
Leora baru saja tiba di lantai 5 ruang pemotretan, yang biasanya digunakan oleh para model senior yang sudah sukses mengharumkan nama perusahaan.
"Kau adik Leora yang bernama Liona?" Langsung sambut salah seorang model yang merupakan aset terbaik Dunia Hiburan.
"Ya benar, salam kenal Kak Linda." Kata Leora dengan ramah.
"Kau cukup baik, aku akan melindungimu." Kata Linda sebelum pergi meninggalkan Leora.
Leora memandang sesaat pada Londa sebelum ia juga mengambil posisi duduk.
Leora mengenal Linda sebagai salah satu model yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik untuk berkembang.
Tapi sayangnya, gadis itu memilih memulai karirnya pada perusahaan kecil seperti ini.
Jadi jalannya terhalang oleh banyaknya perusahaan besar yang memiliki kekuasaan.
Setelah duduk beberapa saat, akhirnya Aras datang juga, mereka langsung memulai latihannya.
Latihan itu itu dilakukan sampai malam hari, jadi Leora merasa sangat lelah.
"Minumlah ini, akan membantumu mengembalikan tenaga." Kata Linda tiba-tiba menghampirinya dengan sebotol minuman.
"Terima kasih." Kata Leora meraih minuman itu dan membukanya untuk diminum.
Setelah satu tegukan, Leora mengambil handuk di sebelahnya dan mengelap bibirnya.
"Kalau begitu aku duluan." Kata Linda sebelum pergi meninggalkan Leora.
Begitu Linda keluar dari ruang pemotretan, ia langsung belok ke toilet dan menelepon seseorang.
"Halo? Bagaimana?" Tanya Liona dari seberang telpon.
"Aku sudah memberikan minumannya dan ia sudah meneguknya. Aku meninggalkannya setelah memastikan Dia meminum satu tegukan, selanjutnya aku tidak mau ikut campur." Ucap Linda.
"Tidak masalah. Aku akan mengurus sisanya." Jawab Liona sebelum panggilan telepon Itu dimatikan.
Sementara Leora sudah keluar juga dari ruang pemotretan dan memasuki lift lalu turun ke lantai dasar.
Dari balik sebuah tembok, Linda memandanginya dengan cemas. "Maafkan Aku, aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya, hanya saja, aku tidak punya pilihan lain." Ucapnya dengan cemas.
Sementara Leora yang yang berjalan ke arah jalan Raya untuk menyetop sebuah taksi, tiba-tiba dihalau oleh sebuah mobil hitam dan beberapa orang menariknya ke dalam mobil.
Linda yang melihat kejadian itu hanya bisa bergetar di tempatnya, membayangkan jika dirinyalah yang ditimpa masalah seperti itu.
__ADS_1
"Pokoknya itu bukan salahku, Aku hanya dipaksa melakukannya!" Lagi katanya sebelum kakinya melemas dan ia runtuh dengan jiwa yang terasa meninggalkan raganya.
Sementara di dalam mobil hitam dengan seluruh kaca mobil tertutup, Leora begitu terkejut saat ia didudukkan dengan nyaman dan dan semua orang di dalam mobil kecuali sopirnya memberi hormat padanya.
"Maafkan kami Nyonya." Ucap sala satu dari mereka.
"Apa yang terjadi?" Tanya Leora dengan bingung.
"Kami juga tidak tahu, hanya seseorang menelpon ke geng di bawah pengawasan Tuan, dia meminta untuk menculik Nyonya.
Tapi kami tidak punya pilihan selain berpura-pura melakukannya untuk memuaskannya.
Maafkan kami," lagi kata pria di samping Leora.
"Baiklah. Antar saja aku pulang." Kata Leora sambil bersandar dan memejamkan matanya.
'Liona benar-benar sudah berubah.' gumamnya sebelum berusaha lelap ke dalam tidurnya..
Begitu Leora tiba di rumah, dia masih tidur di dalam mobil. Tidak ada yang berani menyentuhnya selain seorang pria yang memakai pakaian santai.
Pria itu tidak membangunkannya dan hanya membawa Leora ke atas kamar.
Pria itu lalu mencium kening Leora dan bergabung dengan Leora untuk tidur
Subuh hari menjelang saat pria yang sedang memeluk Leora terbangun karena alarm yang ia pasang.
Pria itu langsung mematikan alarmnya dan berbalik memandang Leora yang masih lelap dalam tidurnya. "Aku tidak tega membangunkanmu, tapi aku harus pergi sekarang." Ucap pria itu.
Pagi hari ketika Bibi kira bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat sebuah gelas kosong diletakkan diatas meja.
"Apa ini? Padahal aku sudah membereskan semuanya kemarin malam. Apa mungkin Nyonya ya?" Katanya membereskan gelas itu.
"Hmm, mungkinkah ini gelas Nyonya kemar,,," Bibi Kira menghentikan kata-katanya dan langsung berlari dari dapur menuju ke kamar Leora.
Begitu tiba di pintu kamar ia langsung membukanya dan mendapati Leora tidur dengan lelap.
"Syukurlah. Hah,, hah,, aku pikir terjadi sesuatu pada Nyonya." Ucap Bibi Kira berusaha menenangkan kecemasannya.
"Ada apa Bi?" Tanya Leora yang baru saja bangun karena mendengar suara pintu yang dibuka dengan keras.
"Maaf Nya, Saya cuma memastikan kalau Nyonya baik-baik saja." Ucap Bibi Kira sebelum menutup pintu dan kembali ke dapur.
Setelah makanan yang disiapkan di dikira selesai, Leora datang juga ke dapur untuk sarapan.
__ADS_1
"Terima kasih Bi." Kata Leora menikmati sarapannya.
"Sama-sama Nya." Jawab Bibi Kira.
"Bi, apa kemarin kita kedatangan kamu?" Tanya Leora.
"Tamu? Tidak ada Nya. Kemarin Bibi tidur cepat karena tiba-tiba saja kepala Bibi terasa pusing dan berdenyut-denyut. Jadi Bibi tidak bisa menunggu nyonya lagi, bibi langsung pergi tidur."
"Begitu ya Bi, lalu siapa yang memindahkan ku dari mobil ke kamar?" Tanya Leora berusaha mengingat kejadian kemarin, tapi ingatannya terpotong sampai ketika para pengawalnya minta maaf padanya di dalam mobil.
"Mungkinkah itu pengawal yang disiapkan oleh Tuan?" Ucap Bibi Kira menebak.
"Bibi ini, mana mungkin mereka berani menyentuhku." Ucap Leora masih memikirkan kejadian semalam.
...
Di sebuah jalan yang sepi tanpa ada rumah di sekitarnya, 2 buah mobil sedang terparkir.
Liona sedang bertemu dengan seorang pria yang memberikannya sekotak obat yang ia pesan.
"Nona, ini adalah obat yang sama dengan yang terakhir kali diberikan pada nona. Tapi nawarnya sudah habis, Jadi kami memperingatkan Nona untuk menggunakannya dengan baik.
Kalau sampai obat ini mengenai orang yang salah, maka penawarnya hanya bisa didapatkan dalam 3 bulan kedepan." Kata Pria itu.
"Tidak masalah. Aku tidak akan melakukan kesalahan. Sekarang, ini bayarannya, aku harus segera pergi sebelum ada orang yang curiga." Kata Liona menyerahkan uang pada pria di depannya.
"Baiklah. Aku tidak akan menghitungnya lagi." Kata pria itu sebelum keluar dari mobil Liona dan kembali ke mobilnya.
Liona kemudian meninggalkan tempat itu juga dan kembali ke rumahnya.
"Hanya ada 2 dosis. Tapi ini sudah cukup untuk Leora dan Luna. Dua pengganggu itu harus dimusnahkan!" Ucap Liona tersenyum puas.
Setelah tiba di kamarnya, Liona kembali mengambil ponselnya selalu menghubungi orang suruhannya.
"Halo Bos, jawab seorang pria dari seberang telepon.
"Kalian masih menahan nya bukan? Aku ingin memberi kalian sesuatu yang harus kalian berikan pada perempuan itu." Ucap Liona.
"Baik Bos, silakan Bos atur waktunya." Lagi jawab pria dari seberang telpon.
"Bagus, aku akan menghubungimu lagi nanti." Lagi kata Liona sebelum menutup panggilan itu dan segera keluar dari kamarnya.
Begitu tiba di meja makan, ia mengerutkan keningnya lagi saat melihat ayahnya dan Luna duduk berdua.
__ADS_1
'Tidak tahu malu! Lihat saja nanti Luna, sebentar lagi kau akan bersujud dan memohon padaku.' Gumam Liona sebelum duduk bersama kedua orang itu dan pura-pura seperti tidak terjadi sesuatu.