
Nevan sudah bangun dari tadi, tapi subuh ini ia masih enggan untuk beranjak lebih cepat dari ranjang. Mendadak berbaring menjadi hal yang menyenangkan untuk Nevan akhir-akhir ini.
Nevan memiringkan tubuhnya, lalu tersenyum manis. Di depannya ada Gantari yang masih terlelap sedang bergelung di bawah selimut.
Pelan, Nevan mengulurkan tangannya dan mengusap lembut rambut Gantari. Terkadang ia justru memainkan rambut istrinya itu dengan senyum yang enggan sekali hengkang dari bibirnya.
Tangan Nevan perlahan beralih dari rambut ke pipi Gantari, lantas mengusapnya lembut. Kemudian, ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup pelan pipi tersebut, lalu tersenyum geli sendiri.
Ia menatap wajah Gantari seperti tidak ada puasnya. Mendadak senyum usil terukir bibir Nevan. Pelan-pelan, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Gantari, hingga membuat Gantari bergerak dari tidurnya dan akhirnya membuka mata.
"Selamat pagi, Sayang."
Gantari tersentak kaget, lantas menggeser tubuhnya ke belakang dengan cepat, hingga membuat Nevan mendecak sebal. Lenyap sudah sesi romantis di pagi hari.
"Aku suamimu, bukan hantu!"
"Oh," jawab Gantari malas, lantas mengeratkan selimutnya lagi dan mulai memejamkan kembali matanya.
"Mau lanjut yang tadi malam atau mandi buat solat subuh?" Nevan mendekatkan tubuhnya pada Gantari, lantas menarik sang istri ke dalam dekapannya dan ikut memejamkan mata. Kalau Nevan, sih, senang-senang saja dengan pilihan pertama, sungguh.
__ADS_1
Ucapan Nevan tersebut sukses membuat rasa kantuk Gantari menguar. Matanya mendadak segar. Ia mendorong pelan tubuh Nevan, lantas bangkit dari ranjang dengan membawa selimut dan rambut berantakan.
"Mandi," jawab Gantari sambil berlalu ke kamar mandi.
Nevan ikut bangkit, lalu tersenyum geli melihat kepergian Gantari dengan pipi memerah. Kemudian, ia menghempaskan kembali tubuhnya ke atas kasur, sembari menunggu giliran mandi. Namun, ide briliannya tiba-tiba muncul. Nevan bangkit lagi dan berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
"Sayang, subuh sebentar lagi, loh. Gimana kalau kita mandi bareng?"
Byur!
...****************...
Setelah selesai menunaikan salat subuh, Gantari bergegas ke dapur untuk membuat kopi. Kebiasaan Nevan jika pulang dari masjid pasti langsung menyesap kopi hitam.
"Kaget, lagi," decak Nevan sebal. "Kamu itu harus membiasakan sentuhan, Sayang."
Gantari memutar tubuhnya, lalu menatap Nevan dengan jengkel. "Tapi, nggak sering-sering juga, kan?"
"Emang sering? Udah setengah jam aku nggak megang kamu."
__ADS_1
"Astaga, Dion!" Gantari menggeleng pasrah, lalu ia hendak memutar tubuhnya lagi. Namun, Nevan keburu mengunci tubuh Gantari, hingga membuat Gantari mengangkat sebelah alisnya.
"Kecupan selamat datang nggak ada?"
"Nggak ada!"
Nevan mengerucutkan bibirnya kecewa, namun mendadak bola matanya melebar karena Gantari benar-benar memberikan kecupan yang dia minta. Meski kilat. Meski hanya sedetik saja, tapi itu berhasil membuat dada Nevan hampir meledak.
...****************...
Gantari mengusap batu nisan di hadapannya. Kerudung putih yang ia kenakan bergoyang pelan ditiup angin sore. Sejenak Gantari mengusap air matanya yang menetes tanpa aturan, lalu ia kembali mengusap batu yang mengukir nama orang terkasihnya itu.
"Maaf, aku baru bisa datang sekarang," katanya parau.
Ini memang kali pertama Gantari berhasil menguatkan dirinya untuk datang. Wajar saja, bagi Gantari orang terbaring jauh di bawah tanah itu adalah separuh jiwanya.
"Tenanglah di sana karena aku sudah ... ikhlas."
...****************...
__ADS_1
HASTAGAA! AVA-AVAAN AKU?!
Btw, kalian tau kan kalau novelku mellow-mellow? Tau, kan? Iya, kan? Udah, sih, aku cuma nanya doang. HOAKAKAKAK.