Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)
Intermezzo, ceunah


__ADS_3

Angkasa terus melangkah, melewati ruangan demi ruangan yang masih kosong dan sepi, hingga akhirnya dia terjatuh dengan lutut membentur ubin.


Untuk kesekian kalinya dia berteriak, meraung, dan menumpahkan semua air mata, bukan lantaran lututnya sakit, melainkan rasa sakit yang menggila tepat di dadanya, hingga seorang wanita ikut berlutut di depannya dan memeluk Angkasa dengan erat begitu saja.


Angkasa bergeming. Dia hanya membiarkan kepalanya bersandar di pundak wanita itu, lantas menumpahkan segala kesedihannya di sana. Dia tidak peduli siapa wanita itu, yang jelas hingga sesak di dadanya hilang dia terus saja menumpahkan kepahitan dan keputusasaannya.


Wanita itu seolah paham dan merasakan sakit yang Angkasa rasakan. Air matanya turut luruh diam-diam, meski tanggannya belum juga berhenti menepuk pelan punggung Angkasa dalam pelukan.


Sungguh, hatinya juga begitu sakit melihat Angkasa begini.


Tapi kenapa?


Entahlah.


"Menangislah. Menangis saja, sebanyak yang kamu mau," kata wanita itu pelan. Entah mengapa, Angkasa merasakan ketenangan ketika mendengar suara itu. Suara ...


Angkasa menegakkan tubuhnya, setelah merasa cukup kuat untuk membuka mata dan menopang dirinya sendiri. Sekedar untuk memastikan siapa Guardian Angel-nya tersebut.


Dan, setelah menatap penuh perhatian dan begitu khidmat, wanita dalam pandangannya itu tidak berubah meski berkali-kali Angkasa mengerjapkan mata. Dia adalah ...


Bu Fatimah?


Fatimah terseyum lembut, lalu mengangguk kepada Angkasa, mencoba menguatkan melalui tatapan matanya yang hangat.


"Aku dengar kita mau dinikahin sama Jika? Jadi mulailah berbagi beban denganku."


Angkasa terhenyak. Tubuhnya sampai jatuh ke belakang. Dia seolah lupa dengan rasa sedihnya dan sekarang berganti dengan rasa kaget dan tidak percaya yang luar biasa.

__ADS_1


Wajahnya memucat.


"Ini bohong, kan? Ini pasti bohong!" teriak Angkasa histeris.


"JIKAAAAAAAA! Kukejar kau sampai ke neraka!"


Jika yang sedang menulis sambil rebahan langsung terbatuk-batuk tidak paham. Mendadak dia merasakan telinga sebelah kirinya berdenging, menandakan ada yang menggunjing.


Namun, gadis itu justru hanya menggaruk kuping sebelah kirinya sebentar, lantas lanjut menulis lagi demi sesuap nasi.


"HAHAHAHA." Nevan keluar dari balik dinding dengan tawa menggelegar. Saking girangnya, ia sampai memegang perutnya yang mulai sakit sembari melihat ke arah Angkasa dengan ekspresi penuh cibiran. Wajah Nevan sampai memerah akibat tawanya yang kepalang keras. Dia puas sekali.


Angkasa yang melihat rivalnya itu tengah kegirangan, langsung memerah padam, tidak terima.


Nevan tidak peduli. Sembari menepuk tangan kegirangan, Nevan berteriak penuh kemenangan. "Rasakan kau, Angkasa! Selamat menjadi Papa Anwar."


"Tidaaaaaakkkkkkkk!" Angkasa makin teriak menjadi-jadi, hingga menggema dan menggetarkan gedung Hotte Mart.


Sedangkan, Fatimah justru sedang cekikikan. Kemudian, ia langsung menghambur memeluk Angkasa kembali dengan erat.


-Tamat


***


Readers : AVA-AVAAN INI? Maksudnya apa, Jika?


Jika : Ada apa, ya? Ada apa? Jika salah apa?

__ADS_1


Readers : Itu! Bukannya nulis lanjutan malah nulis beginian kamu.


Jika : Habisnya Jika dendam sama Pak Ang.


Readers : Nggak boleh gitu, Jika. Masa kamu jodohin Pak Ang sama Bu Fatimah. Nggak baik, ah.


Jika : Harusnya gimana, Kak?


Readers : Harusnya kamu jodohin Pak Ang sama Bi Murni.


Jika : 😒 berantem yuk, Kak.


Readers : HOKAKAKAK readers mah bebas.


Jika : Nah, loh! Ini mau di up tapi nggak bisa gara-gara jumlah katanya kurang.


Readers : Lah, gimana itu?


Jika : Tenang, ini lagi Jika tambahin, kok.


Readers : Udah belum?


Jika : Sikit lagi.


Readers : Udah belum?


Jika : Cerewet banget, ya! Jika sleding juga, nih!

__ADS_1


Readers : Hah! Kamu berani?


Jika : Kagak berani 🤧


__ADS_2