah rasa Shanessa. Sepertinya dia harus mengkaji ulang perasaannya pada Angkasa.
"Tidak, Pak. Maaf. Saya akan lebih profesional lagi," balas Shanessa tegas.
"Bagus."
Bagus apanya? Shanessa mendelik tajam pada Angkasa, namun buru-buru kembali menunduk ketika Angkasa menoleh padanya.
Hadeh.
***
Bang Nevan : Kemana aja?
Jika : Cie, nyariin.
Bang Nevan : Jangan sengaja hilang biar dicari. Kamu bukan sinyal, Jika.
Jika : Jika nggak sengaja ngilang, Bang. Jika emang sibuk.
Bang Nevan : Sibuk apa? Jangan capek-capek, ya, Dek. Jaga kesehatan.
Jika : Aduh, Bang. Jika meleleh nih. Peluk dulu coba.
Bang Nevan : Eh, Dihyan!
__ADS_1
Jika : Kabooooorrrr