
"Ada yang disembunyikan Jero dari kita."
"Edo, udahlah."
"Gue serius. Secepatnya akan gue buktiin."
Nevan mendesah pasrah. Kemudian, menggaruk kepalanya kesal. "Terserah."
Tadinya Nevan sudah mulai lega, tapi entah mengapa temannya ini selalu membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Nevan membalikkan badannya dan memilih mengakhiri pembicaraan, namun sebuah mobil tertangkap oleh matanya sedang melesat ke arah Gantari.
"DIHYAN!"
Nevan berteriak panik, lantas berlari kencang ke arah Gantari tanpa sempat memikirkan apapun lagi. Seluruh kekuatannya sudah ia kerahkan, namun entah mengapa rasanya jarak mereka begitu jauh. Jantungnya berdegup tak karuan. Aliran darahnya seolah mengalir naik dan berkumpul di wajahnya.
"DIHYAN!"
Nevan sempat melihat Gantari menoleh padanya, sedetik sebelum akhirnya wanita cantik itu tertabrak dan terhempas, hingga terpental jauh.
Nevan tidak ingat apa-apa lagi, yang jelas matanya tidak berkedip ketika melihat begitu banyak darah yang mengalir dari kepala Gantari yang sudah terkulai. Nevan langsung berlutut dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat.
Apa yang sebenarnya sedang ia lihat sekarang?
Nevan menyentuh kepala Gantari dengan tangan gemetar dan seketika telapak tangan itu berubah merah. Jantungnya bukan lagi tidak berdetak, tapi hancur lebur, hingga mati rasa.
Air mata Nevan menetes begitu saja tanpa ia inginkan. Ia menarik tubuh Gantari dalam dekapan, lantas mengangkatnya. Hanya ini kekuatan terakhirnya.
Nevan melewati Edo yang tampak menelpon dengan panik. Kata ambulan beberapa kali Edo ulang, namun Nevan tidak mendengarkan lagi. Ia terus berjalan menuju mobilnya sendiri dengan Gantari yang memejamkan mata di pelukannya.
Edo memutuskan sambungan teleponnya dan memilih mengejar Nevan. "Sini kuncinya biar gue yang nyetir!"
__ADS_1
Lagi-lagi Nevan bungkam. Ia membuka pintu mobil dan membaringkan hati-hati tubuh Gantari di kursi belakang, lantas menutup pintunya lagi.
"Nevan!"
Edo menarik pundak Nevan dengan kasar. Mencoba menyadarkan sahabatnya itu. "Siniin kuncinya!"
Nevan menatap Edo dengan pandangan kosong, hingga Edo menarik sendiri kuncinya dari tangan Nevan.
"Loe jagain Gantari di belakang!" perintah Edo, lantas ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Jero hanya bisa menutup mulutnya dari tadi. Sang bodyguard bahkan membantu memegang pundak Jero agar wanita 60 tahunan itu tetap bisa berdiri.
Beruntung jarak Teras Dharmawangsa hanya sekitar 10 menit dari Rumah Sakit Gandaria. Edo sengaja memilih melewati jalan Barito II sebagai jalur tercepat.
Tim kesehatan dengan siaga mendorong brankar dan memindahkan tubuh Gantari ke sana, lantas melarikannya ke ruang IGD. Sedangkan, Nevan hanya menatapnya dari jauh.
Jero datang menyusul dengan tangis yang sudah pecah. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, bahkan meracaukan hal-hal yang tidak jelas.
...****************...
Darya, Ardi, dan Shanessa datang menyusul beberapa saat setelah Edo menghubungi kedua orang tua Nevan. Mungkin, orang tua Nevan yang menghubungi mereka.
Ketiganya tampak begitu kalut di ruang tunggu, terlebih Darya. Kakek Gantari itu bahkan terduduk tanpa sepatah kata pun, hingga membuat Ardi begitu khawatir.
Tiwi dan Fauzan datang dengan langkah cepat dan segera menghampiri Nevan yang duduk di kursi tunggu dengan pandangan kosong.
"Sebenarnya Gantari kenapa, Nevan?"
Jangankan menjawab, Nevan menoleh pun tidak. Jiwanya seperti sedang tidak berada di sana. Edo meminta Tiwi dan Fauzan agar sedikit menjauh dan memberikan penjelasan singkat pada kedua orang Nevan tersebut. Hal sama yang juga ia lakukan pada keluarga besar Gantari tadi.
__ADS_1
Farez yang baru saja keluar dari ruang operasi langsung bergegas menuju ke Rumah Sakit Gandaria setelah melihat berita daring tentang kecelakaan Gantari. Ia berlari di koridor rumah sakit dan tidak sulit untuk menemukan keberadaan mereka.
Seorang perawat keluar dan Farez langsung menemuinya. "Bagaimana kondisi pasien?"
Perawat yang rupanya mengenal Farez itu tampak tenang ketika memberikan jawaban. "Sudah ditangani oleh Dokter Rudi. Kita sama-sama berharap yang terbaik, Dokter Farez."
Farez mundur. Benar, Gantari pasti ditangani dengan baik. Pasti.
Suasana benar-benar suram. Jero memilih menjaga jarak dan tidak bergabung dengan mereka, hingga Edo menghampirinya.
"Ada yang ingin Jero ceritakan padaku?"
...****************...
Nevan merasakan pikirannya penuh. Terlalu penuh, hingga tidak ada hal yang bisa ia pikirkan lagi. Bahkan, ketika akhirnya beberapa dokter keluar dan salah satu di antara mereka ditahan dan diberondong pertanyaan oleh keluarga Gantari, Nevan tetap memilih tidak beranjak. Ia tetap duduk dengan tubuh terbungkuk.
Nevan hanya menoleh menatap wajah serius Dokter berkacamata itu dari jauh. Tidak ada yang bisa ia dengar. Tidak ada gerak bibir yang bisa ia baca. Otaknya sedang tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
Nevan hanya dapat memperhatikan wajah-wajah penuh khawatir yang ditunjukkan setelah mendengar penjelasan sang dokter. Darya yang sempat berdiri, kini duduk kembali. Di hadapan Darya ada Ardi yang berlutut sedang menggenggam tangan Darya dan mengucapkan suatu hal. Entah apa itu.
Semua mulai melangkah mundur. Bahkan, Tiwi tampak menangis di pelukan Fauzan. Sedangkan, Shanessa memilih memeluknya dirinya sendiri. Hanya Farez yang tetap mengajukan pertanyaan pada sang dokter, namun begitu raut wajah yang ia tunjukkan tak kalah buruk.
Nevan akhirnya bangkit, namun ia melangkah pergi ke arah berlawanan. Meninggalkan segala kegaduhan, isak tangis, dan wajah khawatir di ruang tunggu. Nevan berjalan dan terus berjalan menyusuri koridor, hingga langkahnya terhenti tepat di depan sebuah ruangan dengan papan informasi bertuliskan "Musala."
Nevan bergeming, menatap ke dalam ruangan tanpa menunjukkan reaksi berlebih. Lama terdiam, Nevan akhirnya membuka sepatunya dan masuk ke dalam ruangan sederhana itu menuju tempat berwudu.
Nevan mengulurkan tangannya ke bawah kucuran air. Lagi-lagi ia terdiam ketika menyadari tangannya dipenuhi noda merah. Air mata Nevan jatuh, namun ia kembali melanjutkan mencuci tangannya, hingga bersih. Bahkan Nevan melepas kemejanya yang juga dilumuri darah Gantari dan hanya tinggal memakai kaus oblong saja.
Setelah menyempurnakan wudhunya, Nevan memilih melaksanakan salat. Sejujurnya, ia tidak bisa mengingat, salat apa yang harusnya ia tunaikan. Ia sama sekali tidak tahu, yang ia tahu hanya ia harus bertanya pada Tuhan tentang apa mau-Nya.
__ADS_1
"Dulu Engkau pernah memisahkan kami. Aku kira ini kesempatan kedua, tapi rupanya aku salah." Nevan sedikit menarik sebelah ujung bibirnya. Kedua telapak tangannya masih mengadah. "Sekarang aku tanya, sebenarnya apa mau-Mu?"
Air mata Nevan kembali menetes. "Kalau Engkau tidak menginginkan kami bersatu, aku tidak akan memaksa lagi. Tapi ... aku mohon biarkan Dihyan hidup."