Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 105. Anggara masuk rumah sakit


__ADS_3

"Tidurlah," ucap Angkasa saat menyadari perempuan di pelukannya masih memeluknya dengan sangat erat.


"Mmmh, aku menunggumu tidur baru aku akan tidur." Ucapan Leora yang sedari tadi kesal pada pria itu karena Angkasa sudah berani membuatnya tertidur lalu diam-diam bangun menelepon Anggara untuk urusan pekerjaan.


Leora tahu kalau pria itu sangat sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia juga takut kalau sampai kesehatan suaminya terganggu karena pekerjaan.


"Baiklah." Jawab Angkasa lalu pria itu berpura-pura tertidur.


Selama 30 menit dia berpura-pura ia kemudian merasakan nafas Leora sudah teratur.


Angkasa melepaskan tangan Leora yang melingkar di pinggangnya lalu menggantikan dirinya dengan bantal guling untuk di peluk Leora.


Angkasa kemudian pergi keluar kamar untuk menelpon.


Humas Angkasa Raya, Adi.


"Halo, Tuan," jawab Adi dari seberang telepon, pria itu sangat terkejut karena Angkasa secara pribadi menelponnya, bahkan di tengah malam seperti itu.


"Bersihkan semua rumor yang menyangkut Liona dari Dunia Hiburan.


Juga, buat Radit kehilangan karirnya!" Kata Angkasa membuat pria di seberang telepon begitu terkejut.


Tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaan Angkasa lalu menutup telepon itu dengan gemetaran.

__ADS_1


Untuk apa Angkasa membantu seorang artis dari agensi tidak terkenal dan kemudian menghancurkan seorang aktor yang memiliki karir cemerlang dari agensi mereka?


Setelah Angkasa kembali ke dalam kamar, ia tertegun mendapati istrinya sudah terbangun dan menatapnya dengan raut wajah kesal.


"Kemari," kata perempuan itu dengan suara parau sembari matanya melototi Angkasa.


"Maaf," ucap ang5kasa naik ke tempat tidur bagai seekor anak anjing kecil yang sedang dimarahi oleh tuannya.


"Peluk aku," ucap Leora mengulurkan tangannya disambut oleh Angkasa lalu mereka berbaring bersama.


"Urusanmu sudah selesai?" Tanya Leora.


"Iya, maafkan aku." Ucap Angkasa.


"Hmm," jawab Angkasa.


Kedua orang itu dengan cepat terlelap di atas tempat tidur.


Sementara di sebuah kamar di rumah sakit, Anggara tertidur dengan nyenyak dengan infus dipasang di lengan kanan pria itu.


Gina dengan perut buncitnya duduk di samping Anggara sambil memegangi tangan pria.


"Bagaimana keadaannya Sa?" Tanya Gina cemas.

__ADS_1


"Dia kelelahan secara fisik dan mental. Dengan istirahat dia akan kembali pulih.


Tapi aku sarankan supaya dia tidak terlalu memaksakan tubuh dan pikirannya." Ucap dokter yang merupakan teman Gina di rumah sakit.


"Aku mengerti. Terima kasih atas bantuanmu." Ucap Gina yang tidak melepaskan raut kecemasan dari wajahnya.


"Sama sama Gin, sebaiknya kau juga tidur, bayi kalian juga memerlukan istirahat yang cukup apalagi kau sudah bekerja sepanjang hari.


Jangan sampai kamu jatuh sakit dan membuat keadaan semakin rumit."


"Iya Sa, aku mengerti." Jawab Gina lalu membiarkan dokter perempuan itu melanjutkan pekerjaannya.


Yosi yang melihat dokter telah keluar dari ruangan Anggara, ia langsung memasuki kamar pria itu dan melihat Gina dengan tatapan bersalahnya.


"Bagaiman keadaanya?" Tanya Yosi.


"Dia hanya kelelahan. Oh ya, terima kasih sudah membawanya ke rumah sakit." Jawab Gina.


"Ya, sama-sama." Jawab Yosi sebelum berpamitan pada Gina untuk meninggalkan rumah sakit.


Pria itu berpikir keras tentang apa yang baru saja terjadi.


'Apakah aku melakukan kesalahan?' gumamnya memandangi data pribadi yang digunakan Angkasa untuk menyamar.

__ADS_1


Dia sudah memeriksa nya berkali-kali dan jelaskan bahwa orang itu memiliki informasi yang asli.


__ADS_2