
"Sayang!!" Anasta masih menangis saat Radit tiba-tiba membuka pintu dengan keras lalu laki-laki itu langsung menghampiri Liona yang berbaring di tempat tidur.
Dengan cepat, Anasta menyeka air matanya lalu perempuan itu berkata "Ibu akan pergi ke kamar mandi." Ucapnya sebelum meninggalkan kedua orang itu.
"Sayang, apa terjadi sesuatu? Bagian mana yang sakit?" Tanya Radit sembari memperhatikan seluruh tubuh Liona.
"Tidak,, aku baik-baik saja. Hanya saja, waktu aku bangun tadi, kepalaku terasa sangat sakit.
Mungkin aku pingsan karena kelelahan lalu dibawa ke sini." Ucap Liona yang belum mau mengatakan soal penculikan, ia masih gugup dengan rasa sakit yang aneh di area pribadinya.
'Semoga saja tidak seperti yang kupikirkan, kalau tidak,,' Liona menghela nafasnya.
"Hah,, ini semua salahku, pernikahannya berlangsung sangat lama ditambah adegan kecelakaan yang dialami Calista dan Liona.
Semua itu membuat menjadi kelelahan hingga masuk rumah sakit seperti ini.
Oya, apa kau menginginkan sesuatu? Apa kau sudah makan?" Tanya Radit.
"Ahh, benar, aku lapar. Tapi,, aku ingin makanan dari restoran yang biasa kita kunjungi.
Bisakah aku mendapatkannya?" Tanya Liona yang jelas tahu kalau restoran itu telah tutup.
"Baik,, akan kuusahakan. Kalau begitu, istirahatlah dulu di sini, katakan pada ibu kalau aku akan segera kembali." Ucap Radit lalu pria itu segera meninggalkan Liona.
'Untung saja, aku pikir terjadi sesuatu padanya, malam pertamanya juga tertunda, tapi tidak masalah, yang penting dia baik-baik saja.' gumam Radit meninggalkan klinik.
"Sayang," Anasta sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Liona dengan kecemasannya.
"Iya,,, Liona, apa yang dikatakan Radit?" Tanya Anasta.
"Ah dia hanya menanyakan kabarku, lalu aku ingin makan dan sangat ingin makan makanan di restoran yang biasa kami datangi.
Tapi restoran itu sudah tutup sekarang, tapi dia berjanji untuk mendapatkan makanan dari restoran itu.
Dia baru saja pergi dan menyuruhku mengatakan pada ibu kalau dia akan kembali membawakan kita makanan.
Tapi Bu,, sebenarnya apa yang terjadi?
Mengapa ibu terus menangis?"
"Sayang,, anakku,, hah,, Ibu tidak tahu harus menceritakannya seperti apa." Ucap Anasta terus menghela nafasnya.
"Bu,, katakan,, katakan kalau aku tidak diapa-apakan oleh penculiknya kan?" Tanya Liona mengatupkan giginya.
"Sayang,, maafkan ibu,, ibu gagal melindungi mu." Ucap Anasta membuat Liona menggila.
"Ibu!! Aku tidak butuh jawaban lain! Katakan saja, apakah aku sudah dilecehkan atau tidak?!" Liona meneteskan air matanya saat ia semakin dekat dengan jawaban iya.
Anasta semakin terisak, "Maafkan ibu,, maafkan ibu, maaf." Anasta menangis dengan keras menatap putrinya yang diam mematung.
"Jadi benar?!"
"Maaf, maaf sayang."
__ADS_1
"Aku,, aku! TIDAK!!!!!!!!!!" Liona berteriak kencang.
Satu-satunya yang bisa ia jaga adalah kehormatannya, satu-satunya senjata yang akan ia gunakan untuk memikat hati Radit! Tapi sekarang,,,,
"Leora,, Leora tenang,"
"Tenang?! Aku tidak bisa! Aku baru saja menikah dan,, apa,, apa yang harus kulakukan sekarang?!
Radit akan menceraikan ku Bu! Dia akan meninggalkanku!" Liona mennagis dengan keras.
"Sayang,, tenanglah,, tenang." Ucap Anasta ketakutan. Takut kalau anak gadisnya sampai melukai dirinya sendiri.
"Tenang?! Ibu!! Ini semua gara-gara ibu!! Harusnya ibu melindungiku supaya tidak di culik!
Aku kehilangan perawan ku gara-gara ibu!!" Teriak Liona pada Anasta.
"Sayang,, maaf, maafkan ibu,,"
"Apa? Minta maaf? Apa itu bisa mengembalikan kehormatan ku?!
Tidak bisa Bu!! Aku akan menjadi janda sebelum ayam berkokok!" Teriak Liona menampar ibunya membuat Anasta mundur beberapa langkah.
"Li,, Liona!!" Teriak Anasta memarahi Liona.
"I,, Ibu,, aku,, aku minta maaf!" Liona terkejut, bagaimana bisa ia menampar ibunya?
Ibunya bahkan menyebut nama aslinya!
__ADS_1