
Setelah meninggalkan istrinya, Angkasa langsung pergi ke perusahaan hingga mengagetkan Anggara yang sudah bernafas lega atas ketidakhadiran Angkasa selama beberapa jam.
"Selamat siang Tuan." Anggara menyambut Angkasa dengan punggung kaku nya karena melihat wajah Angkasa yang lebih buruk dari saat terakhir pria itu meninggalkannya.
"Segera kumpulkan semua staf, rapat bulanan dimajukan 1 jam lagi!" Kata Angkasa sebelum memasuki ruangannya.
Anggara yang mendengar itu hanya bisa mundur beberapa langkah, ia berusaha menstabilkan tubuhnya yang langsung lemas seperti agar-agar.
"Gawat!! Sesuatu yang besar sudah terjadi!" Ucap Anggara langsung bergegas ke ruangannya dan menghubungi semua orang untuk berkumpul di ruang rapat dalam 1 jam.
Sementara dia dengan gemetaran meraih ponselnya untuk menghubungi Leora.
Berulangkali dia menekan tombol panggil, tapi orang di seberang telepon tidak pernah menjawab panggilannya.
"Oh tidak! Kami semua akan mati di tangan Angkasa!" Ucap Anggara melemparkan ponselnya ke sembarang arah lalu mulai mencari berkas berkas yang diperlukan untuk rapat bulanan.
Beberapa saat ia mencari berkas-berkasnya Anggara kembali menggerutu.
"Hais!!! Apakah dia manusia?! Bagaimana mungkin menyiapkan rapat bulanan dalam waktu 1 jam?
Padahal kan sudah ditentukan kalau rapat bulanan akan digelar besok siang!" Gerutunya dengan frustasi.
__ADS_1
Ruang rapat.
"Tuan! Ada apa ini? Mengapa rapatnya di percepat?!"
"Ya, bukankah jadwal seharusnya adalah lusa??"
"Laporan dari kami belum selesai, ini akan membawa malapetaka saat Tuan Angkasa melihatnya!" Semua orang mengeluh, tapi Anggara tidak punya waktu untuk meladeni mereka karena dia masih mempersiapkan berkas miliknya.
Setelah menunggu 5 menit sambil berkeluh akhirnya Angkasa memasuki ruangan.
Orang-orang yang sedari tadi sudah ketakutan langsung memegang dengan sempurna saat melihat raut wajah Angkasa dan suasana yang dibawa pria itu ke dalam.
Sekarang mereka sadar kalau rapat bulanan dipercepat karena pria itu ingin menghibur dirinya dengan bersenang-senang.
"Matikan semua ponsel! Letakkan di tengah meja!" Tiba-tiba ucap Angkasa membuat Anggara terkejut dan menjatuhkan ponselnya.
Semua orang menuruti perintah Angkasa termasuk Anggara yang dengan hati tidak rela meletakkan ponselnya yang sudah retak karena jatuh ke lantai.
Pesan itu belum terkirim pada pawang sang iblis yang hendak mengamuk dalam rapat bulanan!
Tapi sudah terlambat untuk menyesalinya, karena rapat sudah dibuka dan Angkasa langsung beralih pada laporan yang akan disampaikan oleh Anggara.
__ADS_1
Anggara menelan air liurnya 'Laporanku yang berantakan akan menjadi makanan pembukanya!' Gumam Anggara.
Anggara lalu berdiri di podium dan mulai mempresentasikan laporannya.
"Tanpa membuang-buang waktu saya akan memulai.
Laporan seperti di lihat di layar," Anggara memperlihatkan laporannya lewat proyektor yang dipantulkan di dinding.
Angkasa baru melihat laporan itu dalam 2 detik saat dia langsung menajamkan tatapannya pada Anggara.
'Astaga! Tidak bisakah kau memberiku waktu menyampaikannya lebih dahulu?! Paling tidak satu kalimat saja!' Gerutu Anggara berdiri dengan tegang.
"Kau sebut itu laporan?!" Langsung tanya Anggara dengan suara malaikat pencabut nyawa yang sedang menyampaikan waktu kedatangannya pada seseorang yang akan Ia jemput.
"Ya,, ya Tuan." Jawab Anggara tergagap.
"Beraninya kau menjawab 'Ya,'?!" Bentak Angkasa melemaskan kaki Anggara.
"Maksud sayang tidak Tuan." Anggara mengoreksi jawabannya membuat pria di depan semakin menyerupai iblis pencabut nyawa yang sedang mengeluarkan tanduk kemarahannya!
"Kau tidak mengakui pekerjaanmu sendiri?!" Lagi kata Angkasa kembali membuat ruangan itu seperti neraka keabadian!
__ADS_1
Semua orang ingin mati karena siksaan yang mereka dapatkan, tapi siksaan dan kesakitan mereka abadi!