Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
S2: Nggak Cinta


__ADS_3

Gantari sedang merapikan selimut yang digunakan Nevan tadi malam di kamar sebelah. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat Nevan yang selalu berusaha mencoba berdamai dengannya. Namun, entah ini efek kehamilannya atau karena apa yang jelas belakangan Nevan terlihat dan terdengar menyebalkan bagi Gantari.


"Kasihan papamu, Nak," gumam Gantari, lalu ia tersenyum geli sendiri. Rasanya lucu saja bicara seperti itu.


Gantari menepuk-nepuk bantal, lalu merapikannya juga. Kemudian, ia beranjak dari sana dan melangkah keluar dari kamar. Ia sedikit terkejut ketika melihat keberadaan Bi Murni yang sudah sibuk dengan aktivitasnya seperti biasa.


"Loh, Bibi udah sehat?"


Bi Murni yang sedang menyapu segera menoleh, lantas senyum sederhana terkulum di bibirnya. "Udah mendingan, Mbak. Maklum udah tua, jadi sering sakit-sakitan."


Gantari balas tersenyum, lalu berjalan mendekati asisten rumah tangganya itu. "Ya, nggak apa-apa. Kalau sakit istirahat aja dulu, Bi. Rumah aman, kok."


Senyum kembali mengembang di bibir Gantari ketika ia teringat sesuatu yang menurutnya lucu. "Nevan yang cuci piring tadi malam, loh."


Bi Murni melebarkan matanya, lalu terkekeh pelan. "Seumur-umur, bibi belum pernah liat Mas Nevan ngerjain kerjaan rumah."


Gantari balas tertawa geli, lalu duduk di sofa yang ada di sana. Setelah meletakkan ponsel yang selalu dibawanya ke atas meja terlebih dahulu. "Besok rencananya, mau aku suruh nyuci baju, Bi."


Kali ini Bi Murni tak lagi tertawa. Ia menatap Gantari lama, lalu ikut duduk di samping wanita itu. "Mbak Gantari, hamil?"


Gantari melotot kaget. Apa lagi ketika melihat wajah Bi Murni yang sudah siap siaga menunggu jawaban.


"Pasti Nevan yang ngadu, kan?" tebak Gantari sebal, lalu mencebikkan bibirnya.


Bi Murni menggelengkan kepalanya polos. "Bukan."


"Terus?"


"Kelihatan."

__ADS_1


Gantari melotot lagi. Ia langsung menunduk, melihat perutnya yang masih datar-datar saja. Namun, pandangannya kembali teralihkan ketika Bi Murni meledakkan tawa.


"Bukan dari perut, tapi dari gerakan Mbak Gantari."


"Gerakan gimana?" tanya Gantari mulai antusias.


"Gerakan orang hamil itu beda. Jadi, ya, kelihatan."


"Beda gimana, Bi?"


Bi Murni tersenyum bingung. Tampaknya ia mulai kelabakan dengan pertanyaan Gantari. "Pokoknya beda, Mbak. Bibi juga nggak bisa jelasin bedanya gimana."


Obrolan mereka terhenti karena ponsel Gantari berdering. Pada hal jarang-jarang Gantari sesemangat ini membicarakan masalah kehamilannya. Gantari meraih ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja dan alisnya sontak bertaut ketika melihat nama Nevan terpampang di layar.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Kenapa, Dion? Ada yang ketinggalan?"


"Enggak. Hari ini aku mau ke Bogor, ya."


"Loh, kok dadakan?"


"Iya, Sayang. Survei nggak beres, jadi aku turun langsung."


"Oh, oke."


Kening Nevan berkerut, sedangkan Fikri yang berdiri di depannya memberi kode agar Nevan terus bicara. "Mungkin malam baru pulang."

__ADS_1


"Ok."


"Malemnya, malem banget, ya."


"Ok."


Nevan pasrah. Dia sudah kehilangan kata-kata untuk membuat Gantari menghawatirkan dirinya.


"Ok."


"Ok. Udah, kan?"


Terdengar pelan Nevan mendengkus. "Iya, udah. Gitu, aja?"


"Iya."


Tut!


Panggilan terputus dan Nevan langsung menendang kaki Fikri. Beruntung sang asisten cekatan melompat. Fikri sudah waspada rupanya.


"Rencana loe gagal mulu. Gantari santai-santai aja, tuh."


"Kalau gitu jawabannya cuma satu."


"Apa?"


Fikri memasang tampang berpikir. Bahkan, ia menggaruk-garuk dagunya dengan telunjuk. "Berarti Gantari emang ...."


"Apa?"

__ADS_1


"Emang nggak cinta sama loe."


"Sialan loe!"


__ADS_2