
"Ngapain kalian di kamar?"
"Astaga!" Nevan terperanjat ketika baru saja melangkah keluar kamar, lantas memegang dadanya dengan tampang nyolot.
"Papa ngapain?" sungutnya.
"Mastiin kalian nggak berbuat macam-macam," jawab Fauzan enteng, lantas beranjak dari sana dan menuruni tangga dengan tampak polos.
Nevan hanya memperhatikan kepergian sang ayah sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sekarang Gantari tahu sikap konyol Nevan menurun dari siapa.
"Papa udah pulang dari tadi?"
Nevan memilih duduk di seberang Fauzan dan memberi kode pada Gantari agar duduk di sampingnya setelah Gantari selesai mencium tangan Fauzan.
Hubungan Gantari dan Fauzan memang cukup baik. Bahkan, ketika Tiwi menolak hadir di akad pernikahan mereka, Fauzan memutuskan untuk tetap hadir meski sejujurnya ia juga belum pernah menyatakan mendukung keputusan Nevan kala itu.
"Barusan nyampe. Tumben pulang?" tanya Fauzan tanpa basa-basi.
Nevan nyengir lebar. "Ya, jelas ada maunya."
"Selesaikan dulu gosipmu itu. Apa-apaan Papa punya dua calon mantu."
"Menantu papa cuma Dihyan. Nggak ada yang lain," tegas Nevan pura-pura sebal, lalu menarik tangan Gantari dan menggenggamnya.
"Lepas, lepas!"
Nevan mencibir, namun akhirnya ia patuh juga. Sedangkan, Gantari justru terkikik geli.
"Masalah gosip itu, menurut papa gimana?"
Fauzan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, lalu memasang tampang sok berpikir cukup lama. "Papa nggak mau mikir, ah. Kamu aja yang mikir."
"Astaghfirullah, Papa!"
Gantari ketawa lagi, hingga membuat Nevan mendelik sebal.
"Jangan-jangan papa setuju, ya, sama pernikahan bisnis?"
__ADS_1
"Kalau suka sama suka kenapa enggak. Kalau dipaksakan buat apa? Lagian perusahaan kita sedang stabil."
Inilah yang Nevan suka dari papanya, santai dan tenang. Senyum bangga bahkan tercetak di bibir Nevan.
"Kalau Dihyan? Papa suka, kan?"
"Kalau papa suka, kita mau rebutan?"
"Dih! Papa!"
"Dihyan, kalau papa masih muda, kamu pilih siapa?"
Nevan melebarkan matanya tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan sang ayah, namun kemudian dia menatap Gantari penasaran.
"Kamu pilih siapa?"
Dipandang oleh dua orang pria beda generasi itu membuat Gantari gelagapan. Ia bahkan bergumam panjang seolah pertanyaan tadi merupakan pertanyaan alogaritma masa SMA yang dadakan ditanyakan sang guru.
"Tentu saja pilih ... papa."
Merasa menang, Fauzan langsung meledakkan tawa puas.
"Tentu saja banyak perempuan yang suka. Papa ini lucu, lugu, dan bermutu," jelas Fauzan, lalu tertawa lagi.
Nevan tidak peduli dengan penjelasan penuh daya narsistik itu. Ia masih menatap Gantari tak habis pikir, sedangkan yang ditatap justru ikut terkikik geli.
Nevan membuang pandang, lantas mendengkus sebal. Namun, tanpa sengaja matanya menangkap sosok sang ibu yang diam-diam memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Aku mau ngadu sama mama dulu," lapor Nevan, lantas beranjak dari sana. Meninggalkan Fauzan dan Gantari berdua.
Fauzan menghela napasnya, mencoba menghentikan tawa. Kemudian, ia menatap Gantari dengan raut serius.
"Nevan itu pernah hancur dan saya harap kali ini kalian bisa benar-benar bahagia," ujar Fauzan sungguh-sungguh.
***
Tiwi yang melihat Nevan berjalan mendekat ke arahnya, langsung pura-pura membuka lemari pendingin untuk mencari sesuatu.
__ADS_1
"Ma?"
"Hm?"
Nevan sengaja diam, menunggu sang ibu membalas tatapannya. Baru setelah Tiwi menatapnya dengan sebuah apel merah di tangan, Nevan melanjutkan, "Mama masih belum bisa menerima Dihyan?"
Tiwi tertegun. Dia juga sama bingungnya. Sejujurnya, kini tidak ada lagi rasa benci yang tersisa untuk Gantari, namun justru itulah masalahnya.
"Mama masih belum mau merestui kami?"
"Bukan itu." Tiwi tampak gelisah. Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Nevan.
"Jadi?"
Tiwi diam lagi. Ia menggenggam apel di tangannya semakin erat.
"Sekarang apa lagi alasannya?" cecar Nevan. "Dulu karena status sosial, sekarang apa, Ma?"
"Karena dia anak Awan." Apel dalam genggaman Tiwi terjatuh dan menggelinding menajuh.
Nevan menautkan alisnya tidak mengerti. "Emang kenapa kalau Dihyan anak Om Awan?"
"Karena mamamu belum bisa melupakan cinta pertamanya."
Keduanya menoleh dan mendapati Fauzan sudah berdiri di dekat mereka dengan melambung-lambungkan apel merah di tangannya.
"Mamamu itu masih terjebak dengan cinta lamanya."
"Fauzan!"
"Benar, kan?" Fauzan berjalan semakin dekat. "Kalau lihat Dihyan, kamu jadi ingat penolakan Awan. Begitu, kan?"
Tiwi menatap suaminya sengit. Ucapan Fauzan tersebut begitu melukai hatinya, namun ia tidak bisa lagi membantah. Kerongkongan terlampau perih dan air matanya terlampau kuat untuk sanggup ia bendung lagi. Akhirnya, Tiwi memutuskan pergi dari sana. Meninggalkan dua laki-laki yang menatap kepergiannya dengan reaksi yang berbeda.
***
Jika : Bonus, ya 👀
__ADS_1