
"*Dua minggu saja."
"Tapi kenapa dua minggu ini aku nggak boleh menghubungi kamu?"
"Supaya kamu bisa fokus menyelesaikan skripsi*."
Shanessa mendengus mendengar penuturan Nevan barusan, lagi-lagi skripsi.
"Ini berlebihan nggak, sih?"
Nevan menggeleng. "Dua minggu saja. Setelah itu aku akan kembali padamu."
Shanessa kembali mengingat percakapan Nevan dengan dirinya beberapa saat yang lalu dan rupanya yang dikatakan Nevan tidak semuanya salah, dia memang lebih fokus pada skripnya.
Rasanya benar-benar hampir gila ketika berlomba dengan waktu untuk bimbingan dengan dosen, mengobrak-abrik perpustakaan untuk mencari buku, terjun langsung ke lapangan untuk penelitian, begadang menyelesaikan data, kemudian mengejar dosen lagi untuk bimbingan tahap selanjutnya. Hal yang selama hampir dua bulan ini ia lakukan dengan ogah-ogahan.
Bahkan nafsu makan bisa anjlok melebihi putus cinta. Namun, begini hasilnya sekarang, Shanessa sedang tersenyum bangga karena ia baru saja mendaftarkan diri untuk sidang skripsi. Ia menatap blanko pendaftaran layaknya menatap foto sang kekasih, mesra sekali. Sekarang yang dia lakukan hanya menunggu jadwal sidang keluar.
Shanessa tidak sabar ingin membagi kebahagiaan pada Nevan. Jadi, siang ini dia bergegas ke kantor Nevan dengan sekotak donat di tangan. Dia medorong pintu kaca dan masuk ke gedung dimana kantor Nevan berada. Sesekali ia melirik pada kotak donat yang dibawanya dan tersenyum lagi.
Ia melangkah menuju lift, namun dari jauh ia melihat pintu lift terbuka dan Gantari keluar dari sana dengan tergesa, lalu berlari panik ke luar gedung.
Shanessa refleks mengejarnya dan menahan lengan Gantari untuk menanyakan apa yang terjadi.
Awalnya Gantari meronta minta dilepaskan, namun kemudian dengan air mata menetes dia berteriak, "Ibu kolaps!"
Shanessa gelagapan, ia membiarkan Gantari kembali berlari. Kemudian ikut berlari bersamanya. Di pintu utama mereka berpas-pasan dengan Nevan yang baru saja selesai menemui klien dan Shanessa langsung menariknya tanpa aba-aba. Ia lantas meminta Nevan agar mengantar mereka ke rumah sakit.
Gantari sempat menolak dan berniat menunggu taksi yang lewat, namun memikirkan ibunya yang mungkin saja tidak bisa menunggu membuatnya mengangguk setuju.
Di dalam mobil tangan Gantari terus bergetar meski Shanessa sudah erat memeluknya. Sama seperti waktu itu, hanya air matanya saja yang terus menetes, tanpa keluar isakan sedikit pun. Dari kaca spion dalam, Nevan diam-diam memperhatikan. Ia merasakan dadanya terasa perih hingga matanya ikut memanas.
__ADS_1
Baru saja ban mobil Nevan menyentuh pelataran parkir, Gantari sudah membuka pintu dan melompat keluar. Membuat jantung Shanessa hampir copot.
Mereka bertiga berlari di koridor rumah sakit, tak peduli dengan pandangan heran orang-orang. Gantari berada di posisi paling depan karena ia berlari sekuat yang ia bisa. Disusul Shanessa dan Nevan yang tertinggal di belakang.
Sesampainya di ruang inap, Shanessa dan Nevan sudah melihat Gantari meraung. Farez memegang kedua pundak Gantari agar ia bisa sedikit lebih tenang, namun Gantari meronta minta dilepaskan. Di atas ranjang, napas ibu sudah terlihat satu-satu dengan bantuan oksigen yang dipompa seorang perawat. Matanya terbuka sedikit, lantas meminta Gantari mendekat dengan gerakan tangannya.
Farez baru melepaskan Gantari ketika ia mengangguk setuju untuk lebih tenang.
Ibu menarik paksa bibirnya, hingga menciptakan senyum aneh yang membuat Gantari merasa jantungnya diremas. Ada ketakutan tersirat dimata Gantari. Air matanya benar-benar tidak bisa dibendung lagi dan bibirnya ia gigit demi menahan isak.
Shanessa masih mematung di depan pintu. Ia menutup mulutnya sendiri agar tidak ada isak yang keluar, sedangkan Nevan tetap berada diluar. Pikirannya kalut.
"Dion mana?" tanya ibu patah-patah.
Gantari menggeleng. "Ibu harus kuat. Dihyan butuh ibu," isak Gantari pilu.
"Dion?" Suara ibu kian lemah, membuat Gantari makin lemas.
"Aku disini."
Gantari terbelalak, begitu pula Shanessa yang ikut melebarkan matanya. Ia bahkan menggelengkan kepala tak percaya.
"Dion disini, Bu," ulang Nevan.
Ibu kembali mengulas senyum susah payah, lantas membalas genggaman Nevan dengan lemah.
"Tolong jaga Dihyan," air mata menetes disudut mata tuanya. "Tolong jaga istrimu."
***
Terkadang air mata tidak bisa mewakili semua. Gantari tak lagi menangis di pemakaman. Dia memutuskan mengikuti semua prosesi tanpa setetes air mata pun. Dari memandikan, mengafankan, hingga menyolatkan. Dia mau melakukan semua yang terbaik untuk terakhir kalinya bagi sang ibu.
__ADS_1
Shanessa tampak menghindar. Saat ini dia tidak bisa menguatkan sang sepupu karena hatinya pun sama kacaunya. Ada gejolak yang sekuat tenaga coba ia pendam demi menghormati kesakralan kepergian sang tante.
Proses pemakaman hari itu diantar oleh cahaya cerah matahari meski hari telah petang. Sebagian orang takut, cahaya itu ikut terkubur bersama dengan terkuburnya pula tubuh seorang wanita yang menyandang status ibu itu.
Gantari masih menatap jauh ke bawah liang lahat, meski gundukkan tanah mulai diturunkan. Ardiman sudah pulang beberapa hari yang lalu, jadi dia bisa ikut hadir dalam prosesi itu. Ia sesekali tampak memeluk sang keponakan mencoba menguatkan. Disana hadir pula Farez, suster Irma dan suster Dina. Ada juga Tiwi yang kerap kali mencuri pandang dengan mata sembab.
Usai doa dibacakan, orang-orang mulai meninggalkan pemakaman. Ardiman juga mengajak Gantari untuk pulang, namun ia menolak bergerak. Akhirnya Ardiman berbisik lembut mengatakan akan menunggunya di mobil saja.
Sebelum berbalik, Ardiman melirik putrinya yang tampak menjaga jarak dengan Gantari dan justru ikut dengannya menuju mobil.
Nevan pun demikian. Dia tau Shanessa terkejut dengan semua, namun ia belum punya kesempatan untuk menjelaskan. Jadi, dia memilih menjauh dari keduanya.
Ia membalikkan badan dan melangkah menjauh dari pemakaman. Namun, ketika akan memasuki mobil, matanya melihat sang ibu sedang berjalan mendekati Gantari. Sontak ia kembali kesana dengan langkah lebar. Tak ingin sesuatu yang tak pantas terjadi disini, hari ini.
Sesampai di dekat mereka, Nevan baru menyadari jika sang ibu tengah terisak sembari melafalkan kata maaf berulang-ulang.
Sepertinya hanya Tiwi yang berhasil mendapat kontak mata dari Gantari. Meski itu berupa tatapan dingin yang mampu membuat lawan bicara menggigil.
Nevan memegang pundak ibunya, namun Tiwi seolah tak peduli.
"Maafkan saya, Dihyan," isaknya. "Saya yang sudah menghancurkan hidup kalian."
Nevan mengerutkan kening, tak mengerti.
"Saya betul-betul tidak tau kondisi ibumu," lanjutnya lirih. Ia mencoba menyentuh tangan Gantari, tapi Gantari justru berbalik mencengkram kuat tangan Tiwi. Hingga ibu Nevan itu meringis di tengah isaknya.
"Ibuku bukan parasit," kata Gantari tajam. Kemudian, dihempaskan kasar tangan gemetar itu.
"Tapi, ibuku bilang, ia sudah memaafkan anda," kata Gantari bergetar.
Ucapan Gantari barusan langsung membuat Tiwi meraung dan mendekap erat Gantari. Namun, kali ini Gantari tidak menolak.
__ADS_1
Nevan menatap nanar ibunya dari belakang. Jadi, ini jawabannya. Jadi, ini alasan kepergian ibu Gantari dari hidup mereka. Jadi, ini awal mula segalanya. Dadanya sesak, hingga rasanya mau meledak. Dia marah. Dia kecewa. Dia... malu.