
"Mas suka kopi hitam, ya?"
"Suka." Nevan terdiam sesaat, memandang Mariah dengan pandangan tidak terbaca. Kemudian, ia melanjutkan dengan tatapan yang masih terkunci padanya. "Kenapa?"
"Hm?" Mariah berdeham canggung. Sebenarnya dia salah tingkah juga ditatap begitu oleh Nevan. Namun, buru-buru dia mengulas tersenyum. "Penasaran aja, Mas."
Nevan mengangkat sebelah ujung bibirnya, menciptakan sebuah senyum miring. Kemudian, dengan santai membuka kancing lengan kemejanya, lalu menggulungnya hingga ke siku. Ia kembali menatap Mariah ketika meraih cangkir americano dan menyesapnya sedikit.
"Maksud saya, kenapa memanggil saya dengan panggilan tidak formal? Kita rekan bisnis kalau kamu lupa," ucap Nevan dingin, lalu meletakkan cangkir tersebut kembali ke atas meja.
Mariah tertegun, lantas mencoba tertawa meski jelas sekali terdengar hambar. "Aku kira hubungan kita cukup dekat, jadi ...."
"Terakhir kali Anda datang memohon agar Rawikara Retail tidak membatalkan kontrak dengan alasan perusahaan kalian sedang goyah. Apa itu sebabnya?"
Mariah masih membeku, mencoba membalas tatapan Nevan yang kepalang dingin. Ia meneguk ludahnya berat, sebelum menjawab, "Aku hanya sedang mencoba. Takdir tidak ada yang tau, kan, Pak."
Mendengar balasan Mariah tersebut, entah kenapa membuat Nevan ingin tertawa saja. "Jadi, benar, kan? Akhirnya nona muda pewaris Tungga Devi Crop menyerah?"
Bibir Mariah bergetar. Dia menggigit bibir bawahnya susah payah demi dapat membendung air matanya yang sudah bertengger di pelupuk mata.
"Ayahku sakit dan aku nggak punya pilihan," aku Mariah. Akhirnya, bulir bening itu lolos juga, meski tanpa isakan. "Aku tau kehilangan cinta memang berat, tapi rupanya melihat Ayahku menderita jauh lebih berat."
Tubuh Mariah bergetar. Dia membungkukkan badannya dan mulai terisak sendu.
"Beri tau aku, Pak. Aku bisa apa? Cuma ini jalannya," lanjut Mariah getir.
Nevan cukup terhenyak. Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan. Hidup di lingkungan yang bahkan takdir bukan lagi Tuhan yang mengatur, sudah Nevan pahami betul.
Ada rasa iba di sorot mata Nevan ketika melihat Mariah mencurahkan kekalutannya. Ia mencondongkan tubuhnya dan menepuk pelan pundak gadis yang masih tersedu itu.
"Udah, jangan nangis. Bisa-bisa orang salah paham dan mengira aku ...."
Deg!
Mariah dengan cepat memeluk Nevan, membuat Nevan melebarkan matanya, kaget.
"Loe gila?" Nevan melepaskan pelukan Mariah dengan kasar, lantas langsung berdiri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Firasatnya tidak baik.
"Terserah kalau kamu akhirnya memutuskan buat menyerah, tapi jangan libatkan saya," tegas Nevan, lantas ia beranjak pergi dari sana.
***
Gantari mendesah putus asa karena tidak menemukan petunjuk apapun di dalam lemari kedua orang tuanya. Tidak ada foto usang, surat peninggalan atau apapun itu. Hingga, ponselnya kembali berdering, membuat Gantari segera beranjak ke kamarnya. Meninggalkan isi lemari yang masih berantakan.
Farez?
"Halo?"
"Dihyan! Dia membalas pesan," beritahu Farez terlampau semangat.
__ADS_1
Dada Gantari berdegup kencang. Rasa penasaran memang selalu tidak cocok untuknya.
"Dia minta nomor ponselmu. Katanya ingin menghubungimu langsung. Gimana?"
Gantari terdiam sejenak. Sempat ada sebersit ragu di hatinya, namun akhirnya ia menyetujui permintaan itu.
Tidak lama setelah sambungan dengan Farez terputus, ponsel Gantari kembali berdering dan menampilkan deretan nomor tidak dikenal.
Firasat Gantari, pemilik nomor itu adalah wanita yang Farez panggil sebagai Jero. Dia membiarkan ponselnya berdering cukup lama karena tidak menyangka si wanita yang katanya kerap mengunjungi ibunya itu akan menelpon secepat ini. Perlahan, Gantari mengulurkan tangan dan meraih ponselnya. Kemudian, menjawab panggilan.
"Temui aku di seberang Sila Hospital. Jam 8 malam ini."
Suara laki-laki?
"Siapa ini?"
Tut!
Sambungan terputus.
Gantari menatap ponselnya lama dengan wajah yang tampak menegang. Dadanya masih berdegup tak karuan. Satu-satunya nama yang terpikir oleh Gantari saat ini adalah nama Nevan. Ia ingin menceritakan semuanya pada Nevan.
Jemari lentiknya kembali bergulir di atas layar ponsel untuk mencari nama sang kekasih. Namun, lagi-lagi ponselnya berdering.
Angkasa?
"Halo?"
"Gantari. Kamu baik-baik saja?"
Gantari diam saja. Hubungannya dengan Angkasa tidak sebaik itu untuk basa-basi, kan?
"Aku akan berubah pikiran dan akan mencoba mendapatkanmu lagi kalau si breng*ek Nevan masih hobi membuat skandal."
Gantari tidak mengerti. Namun, dia tetap harus tenang. Si Angkasa ini sudah lama menghilang dan menyerah. Kenapa muncul lagi?
"Sepertinya tidak ada yang perlu aku laporkan. Terimakasih sudah memperhatikan, tapi lain kali tidak perlu."
Tut!
Gantari buru-buru membuka laman pencarian. Dia tidak membiarkan dirinya bingung dulu hanya untuk mencerna ucapan Angkasa barusan dan hatinya langsung pedih ketika lagi-lagi Nevan masuk berita online dengan cerita dan wanita yang sama.
***
"Ah, sial!" Nevan mengumpat sembari mengacak kasar rambutnya karena seperti yang ia duga kejadian tadi memang disengaja. Ponselnya sejak tadi tidak berhenti berdenting, sudah seperti selebritis saja. Namun, tidak ia gubris.
Nevan mondar-mandir di kamar hotel dengan ponsel di tangan. Dari tadi dia mencoba menghubungi Gantari, namun hasilnya selalu tidak ada jawaban.
Andai ini kali pertama, mungkin Nevan tidak akan segelisah ini, tapi faktanya ini adalah kejadian kedua dan jika Gantari masih Gantari yang sama maka ....
__ADS_1
Fikri Pradana
Aku udah sampai dan sekarang sedang berdiri di depan pintu. Tolong bawa saya masuk, Pak.
16.15 WIB Read
Setelah membaca pesan Fikri, Nevan langsung melangkah cepat untuk membuka pintu dan mendapati Fikri dengan kaca mata hitamnya tengah nyengir lebar.
"Aku datang," teriak Fikri sumringah, namun Nevan hanya membalasnya dengan tatapan datar dan kembali masuk lagi.
Fikri yang sudah merentangkan tangan, terpaksa menurunkannya lagi dan berjalan masuk dengan kaki terseret.
"Semua masalah udah beres. Cuma tinggal pemantauannya aja. Gue tinggal, ya," ucap Nevan. Matanya masih fokus pada layar ponsel. Dia tampak serius.
"Gue baru aja datang, loh. Loe ngehindar dari gue?" Fikri mendengkus. "Masalah di Jakarta kan bukan salah gue. Itu si Andre dadakan ngasih info jelek, faktanya nggak sefatal itu, kok."
"Gue tau," balas Nevan yang masih sibuk mengutak-atik ponselnya. "Gue balik jam 8 malam nanti."
"Loe serius ya, Van?" pekik Fikri frustrasi. Dia melepaskan ransel dan membiarkannya jatuh ke lantai, dramatis.
"Semua disengaja. Gue harus ketemu Dihyan secepatnya."
Kalau sudah begini, Fikri paham. Wajahnya jadi ikut serius ketika menanyakan, "Masuk akun gosip lagi?"
Nevan mengangguk.
***
Seperti yang sudah dijanjikan, kini Gantari berada tepat di seberang Sila Hospital. Dia mengedarkan pandangan dan tidak mendapati seorang wanita yang bisa dicurigainya sebagai Jero.
Gantari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan rupanya masih pukul 19.45 WIB. Dia datang terlalu cepat, mungkin lantaran terlalu bersemangat.
"Nona?"
Gantari menoleh dan mendapati sesosok pria berbadan tegap dan berahang tegas dengan setelan serba hitam. Lengkap dengan topi yang menambah kewaspadaan Gantari.
Gantari mundur dua langkah, baru kemudian menjawab, "Ya?"
"Ikut saya sekarang," ujar si pria dengan suara berat.
"Kemana? Anda siapa?" balas Gantari was-was.
Si pria tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah belakang tubuh Gantari dan dua orang berpakaian hitam turut muncul dari sana, namun Gantari tidak menyadari.
"Maaf, intruksi hanya untuk membawa nona saja. Tidak ada intruksi membawa secara baik atau paksa."
Gantari menautkan alisnya. Belum sempat ia membalas, Gantari sudah kehilangan kesadaran.
__ADS_1