Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 113. Diusir dari rumah


__ADS_3

Bambang diseret dari dalam rumahnya sendiri.


Sementara Luna yang sudah bersikap baik kini dibiarkan saja berjalan sendirian sambil tertawa cengingiran merasa sangat puas.


Ya itu adalah jiwa seorang pelakor, mereka sangat senang dengan setiap kehancuran yang dibuatnya untuk satu keluarga.


Lagi pula, dia sudah mendapat mangsa baru yang lebih baik dari Bambang.


"Sialan kalian! Ini adalah rumahku! Beraninya kalian memperlakukanku seperti ini?!


Aku akan membunuh kalian semua!!!" Teriak Bambang yang diseret dari rumah yang sudah ia tempati sejak kecil.


"Maaf Tuan, ini perintah dari Nyonya!" Jawab salah seorang yang sedang memegangi Bambang.


"Haha,, Nyonya?! Kalian lupa siapa yang paling berkuasa di rumah ini?!


Itu aku!


Bahkan orang yang kalian sebutnya itu hanyalah pendatang di rumah ini!


Beraninya kalian lebih menuruti perintahnya dibanding aku!" Bentak Bambang tidak menggoyahkan keempat orang yang sedang menariknya dengan paksa.


Begitu tiba di gerbang, wajah Bambang langsung pucat pasi saat melihat sejumlah wartawan yang sedang menunggu di depan rumah untuk bertemu dengan Liona.


Orang-orang itu berdiri dengan kamera merekam. Mereka keheranan dengan adegan yang disuguhkan pada mereka.


"Tolong mundur!" Salah satu satpam memperingatkan wartawan supaya mundur lalu pintu dibuka sedikit dan Bambang beserta Luna didorong keluar.

__ADS_1


"Tuan Bambang, apa yang terjadi?"


"Tuan Bambang, mengapa Anda di usir dari rumah ini?"


"Tuan, siapa perempuan di sebelah Tuan? Mengapa dia keluar bersama Tuan?"


Semua wartawan kini sedang fokus pada Bambang dan Luna.


Mereka dengan gencar memberikan pertanyaan beruntun dan menurut Bambang beserta Luna.


Bambang yang kesal bahkan tidak mempunyai waktu untuk menjawab mereka, sementara dia tidak bisa lepas dari orang-orang itu karena semua orang mengerumuninya dan menjempitnya ke gerbang di belakangnya.


"Ibu,," Liona yang mendengar teriakan-teriakan langsung menghampiri ibunya yang sudah berdiri di balkon lantai 2.


"Kau baik-baik saja? Kini ayahmu sudah di usir." Ucapan Anasta saat melihat anaknya.


"Ya,, ibu sudah tahu. Hanya saja, Ibu tidak pernah menyangka ayahmu menjadi sangat kejam hingga melukaimu.


Maafkan Ibu." Ucap Anasta memeluk putrinya.


"Aku baik-baik saja Bu. Tapi Ibu? Apakah ibu baik-baik saja?" Liona melepas pelukannya dan memeriksa ibunya.


"Iya sayang. Ibu sehat. Tapi,, lihat putri Ibu, kau jadi begini karena Ibu. Ibu gagal melindungimu."


"Tapi Bu? Ehh,, mengapa Ibu malah mengusir Ayah?


Bukankah seharusnya Ibu hanya mengusir Luna saja?

__ADS_1


Bagaiman kalau keluarga kita menjadi sorotan dan malah menurunkan saham perusahaan?" Tanya Liona keheranan.


Ia sama sekali tidak keberatan kalau ayahnya diusir dari rumah, tapi yang jadi masalah adalah, dampak pada kekayaan keluarga mereka!


Saham perusahaan akan terpengaruh!


"Leora, kau tidak tahu apa pun. Sekarang, kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Jangan lupa menghubungi calon mertuamu dan menanyakan kabar Radit." Ucapkan Anasta dijawab anggukan Liona, karena udah tidak ada gunanya lagi tetap berlama-lama bersama ibunya.


Perempuan itu langsung meninggalkan Ibunya dan ke kamar.


'Ahh, beruntungnya. Kini tidak ada lagi yang menekan ku di rumah ini, dan yang lebih penting, semuanya sudah kembali normal.


Lalu, saingan untuk mendapatkan warisan kini berkurang.' Gumam Liona dengan puas


Sementara Anasta yang masih tinggal di balkon langsung meraih ponselnya dan menghubungi pengacara keluarga Casiora.


"Ya halo, selamat pagi Nyonya," jawab seorang pria dari seberang telepon.


"Selamat pagi, tolong ke rumah saya hari ini. Saya ingin membahas beberapa hal." Ucap Anasta mengejutkan pria di seberang telepon.


"Baik Nyonya, tapi saya baru bisa ke situ saat siang nanti.


Tapi sebelumnya, apa yang hendak dibahas?


Saya ingin mengetahuinya supaya bisa mempersiapkan berkas yang diperlukan."


"Perceraian dengan suami saya." Jawab Anasta sebelum mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


__ADS_2