
Nevan lupa jika dia sedang harus terpaksa berpuasa. Jadi, ia kembali ke kantor setelah mengantar Gantari pulang ke rumah mereka. Uhuk!
Sejujurnya, Nevan ingin libur saja hari ini, tapi Gantari tidak setuju dan memaksanya tetap berangkat kerja. Bi Murni yang lagi-lagi mengamati mereka diam-diam tidak hentinya tersenyum geli. Sesekali mengintip dan sesekali lagi cekikikan sendiri ketika melihat Nevan dan Gantari berdebat kecil tentang perkara mangkir dari jam kerja.
"Pak Nevan dari mana saja?"
Astaga!
Baru saja sampai dan Nevan langsung disambut oleh pertanyaan bernada sinis dari Fikri.
"Seingat saya, yang atasan itu saya," sungut Nevan setelah senandungnya sontak terhenti oleh intrupsi asisten pribadinya itu.
"Atasan kalau lalai, wajib ditegur juga kali, Pak," dengkus Fikri tak mau kalah. "Lagian, lihat tuh! Udah hampir jam makan siang Bapak baru datang."
Nevan menoleh, melihat jam dinding yang ditunjuk Fikri. Untung saja suasana hati Nevan sedang baik. Jadi, ia menghela pelan napasnya mencoba sabar.
"Fikri, hari ini saya tidak ada janji. Pekerjaan saya juga nyantai hari ini. Jadi, saya bukan lalai, ya," tekan Nevan masih mencoba sabar.
"Siapa bilang?!"
Nevan melotot kaget. Sepertinya, bersabar pada Fikri adalah keputusan yang salah.
Nevan mengedarkan pandang, memastikan tidak ada karyawan lain yang terusik karena mereka memang sedang bicara di depan pintu ruang kerja Nevan. Syukurlah yang lainnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Gue jemput Gantari. Puas, lo?" bisik Nevan dengan gigi rapat.
Giliran Fikri yang melotot. Ia menatap Nevan ngeri. "Gantari pulang dan malah lo tinggalin di rumah sendirian? Parah lo, Van!"
Pintu neraka sebelah mana, ya? Nevan ingin melempar Fikri ke neraka sekarang juga!
"Gue lagi puasa makanya berangkat kerja!" sembur Nevan.
Bibir Fikri bergetar pelan dan lama kelamaan getaran itu berubah menjadi ledakkan tawa. Ia tertawa sangat keras, hingga membuat karyawan lain mulai menoleh pada mereka.
__ADS_1
"Lo bisa diem nggak?"
Tawa Fikri sontak terhenti. Bukan karena efek perintah dari Nevan, tapi karena tiba-tiba dia ingat sesuatu.
"Ngomong-ngomong, di dalam ada Bu Wilona. Dia udah nungguin lo dari tadi."
Nevan tercenung. Ia menatap pintu ruangan kerjanya yang tertutup sejenak. Kemudian, membukanya dan melangkah masuk.
Rupanya benar yang dikatakan Fikri. Di dalam ada Wilona yang sudah menunggu dan langsung berdiri ketika menyadari kedatangannya.
"Pak Nevan."
Nevan tersenyum tipis. Pertemuan terakhir dengan relasi bisnisnya itu cukup pahit untuk dikenang.
"Oh, saya tidak ingat kita ada janji."
Nevan memberi isyarat agar Wilona duduk kembali. Sedangkan, ia sendiri ikut duduk di seberangnya.
"Maaf baru bisa datang menemui Bapak sekarang."
Sebuah kernyitan tercetak di dahi Nevan. "Ada apa?"
Perlahan kepala Wilona tertunduk. Seolah sedang menyiapkan mental untuk situasi selanjutnya.
"Saya sudah mendengar kabar Bu Gantari dan saya ... sangat menyesal."
Kali ini Nevan yang siaga. Hubungannya dengan Gantari baru saja membaik. Tolong jangan ada kekacauan lagi.
"Maksud Anda?"
Wilona mengangkat kepalanya lagi dan Nevan cukup terkejut ketika melihat wajah wanita itu memerah. Seperti sedang menahan tangis. "Will ... ketakutan dan saya harus mendampingi dia dulu, hingga tenang."
Nevan paham, lantas mengangguk maklum. Wajar saja, kejadian waktu itu memang cukup mencekam. Terutama, untuk anak seusia William.
__ADS_1
Gantari yang tak sadarkan diri terbaring di jalan. Suara anjing yang menyalak keras dan yang terakhir suara sirene ambulan.
Akh!
Nevan mengusap kasar wajahnya. Kilasan kejadian itu kembali menariknya pada insiden tragis itu. Luka di hatinya kembali diingatkan.
"Terima kasih." Willona kembali bersuara dan kali ini suaranya terdengar bergetar, membuat Nevan menatapnya bingung. Terlebih ketika Willona mulai meneteskan air matanya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya," lanjut Wilona getir. Air matanya kian deras menetes.
Nevan terdiam. Ia hanya menatap Wilona tak mengerti. "Menyelamatkan anak anda?"
Kepala Wilona terangguk beberapa kali. Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan yang ia ambil dalam tas di pangkuannya.
"Sejak kejadian itu Will nggak mau bicara dan saya susah payah mengembalikan kondisi psikis-nya karena itu saya baru bisa datang sekarang."
Wilona kembali terjebak dalam tangis. Nevan maklum karena ia tahu, semenjak kematian suami Wilona, anak semata wayangnya itu menjadi prioritas utama baginya. Tapi, yang Nevan tidak mengerti, apa hubungan semua ini dengan dirinya?
Menyelamatkan apa?
Nevan menegakkan tubuhnya. Rahangnya mulai mengeras. "Tolong ceritakan apa yang Will katakan."
Wilona mengangkat wajahnya lagi, menatap Nevan bingung. "Bu Gantari belum menceritakannya?"
Nevan tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya ragu.
Meski tidak mengerti, namun Wilona mulai menceritakannya sesuai keinginan Nevan. "Will memanjat pagar. Dia bilang, dia ingin bermain dengan pitbull."
Wilona menatap Nevan dengan mata sembab. Ia tampak serius dan tulus ketika mengatakan, "Saya tidak tau apa yang akan terjadi pada Will kalau Bu Gantari tidak nekat memanjat pagar."
Astaghfirullah!
Nevan tidak lagi menatap Wilona. Pikirannya melayang. Hatinya seolah tertimpa beban yang sangat berat. Dosa apa yang sudah dia perbuat pada Gantari?
__ADS_1