Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Seratus Delapan


__ADS_3

Hari terasa lebih panjang tanpamu. Waktu terasa bergerak lebih lama jika tidak ada kamu.


Gantari tidak mau mengunggu lagi. Pagi ini dia sudah bersiap-siap ingin memastikan keadaan Nevan. Hatinya gelisah dan dia butuh kepastian.


Dari tadi Gantari mematut dirinya di depan cermin. Mencari cara untuk menyembunyikan perban di kepalanya. Ia tidak ingin Nevan merasa khawatir. Akhirnya ia memutuskan memakai topi baseball, meski harus menahan sedikit rasa nyeri ketika baru memakainya.


"Kamu yakin?" Darya yang memilih mengurangi aktivitasnya di kantor dan mulai mempercayakannya pada Ardiman mucul dari balik pintu.


Gantari menoleh, lalu mengangguk. "Aku khawatir pada Nevan."


Darya menghela napas, lantas mengulas senyum. Darya tahu akan percuma saja menghalangi Gantari karena kegelisahan cucunya itu sudah terlihat sejak ia membuka mata.


"Baiklah. Biar Sarif antar."


...****************...


Sarif mengendari mobil dengan begitu hati-hati karena ia yakin Gantari masih belum begitu pulih. Hal ini dapat Sarif lihat dari kaca spion dalam ketika sesekali Gantari tampak mengerutkan dahi di balik topi baseball-nya.


Sesampainya di depan rumah Nevan, Sarif dengan cekatan keluar mobil dan membukaan pintu untuk Gantari. Memastikan Gantari keluar mobil dengan keadaan baik-baik saja, baru kemudian menutup pintunya kembali.


Sarif memutuskan menunggu di dalam mobil ketika melihat pintu rumah Nevan sudah terbuka dan Gantari sudah disambut oleh seorang asisten rumah tangga.


"Mbak Gantari!" sapa Bi Murni sumringah dan dengan tak sabaran menanyakan kabar Gantari. Sebenarnya, ia juga sudah mendengar kabar kecelakaan Gantari, namun belum punya kesempatan untuk menjenguknya.


"Nevan ada, Bi?" tanya Gantari setelah menjawab pertanyaan Bi Murni dengan sabar.


Raut Bi Murni berubah sedih. Ia menatap Gantari lama, lalu berkata, "Udah dua hari Mas Nevan tidur di rumah besar."


"Rumah ... mama?"


Bi Murni mengangguk.


Untuk kedua kalinya mobil yang dikendarai Sarif melaju pelan. Kali ini tujuannya ke kediaman Fauzan Ismail. Selama perjalanan Gantari bertanya-tanya, apa yang membuat Nevan memilih kembali ke rumah itu?


Bell kedua kembali ditekan dan kali ini sang nyonya rumah yang langsung menyambut. Tiwi sedikit terkejut dengan kehadiran Gantari, namun kemudian ia segera mengusap lengan Gantari dan memintanya untuk duduk.

__ADS_1


"Kamu baru proses pemulihan, harus banyak-banyak istirahat," nasihat Tiwi dengan nada khawatir. Fauzan muncul dari dalam dan ikut memasang tampak terkejut.


"Kami baru mau menjengukmu nanti sore. Setelah menyelesaikan sedikit masalah," jelas Fauzan, lantas memilih duduk di samping sang istri.


Tiwi melirik Fauzan, seolah memberi kode agar Fauzan mengentikan ucapannya. Beruntung, Gantari tidak menyadarinya. Bahkan wanita tercinta Nevan itu tersenyum maklum.


"Aku dengar Nevan ada di sini."


Wajah Tiwi berubah pias. Meski ia sudah menduga maksud kedatangan Gantari, tapi tetap saja ia belum tahu bagaimana cara menjawabnya.


"Nevan ada di kamarnya." Fauzan yang mengambil alih untuk menjawab. Laki-laki itu memang memiliki kepribadian yang tenang.


"Boleh aku ... bertemu dengan Nevan?"


Tiwi yang duduk di samping Fauzan langsung meremas tangan suaminya. Ada raut ketakutan yang tersirat di sana.


"Jangan sekarang, Gantari."


Kening Gantari perlahan berkerut. "Kenapa?"


Gantari merasakan ada sentakan halus di hatinya. Ia menatap Fauzan dan laki-laki itu kini tampak lebih serius. Bahkan, Tiwi sudah mulai meneteskan air mata.


Psikis?


"Aku takut kejadian dulu terulang lagi. Jadi aku mohon ... biarkan Nevan menenangkan dirinya dulu, Gantari." Kali ini Tiwi yang bersuara.


Gantari makin tidak mengerti, tapi lucunya meski tidak mengerti, namun air matanya ikut menetes.


"Apa ini karena ... aku?" Bulu kuduk Gantari meremang ketika menanyakan hal itu dan lagi-lagi hatinya amblas ketika melihat kedua orang tua Nevan itu mengangguk.


"Nevan sudah punya riwayat, jadi mudah terguncang dengan alasan yang sama." Fauzan berusaha mengulas senyum, meski terlihat sekali terpaksa. "Jadi, beri dia waktu, ya."


Tidak ada lagi alasan bagi Gantari untuk tetap berada di rumah itu. Maka, meski harus kecewa karena gagal bertemu Nevan, Gantari memutuskan untuk pulang.


Di lantai dua, di dekat jendela, diam-diam Nevan memandang Gantari dari kejauhan. Dia benar-benar merindukan wanita itu, hingga dadanya terasa begitu sesak.

__ADS_1


Nevan menutup gonden jendelanya lagi dan kamar kembali gelap, namun kali ini dia tidak akan berbaring di sofa. Dia melangkahkan kakinya keluar kamar dengan jaket kulit berwarna hitam yang ia kenakan dan sebuah helm yang ia tenteng di tangan.


Nevan duduk di atas sepeda motor sport yang baru dibelinya beberapa waktu yang lalu. Kemudian, memakai helm dan memasang pengaitnya ketika Tiwi berlari menghampiri.


"Nevan!" Tiwi memegang lengan Nevan dengan air mata yang tumpah sekali lagi. "Kamu sudah janji sama mama nggak akan naik motor lagi."


Kilasan kecelakaan Nevan beberapa tahun lalu yang mengakibatkan Nevan koma masih susah Tiwi hilangkan. Tiwi selalu takut ketika melihat Nevan sudah mulai tertarik dengan sepeda motor.


Nevan membuka kaca helmnya, menatap sang ibu. "Aku akan kembali. Aku janji."


Kemudian, dengan pelan Nevan menyingkirkan tangan Tiwi dan mulai melaju dengan sepeda motornya. Dia sudah kehilangan tujuan hidupnya, jadi biarkan dia bertahan dengan caranya sendiri.


Angin yang menghempas selalu menjadi obat terbaik bagi Nevan, namun sialnya kadang ia lupa mengendalikan laju kendaraannya. Bukan lupa, tapi tak ingin.


Nevan berbelok ke sebuah gedung dan memakirkan sepeda motornya di sana. Ia menurunkan standar sepeda motornya, lantas membuka helm. Rupanya, Edo sudah menunggu Nevan di depan gedung dengan plang bertuliskan Polisi Sektor Ciracas tersebut.


Nevan berjalan mendekat dan Edo langsung mengedikkan dagunya. "Kita temui pelakunya dulu."


Tidak ada jawaban yang diberikan Nevan. Ia hanya berjalan mengikuti langkah Edo. Untuk kasus yang belum disidangkan, tersangka memang ditahan di penjara kantor polisi dan proses penjengukkan juga tidak terlalu rumit.


Tiba di depan meja informasi, Edo langsung melakukan pendaftaran dan menyebutkan beberapa identitas penting dirinya dan Nevan. Kemudian, melakukan pengeledahan sederhana.


Edo diminta untuk menitipkan ranselnya karena dilarang dibawa ke dalam ruang kunjungan. Sedangkan, Nevan yang memang tidak membawa tas memilih langsung duduk di kursi tunggu.


Tidak perlu menunggu lama karena nama tahanan langsung dipanggil dan Nevan langsung dipersilakan untuk bertemu. Nevan di bawa ke dalam sebuah ruangan kunjungan yang di sekat oleh kaca.


Seorang wanita sudah duduk di seberang sana. Wanita berwajah munggil dengan mata sembab, Mariah.


Nevan menarik kursi dan mengangkat gagang telepon, lalu menekan nomor ekstensi. Tatapan matanya begitu tajam ketika melihat Mariah yang justru tampak enggan menjawab panggilannya.


Wanita itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam, hingga Nevan mengetuk kaca di hadapannya dan mengedikkan dagu ke arah telepon yang ada di hadapan Mariah.


Mariah akhirnya mengulurkan tangan ke atas meja. Tangan kurusnya terlihat gemetar ketika akhirnya gagang telepon itu ia angkat dan diletakkan di telinga.


"Pada akhirnya sisi lemahmu yang menghancurkan hidupmu. Membusuklah disana karena itu pilihanmu!" Nevan meletakkan kembali gagang teleponnya, hingga otomatis panggilan terputus. Kemudian, ia berdiri dan menatap tajam Mariah yang kini tengah terisak. Tak lama, karena Nevan segera membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruang kunjungan.

__ADS_1


Sekarang tinggal menemui dalangnya.


__ADS_2