Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 48. Amarah yang Dipicu


__ADS_3

Dalam 30 menit berikutnya, 20 dokter yang didapat oleh Anggara dari rumah sakit terdekat di kota K sudah berkumpul di apartemen.


Dia juga memanggil 2 ahli kunci yang bertugas membuka pintu kamar Angkasa.


"Kami siap membongkar pintunya." Ucap Sala seorang juru kunci.


Sala satu dari dokter yang menunggu merasa sangat cemas "Tunggu dulu, sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah suara dari dalam-"


"Mereka adalah suami istri. Itu adalah suara dari istri yang di,, hmm" Anggara tersedak air liurnya.


"Tuan, jika mereka suami istri, bukankah itu hal yang wajar?" Tanya dokter lain membuat semua dokter beserta tukang kunci yang dihadapi Anggara mengangguk memberi persetujuan.


Anggara menghela nafas lalu mengeluarkan sebuah catatan kesehatan Angkasa dan memberikannya pada dokter.


"Astaga! Cepat buka pintunya!" Langsung kata dokter dengan wajah panik membuat dua tukang kunci bergegas membuka pintu.


"Tunggu!" Sala seorang pria yang baru saja tiba.


"Dokter Sain? Bukankah kau bilang tidak bisa datang?" Tanya Anggara.


"Ya,, aku memang sedang berkencan di dekat sini. Tapi aku pikir kau sudah membuat kesalahan dengan memanggil semua orang ini." Ucap Sain dengan wajah prihatin.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Tanya Anggara.


"Astaga,, suara mereka mengacaukan kejantananku!" Gerutu Dokter Sain menyentuh kupingnya yang terasa panas karena suara dari kamar.


"Bukankah terakhir kali Leora yang menenangkan Angkasa? Jadi kurasa Angkasa tidak mungkin kembali mengamuk saat ia bersama dengan istrinya. Aku rasa mereka memang melakukannya dengan cinta." Ucap Sain.


"Lalu bagaimana kalau dugaan dokter salah?" Ucap Anggara.


"Owhhh, mereka sudah berhenti. Bagaimana kalau kita memastikannya?" Tanya Sain.


Anggara mengeryit, tapi dia dengan deg-deg melangkahkan kakinya ke depan pintu dan mengetuk 3 kali.


Tak ada jawaban dari dalam.


"Aku tidak ikutan!" Katanya meninggalkan ruangan itu dan memilih ke dapur untuk minum.


'Anggara kau akan dapat masalah besar.' Pikir Sain yang sebenarnya tahu bahwa Angkasa selelau merasa tennag saat membahas Leora.


Tapi dia lupa mengatakan itu pada Anggara. 'Biarlah sekali ini saja Anggara mendapat hukuman. Ini balasan untuknya karena selalu panik berlebihan saat menghadapi Angkasa.' Pikir Sain.


Sementara 2 orang yang baru saja kelelahan dengan aktivitas mereka, hanya terbaring dengan lemas di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Suara apa itu?" Tanya Leora yang berada di dalam pelukan angkasa.


Angkasa tidak menjawab tapi ia memilih menoleh ke arah pintu. Keningnya langsung mengerut saat ia menyadari seseorang mencoba masuk tanpa izin.


Tetap berbaring di sini dan jangan menunjukkan diri." Ucap Angkasa menyelimuti Leora sampai seluruh tubuh Perempuan itu tidak terlihat lagi.


Sementara Angkasa, pria itu langsung memakai celana pendek. Baru saja ia selesai saat pintu kamar terbuka menampakkan 13 orang yang melihat ke arah mereka dengan wajah penasaran.


Tapi hanya satu detik, tatapan penasaran mereka berubah menjadi tatapan ketakutan karena terintimidasi oleh satu orang pria.


Leora yang merasa sangat penasaran langsung membuka sedikit selimut dan mengintip ke arah pintu. Wajahnya langsung memerah padam saat melihat begitu banyak orang yang sedang memergoki mereka.


'Astaga,, betapa memalukannya!' gerutunya dalam hati.


Semua orang gemetaran, sementara Anggara langsung menarik gagang pintu untuk menutupnya kembali.


"Silahkan lanjutkan." Katanya sambil menarik gagang pintu.


Tapi pintu itu belum tertutup ketika gagang pintu nya telah terpisah dengan daun pintu mengakibatkan pintu tersebut tidak dapat lagi ditutup.


Semua orang menelan air liurnya saat mereka menyadari kemarahan Angkasa.

__ADS_1


Gantung lagi ya? 😂😂😎


Nanti malam otor usahakan up 1 lagi ya...


__ADS_2