Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
Pengumuman


__ADS_3

Halo, karya baru otor sudah tiba...


Judul: Kembalinya Perempuan Buangan


yuk,, baca dulu 2 caphter ini.. lalu langsung cek ya ke profil otor atau di laman pencarian.


Kamar dengan lampu bercahaya remang-remang, seorang pria yang tengah diberi obat berbaring gelisah di atas tempat tidur dengan nafas tersengal.


Lalu di pintu kamar itu, seorang perempuan mendorong perempuan lainnya ke dalam kamar itu.


"Istirahatlah di sini." Kata gadis yang mendorong.


Laila yang berpakaian putih memiliki kepercayaan besar pada Mira yang mendorongnya, jadi dia segera masuk ke kamar itu dan dan melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.


Tapi, dalam kesadarannya yang samar-samar, seseorang malah menindihnya dan mengunci tubuhnya dengan kuat.


Sesuatu yang buruk!!!


Laila memberontak karena tak suka dengan pemaksaan, tapi apa daya, tubuh kecilnya yang lemah tak cukup kuat menahan bahaya.


....


Laila berdiri gemetaran dengan airmata menghiasi pipi mulusnya.


Ia ada di depan rumahnya dengan satu tangan menggenggam erat sebuah koper ukuran sedang yang ia letakkan di depannya.


Sementara tangan yang lainnya memegangi perutnya yang sudah membesar karena sebuah nyawa didalamnya.


Di depannya, orang tuanya sedang bertengkar tentang siapa yang akan membawa Putri perempuan mereka yang tengah hamil 8 bulan.


"Pokoknya aku tidak mau membawanya! Kau sudah tahu ‘kan, aku akan menikah dengan keluarga konglomerat!


Bagaimana bisa aku membawa seorang putri yang yang sedang mengandung tanpa seorang suami?


Dia akan mempermalukanku kalau semua keluarga calon suamiku tahu anakku yang baru berumur 14 tahun sudah hamil diluar nikah!" Ucap Irmawati sambil memandang jijik pada Laila.


"Lalu, kau pikir aku mau membawa anak perempuanmu itu?!


Tidak! Aku juga akan menikah dengan seorang perempuan yang yang merupakan pengusaha!


Dia sudah memiliki 2 orang anak, jadi aku tidak mungkin membawa dua orang tambahan lagi yang akan menjadi beban!" Jawab Wijaya tak kalah marahnya!


"Anak perempuanmu?! Lalu kau pikir Laila ini bukan anakmu?!


Pokoknya, kau sebagai kepala keluarga harus bertanggung jawab penuh padanya!" Teriak Irmawati dengan urat-urat lehernya sampai muncul ke permukaan saking marahnya perempuan itu.


"Kau!! Masih berani tidak mengakui kalau dia bukanlah anakku?!


Lihat sekarang ‘kan?!


Kau yang hamil oleh laki-laki lain kini diturunkan pada anak perempuanmu yang hamil oleh laki-laki yang tidak diketahui identitasnya!


Sampai mengandung seperti ini dan membuat aku harus kehilangan rumah warisan keluargaku!


Pokoknya! Urus! Dia! Aku! Pergi!" Wijaya masih melemparkan tatapan tajam pada Laila sebelum menarik kopernya lalu memasuki mobil dan meninggalkan kedua perempuan yang sudah tinggal bersamanya selama belasan tahun.


Irmawati tertegun melihat kepergian pria itu!


Detik berikutnya ia memandang marah pada Laila yang masih berdiri diam dengan tubuh gemetaran.


"Anak sialan! Lihat sekarang! Aku mendapat penghinaan dari pria sialan itu karena ulahmu!


Beraninya kau mempermalukanku dengan hamil di luar nikah pada umur 14 tahun?!

__ADS_1


Mulai sekarang, Jangan panggil aku ibu dan jangan pernah berniat untuk menemuiku!


Aku tidak pernah punya Putri memalukan sepertimu!" Bentak Irmawati sebelum perempuan itu meraih kopernya lalu pergi juga meninggalkan Laila sambil menyeret kopernya.


"Hiks,, hiks,," setelah kepergian ibunya, Laila kemudian runtuh di tanah sambil menangis dengan keras.


Ia memukul keras perutnya yang sudah membesar.


"Sialan!! Anak sialan!! Mengapa kau harus muncul di dalam perutku?!


Apa salahku hingga kau datang mengacaukan kehidupanku?!


Hiks,, hiks,, sekarang semua orang meninggalkanku dan memandangku dengan hina!


Itu! Semua! Karena! Kau! Bayi! Sialan!" Teriak Laila terus memukuli perutnya.


"Hei! Perempuan hina!" Tiba-tiba suara gadis remaja membuat Laila berhenti memukul dirinya sendiri dan memandang dengan mata merahnya pada sosok bergaun merah maroon yang berdiri menatapnya dengan cemooh.


"Kau! Gadis sialan!!" Laila langsung berdiri dan menyerang perempuan itu.


Tinju dan tendangan yang lemah, makian serta cakaran mendarat sempurna pada seluruh tubuh perempuan berumur 15 tahun itu.


Anita membiarkan Laila melakukannya, karena dia sedang menunggu seseorang yang akan datang menyelamatkannya.


"Anita sialan!! Karena kau, aku diusir dari rumah dan ditinggalkan oleh ayah dan ibuku!


Kau membuatku memiliki anak sialan di dalam perutku dan membuatku harus hidup di jalanan!!"


Laila masih terus memukuli Anita sampai seorang pria datang dan memisahkan mereka berdua.


"Kak Rama!" Anita langsung bangkit dan memeluk Rama dengan erat.


Tubuh Anita bergetar hebat dan tak berani menatap pada Laila yang masih memandanginya dengan kemarahan.


"Kalian!!" Laila menggertakkan giginya.


Lihat! Dia sampai gemertaran seperti ini!" Ucap Rama dengan tatapan dipenuhi ketidaksukaan pada Laila.


"Kak Rama?! Mengapa kau malah membela gadis itu?!" Tanya Laila tak percaya.


"Aku hanya melindungi pihak yang menurutku benar." Jawab Rama sembari memperbaiki rambut Anita yang berantakan.


"Hahaha... Bagus sekali! Kak Rama sedang membela pihak yang benar?


Pilihan yang sangat tepat!" Tawa Laila sambil menangis seperti orang gila.


Benar, dialah yang salah karena tidak bisa melindungi diri hingga dijebak oleh Anita!


Bab 2


Laila diam memandangi keromantisan yang sedang dipertontonkan di depannya sebelum merasa muak "Apakah Kak Rama pernah memikirkan bagaimana perasaanku setelah dijebak oleh Nya?!


Dia memberiku obat di acara reuni hingga aku dilecehkan pria tak di kenal! Aku hamil!


Ayah ibuku bercerai!


Mereka meninggalkanku!


Aku tak punya rumah! Aku akan hidup di jalanan karena perbuatan gadis sialan ini!!!" Ucap Laila kembali dipenuhi kemarahan dan hendak menyerang Anita seandainya Rama tidak menghalanginya.


"Sudha cukup! Tidak tau ka kau kalau Anita juga sangat menderita karena kehilafan yang sudah ia lakukan?!


Tolong maafkan dia, dan hidupla dengan baik mulai sekarang, ok?" Ucap Rama pada Laila.

__ADS_1


"Cukup?! Dia menderita?! Hidup dengan baik?!


Kau bajingan!!!


Bahkan jika gadis itu mati, tidak akan sebanding dengan penderitaan yang sudah kualami!


Biarkan!! Biarkan aku memukulnya sampai dia mati!!" Laila kembali dipenuhi kemarahan dan melompat ke arah Anita untuk memukuli perempuan itu.


Tapi Rama ingin melindungi Anita, jadi dia tanpa sengaja mendorong Anita hingga remaja itu jatuh tersungkur.


Bruk!


Tiba-tiba saja darah mengalir deras di bawah kaki Laila.


Laila memperhatikan darah yang banyak mengalir di bawah kakinya.


"Haha,,, akhirnya!! Akhirnya bayi sialan ini keluar juga!


Aku sudah cukup menderita karenanya!! Baguslah, sekarang aku bisa memperbaiki semuanya!


Semuanya akan diperbaiki sesuai yang kalian inginkan!" Ucap Laila bagai orang gila yang tidak tahu apakah dia sedang senang atau sedih.


Yang jelas, ia sama sekali tidak merasa sakit!


"Kak, Rama!" Langsung kata Anita yang terkejut.


Rama melepaskan pelukannya pada Anita lalu segera berlari pada Laila menggendong remaja itu ke dalam mobil.


Rama melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.


"Hahaha... Ternyata dibalik kelicikan kalian berdua, masih tersisa ruang untuk kebaikan.


Tak kusangkah!


Orang yang akan membawaku ke rumah sakit adalah orang yang telah membuatku hamil diluar nikah lalu membuatku keguguran!


Sungguh skenario yang mengagumkan!" Ejek Laila yang kini tidak peduli akan kesakitan yang ia rasakan.


Sejak dahulu, Laila adalah anak yang pintar, sudah bisa membaca di umur 4 tahun, menguasai 5 bahasa di umur 7 tahun dan menjadi lulusan SMP terbaik se-nasional!


Tapi semua itu telah dihancurkan oleh sahabatnya yang menjebaknya dengan obat tidur hingga harus dilecehkan seorang pria tak dikenal.


Lalu orang yang dicintainya, Rama, direbut sahabatnya sendiri!


"Berhentilah berbicara! Kita akan segera sampai di rumah sakit." Ucap Rama dari depan sembari terus fokus mengendara.


"Haha,, tak kusangkah, Karena kecantikan, kepintaran dan sikapku membuat sahabatku sendiri dan seorang pria yang kucintai kini menusukku dari belakang!" Ucap Laila sambil tertawa.


Anita menggertakkan giginya, 'Sial! Bisa-bisanya dia menuduhku iri pada semua yang dia miliki?!


Tapi tahan, kau sedang ada di depan Kak Rama, jangan menghancurkan reputasimu Anita sayang!' Gumam Anita mengigit bibirnya.


Rama tidak menjawab Laila, tapi dia sesekali melihat kebelakang, dimana seorang gadis remaja kini berlumuran darah, tapi sama sekali tidak menampakkan wajah kesakitan.


"Kak Rama, aku rasa apa yang dikatakan oleh Laila, semuanya itu benar.


Sebaiknya,, aku tidak usah ikut ke rumah sakit, aku tidak mau Laila terganggu karena terus melihatku." Kata Anita dengan wajah sedih sembari menitikkan air mata buaya nya.


"Anita, Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Bagaimana mungkin aku tega menurunkan mu di jalanan pada tengah malam seperti ini?!


Pokoknya kau akan ikut ke rumah sakit." Ucapan Rama membuat Laila yang terdiam di belakang kedua orang itu hanya bisa tersenyum samar.


Hatinya sakit, dan tubuhnya juga sakit, adakah yang berani mengatakan kalau dia lebih menderita daripada nya?

__ADS_1


Tidak!! Ada!!


Kuy,, cek profil otor.... judulnya; Kembalinya Perempuan Buangan


__ADS_2