
"Sayang?"
Gantari mendadak mengentikan langkah dan membalikkan kasar badannya. Hampir saja ada adegan film India, kalau saja Nevan tidak bisa dengan cakap mengerem tubuhnya.
"Dion!" Gantari berteriak tak suka. Napasnya memburu. Dia sudah hampir menangis.
"Aku bercanda," ujar Nevan gelagapan.
Gantari lanjut jalan lagi.
"Kan emang sayang," gumam Nevan kemudian.
Nevan berlari lagi untuk mengejar Gantari, meninggalkan mobilnya terparkir di pelataran masjid.
Sejenak mereka diam, tak bicara meski jalan bersisian.
"Pernikahan dibatalkan," mulai Nevan lagi.
Gantari tidak menoleh. Dia masih menekuk wajahnya sembari berjalan cepat.
"Bukan aku, tapi Shaness yang membatalkannya," tambah Nevan.
Gantari akhirnya berhenti. Ia menatap Nevan dengan tajam. "Sana kamu! Pergi ke Antartika," semburnya.
Nevan terkejut. Ia membalas tatapan Gantari dengan sendu, lantas membalik badan dan melangkah ke arah berlawanan.
Gantian Gantari yang tergugu. Sepertinya ia salah bicara tadi.
"Oi!"
Dasar Gantari. Niat tidak, sih, menghalangi Nevan pergi?
"Pak Nevan!"
Tidak ada reaksi.
"Nevan!"
__ADS_1
Masih sama.
"Dion!"
Dan, hop! Nevan sontak membalik badannya menghadap Gantari dengan senyum terkembang.
Sebenarnya ia ingin menunggu Gantari memanggil dirinya dengan sebutan "sayang", tapi sepertinya itu sama saja cari mati.
"Ayo! Ceritakan kejadian yang sebenarnya di rumah," lanjut Gantari gelagapan. Kemudian ia kembali melanjutkan langkah. Disusul Nevan yang setia mengekor di belakangnya.
Sesampainya di rumah Gantari, Nevan merasakan betisnya naik, maka ia memijat-mijatnya sendiri.
"Dasar manja," gumam Gantari.
"Aku dengar." Nevan memasang ekspresi datar, lalu melanjutkan, "Aku pernah jadi kuli bangunan, kalau kamu lupa."
Gantari mencibir. Ia beranjak masuk ke dalam rumah dan mengambil dua gelas air mineral. "Silakan diminum Pak kuli."
Nevan menganga, menatap Gantari tak habis pikir. Nggak ada adegan sayang-sayangan gitu?
"Besok kamu kembali kerja di kantorku. Nggak bagus buat badan kalau nganggur kelamaan."
"Ngambil kesimpulan dari mana, sih? Kok salah terus?" cibir Nevan.
Gantari tertawa hambar. "Maaf, ya, Pak Nevan, tapi aku sudah dapat tawaran kerja di tempat lain."
Nevan sontak meluruskan badannya. "Siapa? Siapa yang nawarin?" tanyanya tak terima.
Baru saja Gantari akan membalas ucapan Nevan, ketika tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama Kakek Muda disana.
"Dihyan! Kamu tau pernikahan Shanessa dibatalkan? Tapi kamu jangan mudah tergoda dengan si Nevan Nevan itu, ya."
Meski tidak menggunakan mode loud speaker, tapi Nevan dapat dengan cukup jelas mendengar suara teriakan kakek kesayangan Gantari itu. Ia menggertakan giginya kesal.
Terlebih ketika Gantari dengan manisnya menjawab, "Baik, Kek."
***
__ADS_1
Nevan menanda tangani berkas yang ada di atas meja dengan kekuatan penuh.
"Awas sobek," tegur Fikri. "Kasihan tuh, Widia ngerjainnya."
Nevan melirik Fikri tajam. "Loe nggak ada kerjaan lain selain nempelin gue?"
"Gue takut loe frustasi gara-gara batal nikah," balas Fikri cuek. Ia menyenderkan punggungnya ke sofa dengan kaki bersilang. Santai sekali.
"Mending loe pergi sekarang, deh, dari pada gue lempar ke luar jendela."
Fikri bangkit. Kemudian menghadap Nevan sambil bertepuk tangan dengan semangat. "Nah! Ini, ni ... Ini baru Nevan yang gue kenal."
Hampir saja Nevan memukul Fikri dengan berkas di tangannya, kalau saja sang sahabat tidak berjanji untuk diam.
Diam lima detik maksudnya.
"Jadi si Dihyan itu gimana? Kalian udah balikan?"
Nevan melirik Fikri sebentar, lalu kembali melanjutkan membaca berkas. "Sama aja. Nggak ada perkembangan."
"Ya, iyalah! Menurut loe dia nggak ngehargai perasaan mantan calon istri loe, gitu?"
Ucapan Fikri barusan membuat Nevan tercenung. Kenapa ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya?
"Emang si Dihyan, Dihyan, itu gimana, sih orangnya?"
Nevan menghela panjang napasnya, lalu bangkit dan mendorong Fikri keluar. "Gue itu sayang sama loe, jadi loe keluar lewat pintu aja, ya."
Brak!
Pintu dibanting oleh Nevan, membuat Fikri memagang dadanya dramatis. Ia membalikan badannya dan melihat Utami yang memandang jijik ke arahnya.
"Kenapa?"
Utami diam saja.
"Ada apa?" desak Fikri.
__ADS_1
Utami masih tak menjawab dan justru melotot ke arahnya, lalu pergi begitu saja sambil bergumam, "Batal nikah, malah jeruk makan jeruk, hih!"