
Agensi Angkasa Raya.
"Bagaimana hasil audisinya?" Tanya Siya pada dua orang yang baru saja tiba di ruangannya.
"Hasil belum keluar, para juri membutuhkan waktu lebih lama untuk memikirkan model yang paling tepat." Jawab Via membuat Siya mengeryit.
"Belum di tentukan? Apa maksudmu?" Tanya Siya.
"Karena banyaknya peserta yang mengikuti audisi, mungkin juri menemukan orang lain selain Kak Leora yang perlu dipertimbangkan.
Pihak WO baru saja mengatakan akan mengumumkannya dalam beberapa hari kedepan." Lagi jelas Via.
Siya mengangguk "Baiklah. Hasilnya akan tetap sama. Akan menjadi milik kita.
Kalau begitu, ini adalah beberapa project yang bisa kau pertimbangkan untuk pekerjaan berikutnya.
Tapi jika kau mau menerima saranku, fashion week di Singapura sangat bagus untukmu karena akan mendatangkan beberapa model ternama." Kata Siya menyerahkan beberapa dokumen pada Liona.
"Kalau begitu, aku akan pulang lebih awal." Ucap Liona sebelum perempuan itu mengambil dokumennya dan keluar dari ruangan Siya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Siya.
"Aku akan menghubungi ke Siya untuk melaporkannya nanti.
Sekarang aku harus menyusul Kak Leora dan memastikannya dia pulang dengan selamat." Jawab Via tanpa menunggu jawaban dari Siya dan langsung menyusul Liona.
__ADS_1
'Sialan! Siapa lagi yang dipertimbangkan para juri kalau bukan Leora!
Dia sudah merusak rencanaku dengan berpura-pura tidak tahu tentang audisi itu hingga ia mengikuti audisi nya.
Aku harus punya rencana lain supaya bisa mengambil peran itu dan bertemu dengan Kak Radit.' gumam Liona yang mulai cemas tentang Radit.
Liona begitu takut kalau Radit akan berpaling darinya karena selama beberapa waktu terakhir, pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga lupa menghubunginya.
"Kak Leora, Kakak tidak perlu cemas. Aku yakin, posisi Duta WO akan menjadi milik Kakak.
Saat ini, para juri mungkin melirik orang lain, tapi tidak akan ada yang bisa menyaingi Kak Leora.
Mari menunggu beberapa hari lagi." Kata Vin berusaha menenangkan Liona yang sedari tadi menekuk wajahnya.
Rumah keluarga Casiora.
Liona pulang larut malam dengan mood yang buruk.
Ia baru naik ke lantai dua saat ia mendengar suara-suara aneh dari balkon utama.
Sambil mengerutkan keningnya, Liona berjalan ke arah balkon dan mengintip dari balik tirai.
Ia langsung melototkan matanya saat melihat ayahnya dan Luna sedang bermesraan di sana.
"Sayangku, Terima kasih sudah mau membawaku ke rumah ini. Meskipun menyamar sebagai anak angkatmu, tapi aku cukup senang karena bisa berduaan seperti ini setiap hari." Ucap Luna yang sedang meraba-raba dada Bambang.
__ADS_1
"Aku juga senang. Tapi maaf karena statusmu di rumah ini tidak terbuka. Tapi pelan-pelan, aku akan berusaha merubah statusmu.
Lagi pula, saat ini dia sedang menderita penyakit jantung.
Hanya perlu menunggu sebentar saja supaya kau punya kesempatan untuk menggantikannya." Jawab Bambang membuat Liona menggertakkan giginya dengan keras.
'Pelakor sialan! Malam ini akan menjadi hari terakhirmu!' ucap Liona dalam hati lalu ia bergegas ke kamarnya.
Setelah mengganti baju, Liona pergi ke kamar orangtuanya dan mendapati ibunya sedang tidur pulas.
"Dasar Ibu, dia malah tidur begitu pulas saat suaminya bermain api di dalam rumahnya sendiri." Ucap Liona merasa pada ibunya.
Leora mengintip balkon utama sebelum pergi ke kamar Luna.
Liona mengeryit saat melihat pintu kamar itu tidak dikunci dan sedikit terbuka seperti penghuninya terburu-buru memasuki kamar.
Begitu mendekat ke sana, Liona mengintip dari balik pintu dan melihat kejadian tak senonoh yang dilakukan oleh ayahnya dan Luna.
Liona tak tahan lagi! Ia langsung mendorong pintu itu hingga mengagetkan 2 orang yang sedang bergulat di ranjang.
"Kalian berdua! Aku akan melapor pada Kakek!" Teriak Liona sebelum menutup pintu dengan keras lalu meninggalkan kamar itu.
Sementara berjalan ke kamarnya, Liona menggenggam erat spoit yang ada di tangannya.
'Aku harus menghubungi Kakek!'
__ADS_1