
"Selamat siang Nyonya." Pengacara Casiora tiba menemui Anasta.
"Pak Iram, silahkan duduk." Kata Anasta menyambut pria berumur 40-an itu.
"Bi, tolong buatkan minuman." Perintah Anasta saat Iran sudah duduk di depannya.
"Jadi, Pak Iram begini, tentang perjanjian pra nikah yang dibuat antara saya dan suami saya, saya akan menggunakan itu untuk menuntut suami saya." Ucap Anasta mengejutkan Iram.
"Menggunakan surat itu? Memangnya,,"
"Ya, suami saya selingkuh. Dan saya sudah mengumpulkan semua bukti-bukti yang bisa bapak gunakan untuk menuntut suami saya." Lagi kata Anasta.
"Baik, saya mengerti Bu," jawab Iram mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan memberikannya pada Anasta.
"Saya yakin, nyonya menghafal isi surat pranikah itu.
Tapi saya berharap Nyonya bisa membaca ulang supaya Nyonya bisa mempertimbangkan keputusan ini." Ucap Iram disambut oleh anggukan Anasta lalu perempuan itu mulai membaca kembali surat perjanjian pranikah yang sudah ia dan suaminya tandatangani.
"Bu?" Tiba-tiba Liona muncul dari belakang Anasta.
Kata surat perjanjian pranikah sangat menarik perhatiannya.
"Leora, duduklah." Ucap Anasta diikuti Liona yang langsung duduk di sebelah Ibunya dan ikut melihat surat yang ada di tangan Anasta.
"Bercerai dengan semua warisan dari keluarga pihak yang dituntut akan diambil alih oleh pihak penuntut?"
__ADS_1
"Ayah akan dihapus dari daftar keluarga Casiora?"
"Denda 5 milyar?" Mata Liona terbelalak membaca semua perjanjian yang sudah ditandatangani oleh ayah dan ibunya.
"Hmm, sebelum menikah kami sudah menyepakati surat perjanjian ini.
Bahkan saksinya adalah perwakilan dari pihak keluarga perempuan dan laki-laki.
Jadi surat ini sah secara hukum asalkan melampirkan bukti bukti perselingkuhan ayahmu." Ucap Anasta memandang nanar pada anaknya.
Ia takut kalau Liona mungkin tidak setuju dengan keputusan yang ia ambil.
Bagaimana pun, Bambang merupakan ayah kandung Liona.
"Begitu ya. Kalau begitu aku setuju, ini akan membuat ayah jerah.
'Bagus,,,, tidak ada Ayah berarti bagian warisanku akan semakin besar.
Lagi pula apa yang dimiliki Ibu akan menjadi milikku juga karena aku adalah anak kesayangan Ibu.'
"Baguslah kalau kamu mengerti dengan perasan ibu." Ucap Anasta menatap pada putrinya sebelum menoleh kepada pengacara di depannya.
"Pak, tolong segera di proses. Bukti-bukti perselingkuhan suami saya akan saya berikan pada Pak Iram setelah semuanya terkumpul." Kata Anasta.
"Baik Nyonya. Semuanya akan saya bereskan.
__ADS_1
Tapi sebelumnya, saya perlu minta izin untuk memberitahukan kejadian ini pada Tetua.
Bagaimana pun, dia adalah kepala keluarga Casiora." Jawab Iram.
"Tidak masalah. Tapi saya akan lebih dulu memberitahunya.
Karena saat ini, Tetua sedang menjalani pengobatan di luar negeri.
Saya takut, kalau dia mendengarnya dari orang luar, Tetua mungkin semakin terkejut." Ucap Anasta disanggupi Iram sebelum ketiga orang itu berpisah.
Liona memandangi kepergian pengacara itu lalu menatap ibunya.
"Bu? Bagaimana dengan perusahaan? Siapa yang akan mengantikan ayah menjadi CEO?" Tanya Liona penasaran.
"Biar kakekmu yang mengaturnya. Tapi mungkin suami adikmu yang akan mengambil jabatan itu.
Lagi pula, dia lulusan terbaik jurusan bisnis." Jawab Anasta hampir meledakkan jantung Liona.
Kalau Angkasa menjadi CEO perusahaan Casiora, maka,,,
"Tapi Bu, adik ipar kan sekarang hanya bekerja sebagai editor konten. Bagaimana bisa dia menjadi CEO?
Apakah adik ipar akan sanggup?" Tanya Liona yang sebenarnya berusaha mempengaruhi pikiran ibunya.
"Hmm,, kamu tenang saja. Kakekmu akan memiliki keputusan terbaik." Jawab Anasta membuat hati Liona kembali cenat-cenut.
__ADS_1
'Sial!! Ini tidak bisa dibiarkan!' Gumamnya.