Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 110. Hak Asasi Manusia


__ADS_3

Leora tidur sampai sore, jadi Angkasa masuk ke dalam kamar untuk menunggui perempuan itu bangun.


"Apa dia kelelahan? Atau mimpi buruk?" Ucap Angkasa saat memperhatikan kening Leora dipenuhi dengan keringat.


Angkasa mengelap keringat Leora dan terkejut saat perempuan itu tiba-tiba mengunci badannya sebelum bangun dengan nafas tersengal.


"Sayang?" Angkasa langsung menarik perempuan itu ke pelukannya.


"Mimpi buruk." Ucap Leora berusaha menstabilkan nafasnya.


"Tidak apa,, tidak apa,," ucap Angkasa menepuk pelan punggung Leora.


"Aku mimpi keluargaku hancur! Aku mimpi kakek meninggal!" Ucap Leora dengan cemas.


"Sayang, mimpi itu hanya karena kamu terlalu banyak pikiran. Tidak usah cemas." Angkasa kembali menenangkan istrinya.


Pria itu terus menenangkan istrinya sampai akhirnya Leora menjadi lebih tenang dan dapat berpikir dengan jernih.


"Ayo pulang." Ucap Leora setelah tenang, keduanya lalumeninggalkan kantor.


Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Leora mengeluarkan berkas yang didapat dari Yosi.


Ia lalu menyerahkannya pada suaminya.


Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat catatan kesehatan yang berada di dalam amplop coklat.

__ADS_1


"Kau menyelidikinya, tidak apa-apa," ucap Angkasa menarik perempuan itu ke pangkuannya.


Ia tahu, perempuan itu mimpi buruk karena baru saja mendapatkan laporan kesehatan ibunya.


"Kau sudah tahu?" Tanya Leora saat pria itu bersifat spontan menghiburnya setelah membaca laporan kesehatan orang tuanya.


"Mmm,, kakekmu akan kembali dalam beberapa bulan.


Beberapa aset yang dimiliki kakekmu juga sudah di balik nama oleh ayahmu." Lagi kata Angkasa mengejutkan Leora.


"Ja,, jadi,," Leora tak percaya kalau ayahnya benar-benar nekat seolah pria itu takut kalau semua warisan yang dimiliki oleh Tetua akan jatuh ke tangan orang lain.


"Apa kau punya kecemasan lainnya?" Tanya Angkasa saat melihat wajah Leora tidak kunjung membaik setelah ia menghiburnya.


"Hmm, aku baru tahu kalau Ibuku dan mungkin semua orang di rumah hanya berpura-pura tidak bisa membedakan ku dengan Liona.


Ibuku mau mencegah supaya aku tidak membuat keributan di rumah." Ucap Leora meneteskan air matanya.


"Sudah,, ada aku di sini." Lagi hibur Angkasa.


"Menurutmu, apakah Liona juga tahu tentang kebohongan Ibuku?" Tanya Leora menatap suaminya.


"Dia tidak tahu. Tapi ayahmu mengetahuinya. Ibumu sudah menyelidiki tentang pembelian obat yang dilakukan oleh adikmu.


Dia menyelidikinya beberapa saat setelah Liona membeli obat itu." Ucap Angkasa yang sudah lebih dulu melakukan penyelidikan tentang keluarga Leora.

__ADS_1


Sayangnya, penyelidikannya terlambat, karena ia menyelidikinya setelah identitas Leora terbongkar.


Merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya tapi juga menjadi sumber keberuntungannya.


Kalau saja Liona tidak bertukar tempat dengan Leora, maka sekarang dia tidak akan pernah mendapatkan istri yang begitu mencintainya.


Sungguh sebuah takdir!


"Lalu, apa yang harus kulakukan?" Tanya Leora menatap suaminya dengan cemas.


Kegiatannya hari ini membuat pikirannya begitu kosong hingga ia tidak bisa berpikir dengan baik.


Jadi dia perlu mengandalkan suaminya untuk mengambil keputusan sesegera mungkin.


"Tidak perlu kuatir apapun tentang rumah, aku yang akan menanganinya untukmu." Ucap Angkasa membuat Leora merasa lega lalu kembali memeluk pria itu dengan erat.


"Aku pikir aku bisa menghadapinya sendiri, tapi pada akhirnya aku masih harus membutuhkan bantuan suamiku.


Terima kasih selalu ada di sisiku!" Ucap Leora penuh kehangatan.


"Selalu. Kapan pun istriku membutuhkan bantuan, jangan ragu mengatakannya padaku.


Bahkan jika seluruh dunia ini membenci istriku, maka aku akan melenyapkan nya dan membuatnya tunduk di bawah kaki istriku. " Ucap Angkasa membuat Yosi yang menyetir hendak muntah darah 5 liter.


'Lalu bagaimana nasib kami? Apakah di dunia ini hanya ada Tuan dan Nyonya sebagai manusia?!

__ADS_1


Sungguh tidak menjunjung tinggi hak asasi manusia!'


__ADS_2