
Ngomong-ngomong soal telapak kaki, surga anak itu ada di telapak kaki ibu, kalau surga istri ada di telapak kaki siapa, sih?
E-hm!
Setelah terjadi adegan yang sengaja di sensor agar tidak menimbulkan kebaperan kronis, Nevan dan Gantari meluncur ke warung bakso terdekat.
"Kita dulu pernah kesini," kenang Gantari. Matanya menyisir warung bakso yang hampir setiap waktu selalu ramai pengunjung, sama seperti dulu.
Bedanya, jika dulu yang melayani pelanggan hanya seorang laki-laki paruh baya yang biasa dipanggil Pak De, sekarang posisinya digantikan oleh beberapa laki-laki muda yang tampak begitu cekatan, mungkin karyawannya. Sedangkan, Pak De sendiri memilih duduk di meja kasir dan sesekali berkeliling menyapa pelanggan. Ia masih saja ramah seperti dulu.
"Kamu tunggu di sini, ya. Biar aku yang pesan." Nevan melepaskan jaket kulitnya dan menyampirkannya di kursi. Kemudian, langsung memutar tubuh, meninggalkan Gantari yang baru saja duduk. Bahkan, tidak ada respons yang Nevan berikan pada ucapan Gantari tadi.
Mungkin, Nevan tidak ingat.
"Eh! Maaf."
Gantari yang belum memutus padangan, melihat Nevan yang ditabrak oleh seorang wanita yang membawa semangkuk bakso, hingga kuah bakso sedikit tumpah ke kaus kelabu gelap yang dikenakan Nevan.
"Maaf, Mas. Aku nggak sengaja," ringis si perempuan tak enak.
Nevan menunduk dan melihat kausnya yang basah. Kemudian, ia mendongak menatap perempuan berambut lurus yang tampak begitu tak enak hati dengan mangkuk bakso yang masih ada ditangannya.
"Kenalan dulu dong, Mbak."
Astaga.
Gantari membulatkan matanya kaget. Dia tidak salah dengarkan?
Nevan mengajak perempuan lain berkenalan di saat acara kencan mereka?
Tidak masuk akal.
Lebih tidak masuk akal lagi adalah kini Nevan dan perempuan mangkuk bakso itu sedang berjabat tangan dengan senyum sumringah di bibir masing-masing. Bahkan, ketika acara salam-salaman itu berakhir dan Nevan melanjutkan tujuannya untuk memesan menu makanan, si perempuan masih saja melirik ke arah Nevan.
Gantari mendengkus sebal, lalu mengeluarkan ponselnya dan memilih larut membaca novel daring saja, hingga seseorang meletakkan segelas teh es di hadapannya. Gantari mendongak, lantas menjepit pipet ke mulutnya dan menyeruput teh es tersebut dalam diam.
"Jangan banyak-banyak minumnya. Nanti kenyang," tegur Nevan ketika melihat Gantari terus menyeruput teh es nyaris tandas.
"Siapa namanya?"
"Hah?"
Gantari mendengkus, lalu lanjut meminum es teh.
Panas membara, guys.
***
Angkasa tampak mengerutkan dahi, menatap Shanessa yang bertumpu di pundaknya dengan pandangan begitu dalam. Hingga, sebuah pernyataan enteng keluar dari bibir Angkasa, "Kalau uang kamu kurang buat beli rok panjang, biar aku beliin."
__ADS_1
Retak.
Shanessa melepaskan tangannya cepat-cepat dari Angkasa. Ia merasa harga diri feminimnya terinjak-injak.
"Ada berkas yang harus ditanda tangani, Pak. Saya tinggalkan di sini saja. Biar nanti Pak Leo yang ambil," cetus Shanessa dingin.
Shanessa benar-benar meletakkan berkas yang tadi direbutnya pada Leo ke atas meja tanpa mau repot-repot menunggu Angkasa untuk memeriksa dan menandatanganinya terlebih dahulu seperti biasa.
Angkasa mengerutkan dahinya polos. Melihat kepergian Shanessa untuk kedua kalinya dengan kaki yang terhentak kasar.
"Shanessa?"
Deg!
Shanessa tidak langsung menyahut, apa lagi memutar tubuh. Dia sedang menimbang dan berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Haruskah ia berbalik arah atau lanjut pergi saja?
"Iya, Pak?"
Oh, sial!
"Menurut kamu penampilan saya bagaimana?" Angkasa berdeham salah tingkah, lalu melanjutkan, "Maksud saya, rambut pendek saya."
Keputusan Shanessa untuk berbalik tidak salah. Akhirnya, Angkasa melihat keberadaannya, menanyai pendapatannya. Ada panas yang menjalar di wajah Shanessa, hingga membuatnya tidak bisa untuk tidak merona.
"Menurut kamu, apa Gantari akan suka?"
***
Perjalanan berlanjut. Gantari masih sibuk bertanya, "Siapa namanya?"
Sedangkan, Nevan sibuk menjelaskan kalau itu hanya spontanitas bercanda.
"Kamu cemburu?"
"Hilih. Apanya yang harus dicemburuin?"
"Terus itu apa namanya?"
"Penasaran. Itu namanya penasaran," tampik Gantari gigih. Ia melengos meninggal Nevan yang berjalan di belakang sembari menyomot gulali. Tujuan selanjutnya adalah taman kota.
Kenapa tidak ke mall saja, sih? Adem.
Tempat semacam itu tidak pernah masuk list kencan mereka dari zaman dahulu kala, begitulah.
"Tuh, lihat. Ke taman itu bawa anak-anak," seloroh Nevan. Kemudian, ia duduk di kursi taman di bawah pohon rimbun yang menghadap ke danau.
"Anak siapa? Anak kucing?"
"Anak kucing? Anak ayam, dong, Sayang," balas Nevan sembari menyuapi gulali ke mulut Gantari.
__ADS_1
Gantari tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Hal-hal remeh temeh yang Nevan ucapkan selalu bisa memperbaiki suasana hatinya.
"Mau liat bidadari nggak?"
"Jangan bilang aku disuruh ngaca."
Nevan melongo, lalu terbatuk-batuk. Ia memukul dadanya sendiri secara berlebihan demi mengejek Gantari. Gantari yang kesal ikut membantu memukul pundak Nevan, hingga membuat Nevan tertawa kegirangan.
"Nih!" Nevan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Gantari. Gantari yang penasaran menggeser tubuhnya agar mendekat dan melihat layar ponsel Nevan yang menunjukkan foto ... dirinya.
Jemari Nevan bergerak lincah menggeser slide demi slide yang lagi-lagi masih menunjukkan foto candid Gantari di pantai tadi.
"Kamu nyuri foto aku diam-diam?"
"Cantik, kan?"
"Iya."
Nevan hampir pura-pura batuk lagi ketika mendengar jawaban singkat penuh percaya diri Gantari, namun tidak jadi karena Gantari keburu mencubitnya. Dan, kemudian obrolan-obrolan ringan seperti itu terus bergulir.
Cinta bisa memangkas waktu nggak, sih? Karena dengan hanya bercanda begitu saja, ternyata matahari sudah mulai menyingsing.
***
Bang Nevan : *celingak-celinguk*
Jika : Clingak-clinguk mulu, Bang.
Bang Nevan : Astaga! Kaget.
Jika : Dih!
Bang Nevan : Kamu tumben nggak nge-iklan?
Jika : Lagi males.
Bang Nevan : Kamu sakit, Dek?
Jika : Hooh. Sakit hati ngeliat Abang mesra-mesraan terus.
Bang Nevan : Lah, bukannya seneng liat abangnya bahagia.
Jika : Bang ... jodohin Jika, dong 🤧
Bang Nevan : Jika maunya sama siapa? Anwar mau?
Jika : Sama Nevandra Ardiona.
Bang Nevan : *toyor*
__ADS_1