Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Bonchap: Fikri Oh Fikri


__ADS_3

Astoge bonus chapter mulu, wkwkwk. Anggap aja ini bab khusus untuk para pecinta Fikriansyah Fatdilal Pradana alias Babang Fikri kriting.


Happy reading.


***


Episode kali ini dibuka dengan adegan paling mainstream. Apalagi kalau bukan adegan bangun tidur.


Nevan meregangkan tubuhnya sambil menggaruk kepala tanpa membuka mata. Kemudian, tangannya meraba sisi ranjang dan tidak menemukan Gantari di sampingnya, hingga kini matanya sukses terbuka.


Nevan melompat turun dari ranjang dan langsung menuju pantry. Istrinya itu pasti ada di sana dan ya ... benar.


"Kenapa masih masak, Dihyan? Kita kan udah sepakat semua kerjaan di handle Bi Murni. Aku nggak mau kamu capek." Nevan langsung menubruk Gantari dari belakang dan memeluknya. Menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher sang istri, nyaman sekali.


"Kena tabrak mulu kayaknya lebih buruk efeknya dari pada kecapekan," sindir Gantari, lantas membalikkan tubuhnya ketika Nevan melepaskan pelukan dan beringsut mundur sambil cemberut.


"Lagian kasian Bi Murni kalau ngurus kerjaan rumah sendirian," lanjut Gantari.


Benar juga. Bi Murni sudah tua, kasihan kalau semua dibebankan kepadanya. "Nanti kita cari tenaga tambahan."


"Nggak semudah itu nyarinya, Mas Dion."


"Ya, udah. Kalau mau makan kita tinggal pesan aja."


Gantari melirik Nevan tajam. "Kamu nggak suka masakanku?"


Nevan melebarkan matanya, lantas langsung menggeleng kuat. "Bukan gitu, Sayang. Aku cuma nggak mau kamu capek."


"Tapi aku nggak suka makanan beli," rajuk Gantari, lantas kembali mengaduk telur. Sepertinya dia sedang bersiap membuat omelette.


Nevan mencoba memutar otaknya. Istrinya ini keras kepala, jadi satu-satunya cara adalah ....


"Ya, udah. Aku yang masak."


Gantari kembali memutar tubuhnya, menatap Nevan penuh selidik.


"Kenapa? Kamu tau, kan, aku juga bisa masak?"


"Tau."


"Terus?"


"Emang sanggup bangun pagi, masak? Pulang kerja, masak?"


"Sanggup! Demi kamu." Nevan menggeser tubuh Gantari dan mengambil alih tugas sang istri memasak pagi ini.


***


Sepertinya yang sudah disepakati, Nevan benar-benar langsung menuju dapur setelah menunaikan Salat Subuh. Tapi tenang, Bi Murni dengan siaga menolong Nevan sambil senyam-senyum dan lirak-lirik dari tadi.


"Kenapa, Bi?" tanya Nevan. Ia jelas-jelas tahu, kalau dari tadi Bi Murni senyum-senyum terus.


"Seneng, deh, kalau banyak suami mikirin istrinya kayak Mas Nevan."


Nevan tergelak. Ia memutar kran untuk mencuci sayur yang baru selesai di potongnya. "Banyak yang lebih baik, Bi."


"Tapi di mataku, kamu yang terbaik." Gantari muncul dan langsung memeluk Nevan dari belakang. Kemudian, menyadarkan kepalanya di punggung lebar milik sang suami, hingga membuat Bi Murni tersenyum lagi.


Beruntung, karena sekarang Bi Murni sudah terbiasa dengan pemandangan kurang akhlak tersebut, jadi tidak kagetan lagi. Bi Murni yang peka memilih menjauh dan menyiapkan peralatan makan.


"Mas?"


"Hm?"


"Ajak Fikri ke rumah, dong."


Pergerakan tangan Nevan terhenti. Ia memutar kran lagi dan otomatis air berhenti mengucur dari sana. Kemudian, menolehkan kepalanya pada Gantari yang basih betah bersandar di punggungnya.


"Kenapa? Kamu mau ngasih dia kerjaan?"


"Enggak. Mau ngajak makan bareng."


"Hah?" Nevan mengeringkan tangannya menggunakan serbet, lantas memutar tubuhnya, hingga membuat Gantari cemberut karena kenyamanannya terusik. "Ngapain ngajak Fikri makan?"


"Pengen aja."


"Nggak boleh."


"Ya, udah!" Gantari menghentakkan kakinya kuat ke lantai, lantas beranjak menuju kamar. Belakangan, Gantari memang jadi manja sekali.


***


Akhirnya, Gantari tetaplah jadi pemenang. Meski berat hati, Nevan tetap mengajak Fikri makan siang di rumah. Bahkan, istrinya itu memasak lauk tambahan.


"Kita kan udah sepakat, kamu nggak boleh masak lagi, Dihyan."


"Tadi pagi kamu cuma masak goreng ayam sama sayur bayam. Nggak enak, dong sama tamu."


"Jadi kamu masak khusus buat aku?" sambar Fikri cerah ceria. Kapan lagi dia bisa membuat Nevan kepanasan?

__ADS_1


"Iya, mudah-mudahan kamu suka."


Heh?


Mau tidak mau, Nevan harus mengurut dada. Sabar, ini cuma pengaruh kehamilan Gantari saja. Tapi kenapa harus Fikri, coba?


Dasar Fikri yang hobi memanfaatkan situasi, dia begitu menikmati makan siangnya. Dia tidak tahu saja kalau Nevan sudah merancang sebuah misi balas dendam.


"Kamu jangan capek-capek, ya, Gantari. Degerin kata Mas Dion, gitu-gitu dia perhatian, loh."


Ajaib! Gantari mengangguk patuh sekali. Ya, Tuhan ... berikan kesabaran pada Nevan agar dia tidak membalikan meja makan.


"Kamu udah periksa belum?"


"Rencananya besok sore. Kamu ikut, ya!"


Brak! Batas kesabaran Nevan sudah kandas. Ia menggebrak meja makan dan Gantari langsung menoleh padanya dengan tampang polos.


"Boleh kan, Mas?"


"Boleh, dong. Demi kau dan si buah hati. Bener nggak Pak Nevan?" Fikri memanasi.


Rahang Nevan sudah mengeras, namun Gantari menatapnya dengan binar penuh harap, hingga lagi-lagi Nevan luluh.


"Boleh," jawab Nevan hampir tercekat.


"PUAHHAHAA!" Fikri langsung tertawa puas. Ya, dia puas sekali melihat Nevandra Ardiona sang atasan penuh wibawa mati kutu begini.


"Sampai jumpa besok sore, Gantari."


"Sampai jumpa, Fikri."


***


Gantari menolak ke Rumah Sakit karena Fikri belum juga tiba. Ia sedang duduk di kursi teras dengan tangan terlipat di depan dada sambil cemberut.


"Kenapa nggak Mas ajak sekalian, sih, tadi?"


"Dia masih ada kerjaan, Sayang."


"Lagian kenapa Mas kasih kerjaan dia banyak-banyak!"


Nevan menatap Gantari ngeri, lalu menarik rambutnya sendiri. Sebenarnya suami Gantari itu dirinya atau cecenguk Fikri, sih?


Utunglah si cecenguk, eh, Fikri menelpon. Jadi, rambut Nevan tidak keburu rontok. Ia menunjukkan ponselnya pada Gantari agar sang istri melihat sendiri nama yang terpampang di sana. Kemudian, Nevan menjawab panggilan Fikri dan langsung menyentuh mode loud speaker.


"Di jalan. Gue langsung ke rumah sakit, ya."


"Ya, udah."


"Loe pelan-pelan aja bawa wanita pujaan hati gue."


"GILAKKK!"


Dan ... Fikri ketawa keras lagi. Nevan memasukkan ponselnya kembali ke saku dengan tampang hampir meledak. Kemudian, ia menunduk menatap Gantari.


"Mau berangkat sekarang? Pangeran kuda putih udah di jalan, tuh."


"Dih! Cemburu," cetus Gantari santai, lantas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman. Kemudian, ia menoleh lagi pada Nevan yang belum juga beranjak. "Buruan! Tadi ngajak buru-buru."


Ya, Tuhan. Beri hamba kesabaran.


***


Fikri sudah sampai lebih dulu dan duduk dengan sok keren di depan ruangan spesialis kandungan. Ia langsung berdiri dan menyapa Gantari dengan manis ketika melihat kedua orang itu tiba.


"Deg-degan nggak, Tar?"


"Biasa aja!"


Itu bukan Gantari yang menjawab, tapi Nevan. Sejak di mobil, Nevan memang sudah cemberut saja. Suasana hatinya jungkir balik karena sang istri lebih peduli pada asisten pribadi.


Fikri yang melihat raut kacau Nevan, langsung mengedikkan dagunya pada Gantari yang langsung di sambut dengan bahu terangkat oleh istri atasannya itu. Untunglah seorang ibu dengan perut buncit keluar ruangan dengan didampingi oleh seorang perawat yang langsung menghampiri Gantari.


"Maaf, sudah buat janji, Bu?"


"Sudah, atas nama Gantari Dihyan Irawan." Nevan berinisiatif menjawab.


Sang Suster memeriksa lembaran kertas di tangannya, lantas mengangguk. "Silakan, langsung masuk saja."


Gantari jadi tegang. Dia diam mematung menatap suster berwajah ayu itu, hingga membuat sang suster mengulas senyum.


"Nggak apa-apa. Masuk aja," katanya ramah. "Ditemani suami juga boleh."


Gantari menoleh cepat ke arah Nevan dengan wajah tegang. Fiuh! Syukurlah dia menoleh ke arah Nevan.


"Ayo! Mas."


Nevan melebarkan matanya dramatis, lantas menunjuk dirinya sendiri. "Kamu nggak salah ajak?"

__ADS_1


"Dih!" Gantari terkikik geli, lalu menggamit lengan Nevan manja. "Papanya kan kamu."


"Syukur deh kalau inget," sindir Nevan, tapi Gantari tidak peduli lagi. Dia langsung menarik Nevan masuk ke ruang poli kandungan.


Di luar, Fikri menunggu dengan tidak sabar. Sebenarnya, dia ingin masuk karena dia juga sama penasarannya. Tapi niatnya itu lebih baik ia urungkan dari pada nanti babak belur dihajar Nevan.


Dalam hati, Fikri berharap dapat bertemu dokter atau perawat cantik, manis, lembut, dan baik hati yang mau dipersunting jadi istri. Masa nasibnya sendiri terus.


Belum sempat harapannya terealisasi, Gantari dan Nevan keluar dengan wajah sumringah. Fikri berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka berdua.


"Gimana keponakan gue?"


"Alhamdulillah sehat." Gantari meneteskan air matanya, hingga membuat Fikri khawatir. Sedangkan, Nevan sudah merangkul sang istri dalam pelukan.


"Sehat kok nangis, Tar?"


"Dari tadi udah nangis," beritahu Nevan, lalu mengusap sayang puncak kepala Gantari.


Fikri menatap Nevan dan Gantari dalam. Sejujurnya, ia salut sekali dengan pasangan di hadapannya ini. Begitu banyak masalah yang telah mereka lalui, namun semua mereka lewati dengan baik meski harus tertatih.


Fikri mengusap matanya yang entah kenapa tiba-tiba berembun, lantas kembali tersenyum.


"Cewek atau cowok? Gue harap, sih, cewek biar bisa gue gebet."


"Gilak!"


Fikri tertawa keras lagi. Sepertinya ia memang hobi tertawa, hingga membuat Nevan hampir melemparkannya dengan tas Gantari yang sedang ia bawa. Namun, Fikri dengan cekatan menghindar, hingga ...


Dug!


"Aw!" Fikri mengusap keningnya yang entah beradu dengan apa, tapi rasanya sakit juga. Ia mendongak dan mendapati seorang wanita dengan rambut kuncir kuda juga sedang mengusap keningnya.


Senyum Fikri mengembang, namun segera sirna ketika si wanita kuncir kuda dengan ketus berkata, "Tolong jaga sikap Anda! Ini di Rumah Sakit."


Nevan mengunci rapat-rapat mulutnya, begitu juga dengan Gantari. Lebih baik mereka jadi penonton saja.


"Yang bilang ini Bandara, siapa?"


Wanita itu menatap Fikri tajam, lantas memilih pergi dari sana dengan berlari.


"Dia yang lari-lari, dia yang ngamuk. Galak banget itu orang."


"Jangan, gitu, Fik."


"Iya, dia cewek tuh."


Nevan dan Gantari menimpali hampir bersamaan.


"Itu mah bukan cewek. Singa!"


Nevan tidak mau ikut campur lagi, begitu pula Gantari. Mereka akan beranjak pulang ketika seorang perawat datang dengan panik dan bertanya pada teman sejawatnya.


"Sus! Liat dokter Nawa nggak?"


"Barusan lewat sambil lari. Emang ada pasien darudat?"


Suster bertubuh mungil itu menggeleng. "Ayah dokter Nawa meninggal."


Deg! Langkah kaki Fikri terhenti, begitu juga Nevan dan Gantari.


"Ya, Allah. Kapan?"


"Tadi sebelum dokter Nawa masuk ke ruang operasi."


Bulu kuduk Gantari meremang. Ia menoleh menatap Fikri yang masih mematung mendengarkan percakapan dua orang suster di dekat mereka.


"Emang tadi nggak ada dokter lain yang bisa gantiin?"


"Nggak ada. Udah dicari, nggak ada yang bisa, jadi mau nggak mau dokter Nawa tetap masuk ke ruang operasi dulu. Sesekali aku liat dokter Nawa nangis."


Entah apa lagi yang kedua perawat itu bicarakan karena Gantari segera menyenggol lengan Fikri.


"Idaman tuh, Fik."


Fikri tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis.


***


Fikri lovers udah seneng, dong, ya 🤭


Btw, udah baca Perempuan Penghibur Tuan Muda, belum? Ceritanya makin uwu, loh... Perempuan Penghibur Tuan Muda update di Ka-Be-eM, ya ... tapi kalau mau versi gratisnya silakan baca di Cwitan App (tapi sabar karena aku update bertahap, 2 bab/hari).



ini penampakan yang di negara hijau, ya ...


itu sajaaaa ...


LOPE GEDE pokoknya.

__ADS_1


__ADS_2