
"Ma! Tadi aku lihat Papa sama perempuan lain. Papa selingkuh, Ma!"
"TUAN! Nyonya, Tuan! Nyonya gantung diri!"
Angkasa tersentak dari tidurnya. Napasnya tersengal hebat, nyaris tercekik. Bahkan, keringat rupanya sudah membasahi seluruh tubuhnya. Angkasa bangkit, melompat cepat dari ranjang, lantas mengusap kasar wajahnya. Kemudian, berjongkok membuka laci nakas di samping ranjang dengan tangan gemetar.
Gangguan kecemasannya kambuh lagi, begitu kata psikiater yang kembali ia temui kemarin dan kini obat yang sudah lama dihindarinya terpaksa ia tenggak lagi.
Angkasa menutup laci dengan kasar, lantas menenggak pil tersebut dengan cepat. Sedangkan, gelas yang ia pakai untuk minum, ia lempar dengan kuat ke arah dinding hingga pecah berkeping-keping.
Kemudian, dengan tangis yang tidak bisa dibendung lagi, Angkasa membentur-benturkan kepalanya ke nakas. Dia merasa menjadi manusia tidak berguna, lemah dan tidak pernah diharapkan.
Kali biarlah air mata Angkasa menetes. Biarlah dia menangis dan meraung sekuat yang ia bisa.
Biarlah Angkasa menunjukkan sisi lemah yang selama ini selalu disembunyikannya.
***
Gantari merenggangkan tubuhnya nikmat sekali. Hari ini dia memutuskan untuk tidur lagi setelah salat subuh dan bangun lebih siang demi menghargai status barunya sebagai pengangguran.
Berjalan ke kamar mandi sambil mengucek mata, Gantari kembali teringat dengan Retic tersayang. Tak mau ambil pusing sepagi ini, Gantari akhirnya memutuskan untuk melanjutkan niatnya mencuci wajah.
Tin!
Tin!
Langkah kaki Gantari terhenti. Dia menoleh dengan kening berkerut.
Tukang sayur?
Dengan wajah penasaran, Gantari berbelok arah dan beralih mengintip jendela.
Retic?
Gantari memutar anak kunci dengan tergesa, lantas membuka cepat pintu rumah. Tatapannya tertuju pada sepeda motor matic berwarna merah yang sudah terparkir di depan rumah dengan mata berbinar.
"Ck! Kan udah kubilang, jangan sembarangan buka pintu."
"Astaghfirullah!" Gantari terlonjak kaget, lalu menoleh pada Nevan yang sedang memandangnya dengan kening berkerut tepat di sampingnya.
"Kamu ngambil Retic?" tanya Gantari masih takjub.
Nevan tersenyum, lalu menyisir rambut Gantari dengan jarinya. "Kusutnya rambut sayang aku ini."
"Gimana cara kamu ngambilnya?"
"Ya, tinggal ambil aja," jawab Nevan santai, masih tetap membenahi rambut Gantari dengan tatapan kian menghangat. "Lain kali jangan keluar rumah kayak gini, ya."
"Eh? Jelek banget, ya? Aku udah mandi, kok." Gantari refleks menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lantas mundur satu langkah, membuat Nevan mengulum senyum.
"Iya, jelek. Aku nggak suka, ya, kalau kamu stor muka bantal selain sama aku."
Gantari menurunkan tangan dari wajahnya, lalu mendelik sebal pada Nevan, membuat Nevan terkikik geli. Namun, sedetik kemudian wajahnya kembali serius.
"Aku serius."
__ADS_1
"Bodo."
"Sama Anwar juga nggak boleh."
"Terserah."
"Sama abang-abang tukang sayur apalagi. Nggak boleh."
"Au ah!"
"Bolehnya cuma sama Bang Nevan seorang."
"Dih!"
Setelah memborbardir godaan maut sepagi ini, akhirnya Nevan pergi. Itu juga lantaran Fikri yang rupanya menunggu di dalam mobil di depan gang akhirnya menyusul si bos yang katanya mampir sebentar, namun rupanya malah sibuk ngengombal.
"Pak, pagi ini ada pertemuan, loh," lapor Fikri setelah menyapa Gantari dengan manis yang hanya direspons Nevan dengan malas-malasan.
"Perempuan nggak bisa hidup cuma sama cinta, loh, Pak Nevan. Butuh uang juga buat makan," lanjut Fikri.
Nevan menoleh pada Fikri dengan tatapan siap perang.
"Kalau cemburu jangan segitunya juga dong, Fik."
Astaga.
Gantari cekikikan, lalu mengusir mereka berdua agar segera pergi, membuat Nevan menoleh pada Gantari dan baru menyadari sesuatu.
"Fikri, tutup mata kamu!"
"Kamu nggak dengar?"
Setelah mendengkus malas, akhirnya Fikri patuh juga. Dia memejamkan matanya dan membayangkan Nevan berbuat macam-macam pada Gantari.
"Bapak gila! Kalian kan belum nikah!" Protesnya dengan mata terbelalak.
"Loe yang gila!" sembur Nevan tidak terima sembari tangannya mendorong Gantari untuk segera masuk ke dalam rumah.
Ingat. Muka bantal Gantari cuma untuk Bang Nevan seorang, ceunah.
***
Meski siang hari lelah berkerja dan malamnya dilanjutkan untuk kuliah, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Shanessa. Buktinya, pagi-pagi begini dia sudah menyebar kebaikan dengan membawakan beberapa kotak besar donat yang di belinya di salah toko roti langganan, spesial.
"Wah! Bikin sendiri, Nes?"
Shanessa dengan malu-malu menggeleng. Masak saja dia tidak bisa, apa lagi buat donat.
"Lo liat-lihat dong San, itu di kotakkan ada merknya," cibir Fajar.
Sandra yang memang tidak menyadari, langsung melihat kotak yang dimaksud. "Kali aja bikin sendiri. Kan Gantari pinter banget masak," cetus Sandra tetap lanjut mengunyah donat rasa tiramisu.
Hati Shanessa tiba-tiba tersentil. Membahas Gantari dan membandingkan dengan dirinya bukanlah hal yang menyenangkan.
***
__ADS_1
"Kak Dee! Mau nitip sarapan nggak?" Anwar berteriak dari atas motor pada Gantari yang sedang menyiram tanaman.
"Nggak, An. Kakak bikin nasi goreng tadi. Kalau kamu mau masih ada, tuh."
"Serius? Mau, Kak." Anwar sudah hendak turun dari sepeda motor yang sedang dipanasinya tersebut ketika suara Bu Fatimah tiba-tiba menggelegar.
"Beliin gas Emak dulu, Anwar!"
Teriakan Bu Fatimah tersebut sontak membuat Anwar mengurungkan niat sembari cemberut.
"Bentar, ya Kak. Nyari gas dulu buat Kanjeng Mami," seloroh Anwar, lalu meluncur pergi dengan motor bebeknya setelah Gantari meneriakkan ok.
Bunga vinca yang diberikan kakek muda, sebagian besar sudah berbunga dan itu menjadi pelipur lara bagi Gantari yang bingung mencari kesibukan.
Pesona vinca memang luar biasa indah. Pantas saja, dari tadi Gantari sibuk jepret sana, jepret sini, untuk koleksi unggahan Instagram sembari dia menyirami jejeran tanaman hias di halaman rumahnya.
"Gantari."
Tubuh Gantari sontak menegang. Bukan satu kata itu yang salah, tapi suara yang mengucapkan kata itu yang membuat Gantari langsung memutar tubuhnya cepat dan memasang tampang siaga karena mendapati Angkasa sudah berdiri tidak jauh darinya.
Gantari melangkah mundur dengan gembor yang sudah jatuh ke tanah. Sekelebat bayangan kejadian kemarin siang memenuhi otaknya, hingga membuat Gantari bergidik jijik.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf." Angkasa mencoba mendekat, namun Gantari berteriak padanya agar kembali menjauh.
Angkasa patuh. Dia memenuhi semua perintah Gantari. Sungguh, dia juga merasa jijik dengan dirinya sendiri yang melecehkan wanita yang diam-diam punya tempat di hatinya.
"Gantari, aku membutuhkanmu." Setetes air mata lolos dari mata seorang Angkasa dan hal itu sukses membuat Gantari terhenyak.
"Aku benar-benar membutuhkanmu," suara Angkasa terdengar bergetar ketika melanjutkan. Ada kepahitan yang terdengar di sana dan juga keputus asaan.
Raut Gantari mulai melunak. Dia prihatin dengan keadaan mantan bosnya itu, terlebih ketika pengakuan Farez tentang Angkasa semalam, membuatnya semakin menaruh peduli.
Angkasa pernah berkali-kali mencoba menghabisi nyawanya sendiri.
Begitu, pengakuan Farez kala itu.
Gantari menggelengkan kepalanya. Tatapannya melembut ketika mengatakan, "Aku yakin, kamu kuat menghadapi kebenaran masa lalumu, Asa."
***
*celingak-celinguk*
Nevan : Loh, ini nggak ada iklannya, Jika?
Jika : Kagak. Males Jika ngeliat Abang ngengombalin Kak Gantari.
Bang Nevan : Cie, cemburu.
Jika : Dih!
Bang Nevan : Abang jodohin sama Anwar mau? Kalau sama Abang maap-maap aja ya Jika. Udah ada yang punya.
Jika : Astaga! Beli pede kiloan di mana, Bang?
Bang Nevan : HOAKAKAAK. Sini peluk.
__ADS_1