Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 189. Mengapa hanya percaya pada Liona?


__ADS_3

Akhirnya, setelah Liona mendapat penanganan dari medis perempuan itu kini kembali berbaring di kamarnya meski belum sadarkan diri.


Tetua, Angkasa juga sudah berada di ruangan itu.


Bahkan orangtua Radit juga kembali ke rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa Liona hampir keguguran karena obat yang diberikan Leora.


Angkasa duduk merangkul istrinya menunggu saat perempuan itu bangun dan mengatakan sandiwara menjijikkan pada semua orang.


Setelah menunggu 3 jam, akhirnya harapan Angkasa terkabul juga. Liona bangun dengan tubuh lemasnya dan langsung memeluk suaminya sambil menangis.


"Bagaimana? Bagaimana anak kita?" Langsung tanya Liona.


"Tenang saja, dia selamat. Dia anak yang kuat." Ucap Radit menenangkan Liona.


Liona yang sedang berpura-pura menangis begitu terkejut karena anak itu tidak keluar dari kandungannya.


Padahal suster sudah menghitungkannya waktu sejak ia melakukan hubungan dengan Radit.


Bahwa anak di dalam kandungan nya kemungkinan besar bukanlah anak Radit.


Karena testpack tidak terlalu cepat untuk mendeteksi kehamilan yang belum cukup 2 minggu, sementara dia dan Radit, hubungan pertamanya dengan pria itu belum cukup dua minggu.

__ADS_1


"Syukurlah,, hiks,, hiks,, aku sudah sangat takut tadi." Isak Liona berusaha meneruskan sandiwaranya.


"Tennaglah, sekarang ceritakan kejadian yang sebenarnya." Ucap Radit dengan ajha cemasnya.


"Ya sayang, ceritakan pada kami semua, bagaimana bisa kau minum racun itu?" Tanya Anasta dengan cemas.


"Ibu,, hiks,, hiks,," Liona berpindah memeluk ibunya sebelum menatap pada Leora dengan ketakutan.


"Setelah menghabiskan minuman yang diberikan Kakak, aku tiba-tiba merasa ada yang anaeh, lalu aku tidak sadar lagi setelahnya." Ucap Liona.


"Apa?! Kau merasakan keracunan setelah minum minuman dari kakakmu?" Tanya Anasta tak kalah terkejutnya.


"Iya Bu,, aku hampir saja kehilangan bayiku, bayi yang akan menjadi cucu pertama ibu!" Isak Liona kembali mengingatkan semua orang kalau bayi itu sangat berharga untuk semua orang.


"Leora?!" Ucap Anasta mengabaikan tatapan datar Angkasa.


"Aku tidak melakukan apapun, dia hanya menyuruhku mengambil obat herbal yang ada di dapur lalu aku membawanya kemari dan memberikannya.


Aku tidak tahu kalau dia akan menjebakku lewat minuman itu." Ucap Leora dengan santai.


"Kakak! Bagaimana bisa kau menuduh hendak menjebakmu dengan cara membahayakan anakku?

__ADS_1


Bahkan jika aku mati, itu bukan masalah yang besar.


Tapi anak dalam kandungan ku,, dia adalah nyawa yang tidak berdosa, dia begitu berharga!" Teriak Liona sebelum kembali bersandar pada Radit karena tubuhnya yang begitu lemah.


Melihat Liona terisak, Leora menghela nafas lalu memeluk suaminya dengan erat.


"Leora, tidak usah berpura-pura. Semua orang tahu kalau kau dan adikmu sendirian di dalam ruangan sebelum Ibu meninggalkanmu. Sekarang akui saja supaya kita semu-"


"Apa Bu? Suapaya semua orang tahu kalau putri ibu ini adalah putri yang tidak berbakti?


Sejak dulu ibu selalu membela Liona dan selalu mengatakan padaku kalau aku adalah kakak yang seharusnya melindungi adikku.


Tapi saat adikku memfitnahku, bagaimana bisa Ibu berat sebelah dengan lebih mempercayai Liona hanya dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Tidak ada bukti bahwa aku yang melukainya!


Kenapa ibu tidak percaya padaku?


Mengapa hanya percaya pada Liona?!" Ucap Leora yang kini mennagis memandangi perempuan yang sudah terlihat asing baginya.


"Ibu, aku tidak mungkin berbohong! Mana mungkin aku mengorbankan bayiku hanya untuk menjebak kakak?

__ADS_1


Jelas aku sudah meminta maaf kepada kakak, tapi ternyata kakak masih menyimpan dendam hingga berniat membunuh adik dan calon keponakannya sendiri!" Ucap Liona terisak keras hingga membaut ruangan itu terlihat kelam dengan persiteruan saudara kembar.


__ADS_2