
"Hikss,, aku tanya! Mengapa kamu melakukan hal seperti ini?!" Lagi kata Leora
Bagai sihir, ucapan Leora langsung membuat Angkasa menjadi rileks lalu pria itu membalas pelukan Leora, bahkan mengangkat Leora dan membawa perempuan itu ke sofa.
Angkasa duduk di sofa dengan Leora yang terisak di pangkuannya, meski pria itu tidak mengatakan apapun, tapi Anggara bisa menebak kalau pria itu menjadi tenang dalam sekejap.
Angkasa memejamkan matanya dan tetap bersandar dengan tangan memeluk erat Leora.
Tak berapa lama kemudian, terdengar nafas pria itu menjadi teratur seperti bayi yang baru saja tidur pulas.
Leora yang menangis di pelukan pria itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap wajah damai Angkasa.
Ia mengulurkan tangannya untuk membangunkan pria itu, tapi Anggara langsung mencegahnya.
"Biarkan dia istirahat." Kata pria itu berbisik dengan pelan.
Beberapakali Leora mengerjapkan matanya sebelum menyadari posisi mereka.
"Tapi Aku harus duduk dengan benar." Ucap Leora dengan cemas.
"Tidka perlu, kalian sudah lama tidak bertemu. Kau cukup diam saja di situ dan biarkan aku membereskan semuanya." Ucap Anggara sembari pria itu keluar dari apartemen.
"Lukanya banyak sekali," lagi kata Leora sembari menitikkan air matanya melihat tangan pria itu terluka di setiap sudut kulitnya.
Beberapa sayatan kecil juga menghiasi leher Angkasa, hal itu membuat Leora merasa tidak tenang.
Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh satu persatu luka itu. 'Harusnya pertemuan pertama kita setelah berpisah selama 1 bulan lebih harusnya romantis seperti surat yang kau kirimkan.
Tapi,, mengapa sekarang jadi kebalikannya?' Gumam Leora kembali menangis dan menyandarkan kepalanya di dada Angkasa.
Karena sepanjang hari Leora terlalu lelah dalam sesi pemotretannya, maka ia juga tertidur di pelukan angkasa.
Setelah beberapa saat, terdengar suara pintu apartemen terbuka.
Anggara masuk bersama beberapa orang pekerja yang langsung membersihkan ruangan itu dengan sangat senyap.
Para pekerja itu sangat profesional dan langsung membersihkan semuanya tanpa menimbulkan sedikitpun suara, apalagi sampai melirik pada Leora dan angkasa.
Hanya dalam 1 jam, mereka bekerja sangat cepat, ruangan itu telah ditata ruangan seperti semula tanpa ada satupun celah.
__ADS_1
'Aku harap mereka berdua tidak mengingat kejadian ini,' Gumam Anggara memandangi ruangan yang sudah ditata seperti sebelumnya.
Anggara sengaja mengatur agar barang-barang yang memenuhi ruangan itu ialah barang-barang asli, supaya Angkasa tidak perlu merasa malu karena Leora mengetahui traumanya.
Entah berapa lama mereka tidur, tapi saat Angkasa terbangun, ia terkejut mendapati seseorang sedang memeluknya sambil bernafas dengan teratur. Itu adalah istrinya sendiri.
Hal pertama yang ia lakukan adalah memperhatikan sekelilingnya. Sesuai dengan yang terakhir kali ia lihat, ruangan itu tidak berubah bahkan satu barang tidak bergeser walau 1 inchi saja.
Sementara Anggara, pria itu duduk memainkan ponselnya di salah satu sofa tunggal yang berada di sisi kiri angkasa.
"Kau sudah sadar?" Ucap Anggara saat tatapannya bertemu dengan tatapan Angkasa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Angkasa.
"Tidak ada, Aku baru saja datang namun mendapati kalian sudah tidur seperti itu. Sepertinya kalian terlihat baik-baik saja, Aku akan pergi sekarang." Kata Anggara merasa lega karena akhirnya ia bisa meninggalkan pria itu dan bertemu dengan istrinya.
Angkasa tidak mencegahnya, ia hanya memperhatikan tangannya yang terdapat beberapa luka yang sudah diobati.
'Apa dia melihatku?' Pikir Angkasa memandangi Leora, ia begitu takut kalau perempuan itu sampai melihatnya dalam keadaan terburuknya.
Tapi Angkasa bernapas lega saat ia melihat salah satu vas yang diletakkan di meja. Ia bisa mengetahui kalau vas bunga itu adalah vas asli, vas bunga yang hanya ada satu di negara mereka.
'Sepertinya luka ini kudapatkan di tempat lain. Syukurlah.' lagi gumamnya merasa yakin kalau ia tidak menghancurkan ruangan itu, apalagi sampai Leora melihatnya.
Dan seperti hari kemarin, di subuh harinya, Angkasa bangun untuk segera bekerja. Tapi ia merasa dilema untuk membangunkan Leora atau tidak, karena perempuan itu terlihat masih sangat lelap dalam tidurnya.
'Apakah dia merasa sangat nyaman tidur denganku hingga ia sama sekali tidak berubah posisi? Tapi aku harus pergi sekarang.' ucap Angkasa dalam hatinya merasa sangat tidak tega untuk meninggalkan perempuan itu.
Akhirnya Angkasa tidak membangunkan Leora dan hanya masuk ke kamar mandi untuk bersiap berangkat bekerja.
Setelah selesai dengan semua ritual paginya, Angkasa kembali ke atas ranjang dan masih menemukan Leora tertidur.
Angkasa hanya memandangi wajah Leora sesaat sebelum memberikan ciuman di kening perempuan itu. Lalu ia pergi.
"Selamat pagi Tuan." Sambut Anggara begitu Angkasa keluar dari kamar.
"Hmm," jawab Angkasa yang sedang berada dalam suasana hati yang buruk.
Sementara Leora yang ditinggal, ia masih lelap dalam tidurnya selama 2 jam. Namun saat bangun, Leora bagai orang yang dihempaskan dari tidurnya.
__ADS_1
Ia sangat terkejut mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar kosong.
"Angkasa?" Ucapnya langsung melompat dari tempat tidur dan memeriksa seluruh tempat di apartemen itu.
Leora langsung runtuh ke lantai saat mendapati apartemen itu telah kosong.
Ia terdiam sesaat sebelum air matanya keluar balai air terjun yang tak bisa dihentikan.
"Hiks,, apa aku bermimpi?" Ucapnya berusaha mengingat kejadian semalam.
"Apa itu mimpi?" Lagi isaknya sembari memperhatikan ruangan yang sudah sangat rapi, padahal kemarin sangatlah berantakan.
"Aku,, aku tidak mungkin mimpi! Jelas kemarin di sini sangat berantakan, mengapa sekarang jadi rapi seperti ini?" Lagi katanya sambil terus menangis.
Tapi ia beranjak dari tempatnya saat mendengar dering ponselnya dari dalam kamar.
Sambil terisak, Leora memasuki kamar dan mengambil ponselnya. Tertera nomor tak dikenal.
Leora memandangi layar ponselnya dengan tatapan membeku.
"Apa kemarin malam seseorang kembali memberiku racun dan membawaku ke sini?" Ucapnya langsung memeriksa tubuhnya.
Leora tidak puas hanya dengan melihat secara terbatas, ia langsung pergi ke dalam kamar mandi dan melepaskan seluruh pakaiannya lalu berdiri di depan cermin.
"Tidak ada bekas kekerasan." Ucapnya merasa sangat lega karena dalam hatinya Ia berpikir seseorang telah melakukan tindak kekerasan seksual padanya.
"Syukurlah, syukurlah,," kata Leora berkali-kali sembari memakai semua pakaiannya.
"Tapi kenapa aku di sini? Lalu bagaimana dengan apartemen yang berantakan?" Ucap Leora merasa linglung.
Leora masih terlihat seperti orang linglung saat ia keluar dari apartemen, ia berdiri di depan pintu apartemen memandangi nomor 321 yang diletakkan di depan pintu.
"Aku merasa seperti orang bodoh." Ucapnya sebelum meninggalkan tempat itu dengan pikiran yang masih berada pada peristiwa semalam.
"Jelas itu adalah peristiwa yang benar-benar terjadi. Tapi kenapa Angkasa menghilang begitu saja tanpa ada pesan? Apartemen itu juga tidak mungkin dibersihkan hanya dalam waktu satu malam.
Lagi pula, barang-barang disana semuanya terlihat asli dan langkah.
Tidak mungkin ada orang yang bisa menemukannya dan menggantinya dalam sekejap.
__ADS_1
Apa otakku sudah salah karena aku begitu merindukannya?" Leora kembali terisak sambil terus berjalan keluar dari gedung itu.
Ini dibuat buru-buru, jadi beritahu otor kalo ada typo atau kejadian gak logis.😁😁