
Setelah meninggalkan Radit, Leora bergegas menghampiri Liona yang sudah bangun di kamarnya.
Selama Liona berada di rumah sakit, perempuan itu tidak pernah mengizinkannya untuk mengunjunginya.
Tapi saat ini, Leora akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Liona setelah identitas mereka kini kembali ke tempatnya.
"Adik, bagaimana kabarmu?" Ucap Leora begitu melihat Liona yang kini duduk di tempat tidur dengan wajah pucatnya.
"Kakak," Liona Langsung menangis saat melihat Leora kini datang ke kamarnya.
Tentu saja Leora tidak tertipu dengan tangisan Liona, meski dia tahu dia harus memaafkan adiknya, tapi dia tidak boleh hanyut terlalu dalam.
Namun begitu, Leora tetap berjalan ke tempat tidur lalu memeluk adiknya.
"Kakak, aku salah, aku minta maaf, aku telah berdosa padamu!
Aku sudah jahat pada kakak!" Isak Liona di depan Anasta dan keluarga Radit yang baru saja memasuki kamar Liona.
"Sudah,, semuanya sudah berlalu, kita bisa memulainya lagi.
Memperbaiki ikatan persaudaraan kita." Kata Leora dalam kewaspadaannya.
__ADS_1
"Hiks,, Kak, terima kasih." Liona melepaskan pelukannya dengan Leora lalu perempuan itu menyeka air matanya yang terus membasahi wajahnya.
"Sudah,, jangan meneteskan air mata lagi. Lihat, di sini ada suami dan mertua mu yang datang." Ucap Leora kini berpindah dan membiarkan Radit mendekati Liona.
Radit dan orang tuanya terlihat berwajah datar saat melihat perempuan yang sangat menyedihkan di atas ranjang.
Dalam hatinya, mereka sudah sangat ingin menunjukkan surat gugatan cerai lalu segera meninggalkan kamar menyesakkan itu.
Radit duduk di kursi dan memegang tangan Liona.
Bagaimana pun, setelah lama bersama Liona, ia sudah memiliki perasaan pada perempuan itu.
Tapi saat ia mengingat kembali bagaimana Leora kini bersama seorang laki-laki yang sangat hebat, mau tak mau dirinya memiliki dendam dalam hati untuk kembali memikat hati Leora sebelum menyiksa perempuan itu habis-habisan.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Radit memulai pembicaraan.
"Aku baik,, aku merindukanmu." Ucap Liona kembali meneteskan air matanya.
"Maaf baru bisa datang sekarang, begitu banyak hal yang terjadi di perusahaan dan aku harus menangani semuanya." Ucap Radit menghela nafas.
"Tidak apa, Oya,, aku juga punya kabar baik untukmu." Ucap Liona meraih sebuah kotak di samping ranjangnya lalu mengambil tespek yang sudah ia sediakan.
__ADS_1
Begitu melihat alat tes kehamilan itu kedua orangtua Radit langsung memucat. Kalau Lion hamil maka Radit tidak mungkin menceraikan perempuan yang itu.
Mereka berdua sudah mengatur semuanya dan ikut mendampingi Radit supaya memastikan kalau anak mereka benar-benar menceraikan istrinya yang sudah mempermalukannya di depan semua orang.
Tapi, dalam hati kecil keduanya, mereka juga sangat menginginkan cucu, apalagi bayi dalam kandungan Liona akan menjadi cucu pertama mereka dari satu-satunya anak mereka.
Generasi berikutnya yang akan menjadi pewaris!
"Aku hamil! Kita akan menjadi orang tua!" Ucap Liona menyerahkan testpack pada Radit.
Dengan tangan gemetaran, Radit meraih testpack itu dan meliaht dua garis merah di sana.
Melihat reaksi Radit, Anasta yang berdiri di belakang lelaki itu hanya bisa mengepalkan tangannya begitu takut kalau sampai Radit tidak mau menerima anak didalam kandungan putrinya.
Bagaimanapun, anasta mengetahui Kalau Radit sudah tahu tentang pelecehan yang dialami Liona.
Tapi kekuatirannya menghilang saat Radit mengangkat wajah.
"Ini,, kau hamil? Anakku?" Ucap Radit merasa campur aduk.
Bagaiman pun, dialah yang telah mengambil mahkota perempuan itu. Jadi,, dalam hati paling dalamnya, ia merasa bangga pada dirinya sendiri!
__ADS_1