Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 174. Orang-orang rendahan


__ADS_3

Lampu di dalam ruangan dimatikan hingga hanya terlihat dua lampu sorot yang berjalan kemari secara acak diantara orang-orang yang duduk di bawah panggung.


Alunan musik yang membuat hati berdebar-debar di mainkan mengiringi lampu sorot itu hingga orang-orang mengepal tangan mereka dengan kuat.


Tahan nafas,, tahan nafas,,, para perempuan adalah makhluk yang paling tegang karena was-was di dalam hati mereka berharap dirinya lah yang terakhir di sinari kedua lampu sorot itu. Lalu menjadi orang paling beruntung bisa berfoto dengan Angkasa si pria nomor 1 nasional!


Dan akhirnya, setelah 30 detik ke tegangan, lampu sorot itu berhenti pada Leora yang duduk di atas pojok ruangan.


"Lampunya sudah berhenti?! Dimana?!"


Semua orang menoleh ke arah lampu berhenti dan terkejut melihat Leora yang kini bersinar dibawah terangnya lampu sorot.


"Liona?!" Semua orang hanya bisa menggigit bibirnya karena perasaan iri.


Di antara semua orang, Liona asli yang melihat Leora bersinar di bawah lampu terang itu, kini menggertakkan giginya dan dengan cepat meraih ponselnya untuk mengirim pesan.


"Baiklah kita sudah mendapatkan satu orang beruntung yang akan berfoto dengan Tuan Angkasa.


Silahkan Nona bergaun biru safir supaya naik ke atas panggung." Pembawa acara perempuan begitu bersemangat karena dirinya memang tidak masuk dalam hitungan untuk terpilih.

__ADS_1


Tapi dia sebagai pembawa acara menyadari posisinya untuk bersikap profesional dan tidak membeda-bedakan siapa pun. Apalagi di acara sebesar itu.


Sambil tersenyum merekah, Leora berdiri dan berjalan ke arah panggung.


Karena dia duduk di pojokan, perjalanannya ke sana cukup jauh karena aula yang begitu luas.


Baru saja beberapa langkah saat seseorang tiba-tiba berbicara diantara keheningan.


"Bagaimana bisa membiarkan seorang model pemula berfoto bersama orang nomor 1 se-nasional?" Ucapnya menghasut tanpa mau mengingatkan orang-orang kalau Leora juga berasal dari keturunan kelas sosialita.


Karena banyaknya perempuan yang merasa sangat iri, apalagi perempuan-perempuan yang berasal dari kelas sosialita tinggi, maka hasutan itu dengan cepat membuat para perempuan mengangguk setuju.


"Benar! Ini tidak adil, dia hanyalah model pemula, tidak cocok untuk berdiri di samping Angkasa!"


Dalam sekejap, semua orang mengutarakan ketidakpuasannya membuat keriuhan di sekeliling Leora yang terus berjalan ke arah panggung.


Menanggapi keriuhan, pembawa acara kembali mengingatkan semua orang.


"Harap tenang, sedari awal kita sudah setuju kalau lampu akan memilih secara acak.

__ADS_1


Jadi siapa pun yang datang di sini berhak naik untuk berfoto dengan Tuan Angkasa selagi lampu sorot berhenti padanya." Ucap pembawa acara laki-laki memperingatkan semua orang yang kini riuh di bawah panggung.


Tapi para perempuan yang memiliki keinginan besar untuk terpilih dan berdiri di samping Angkasa tidak akan mendengarkan seorang lelaki yang menegur.


"Tidak! Siapapun boleh kecuali dia! Dia sangat tidak pantas untuk bersanding di samping Angkasa!"


"Benar! Lakukan lagi pemilihannya! Sekali lagi!"


"Itu benar! Sekali lagi, dan siapapun yang terpilih tidak akan terganggu lagi!" Para perempuan kini sangat serius dibawa panggung.


"Aku rasa, orang-orang terhormat tidak akan menjilat ludahnya kembali.


Ini sudah disepakati di awal dan kita tidak mungkin merubahnya kembali." Ucap pembawa Acara perempuan berusaha memperingatkan orang-orang bahwa mereka semua adalah orang-orang terhormat yang tidak mungkin mengingkari kata-kata mereka.


"Benar!! Bagaimana menurut Tuan Angkasa?" Kini pembawa acara pria berbicara sambil melihat pada Angkasa yang masih berdiri menatap ke bawah panggung.


"Itu benar, hanya orang-orang dengan kualitas rendahan yang akan berbicara tanpa berpikir dahulu lalu mengingkari ucapannya." Jawab Angkasa langsung membuat keriuhan yang tadi sangat besar berubah menjadi keheningan.


Siapa yang mau dikatakan sebagai orang-orang rendahan?!

__ADS_1


TIDAK ADA!



__ADS_2