Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 91. Malaikat penyelamat


__ADS_3

Rapat bulanan masih berlangsung.


Dari sore hari sampai jam 8 malam mereka belum berhenti sedetikpun.


Rapat mereka tidak pernah di jeda.


Satu detik pun tak pernah kosong, bahkan gelas berisi air yang disediakan di atas meja tak ada satupun orang yang berani menyentuhnya, kecuali raja iblis yang sesekali meneguknya.


Karena tekanan dari malaikat pencabut nyawa, selama rapat berlangsung 2 orang telah dilarikan ke rumah sakit karena pingsan di tengah laporan bulanan yang dibawakan.


Sementara Anggara, dia masih berkutat dengan laptopnya, sibuk menyelesaikan berkas yang belum selesai.


"Lanjutkan laporanmu." Tiba-tiba saja Angkasa kembali melihat pada Anggara.


"Baik Tuan." Jawab Anggara tanpa ada pilihan langsung berdiri.


Ini adalah presentasi ketiganya karena laporannya terus dikoreksi dan disalahkan oleh Angkasa bahkan sebelum mendengarkan satu kalimat dari laporan Anggara.


'Apakah dia dan Leora sedang bertengkar? Kalau sampai benar, maka tidak ada yang bisa menyelamatkan kami!' Gumam Anggara merasa pasrah kalau rapatnya berlangsung sampai 1 Minggu ke depan.


Anggara baru selesai menyambung laptopnya ke proyektor saat suara dering telepon mengagetkan semua orang.


Telepon Angkasa yang disambung ke layar utama tiba-tiba berdering.


Nama penelpon yang tertera di layar utama tidak lepas dari tatapan semua orang.

__ADS_1


"ISTRI TERSAYANG," tulisnya di sana.


Semua orang dalam keterkejutannya saat Angkasa mengalihkan tatapannya dari teleponnya dan memberi peringatan pada semua orang.


Suasana kembali kikuk lalu Angkasa menekan tombol terima.


"Sayangku?! Kau baik-baik saja?! Kau dimana?! Mengapa tidak pulang?!" seorang perempuan dengan nada khawatir terdengar dari speaker yang disambung ke telepon angkasa.


'Oh,, malaikat pelindung! Akhirnya dia datang juga sebelum pembantaian ku!' gumam Anggara menangis terharu dalam hatinya.


Angkasa terpaku melihat ponselnya, ia juga tidak sadar kalau semua orang sedang mendengarkan panggilannya.


Yang ada dipikirannya hanya tentang Leora, ingatannya tentang tatapan Leora pada mantan kekasihnya!


Kemarahannya kembali memuncak!


"Tuan, Nyonya mungkin cemas." Tiba-tiba kata Anggara saat ia sudah tak tahan lagi dengan pria yang masih terdiam.


Ia tahu, Angkasa tidak akan pernah memarahinya di depan Leora.


Sesuai dugaan nya, Angkasa langsung menarik sambungan USB pada ponselnya lalu berdiri mengangkat panggilan istrinya.


"Aku di kantor. Ada apa?" Tanya Pria itu dengan suara datar karena kemarahan yang berusaha ditekan.


"Syukurlah,, tapi sayangku, aku mau makan malam, tapi kau tidak ada.

__ADS_1


Apa kau sibuk? Cepatlah kembali! Aku akan menunggumu!" Ucap Leora dengan nada manjanya.


"Baiklah, tunggu aku." Jawab Angkasa yang langsung luluh dengan sikap manja istrinya.


Satu kalimat yang diucapkan Angkasa langsung menjadi embun penyejuk bagi punggung tegang dan hati cemas semua penghuni ruangan rapat.


"Rapat di tunda!" Langsung kata Angkasa setelah menutup telpon.


Pria itu lalu meninggalkan ruang rapat.


Semua orang dalam ruangan langsung berpandangan satu sama lain, merasa lega akan kepergian Angkasa.


Setelah Anggara juga meninggalkan ruang rapat itu, semua orang langsung bertanya satu sama lain.


"Kalian dengar tadi?"


"Aku belum tuli! Mata aku juga masih tajam untuk membaca nama pemanggil!"


"Tuan kita punya istri!"


"Itu tidak penting! Yang paling penting adalah, Tuan kita sangat menyayangi istrinya!


Siapa perempuan yang begitu tangguh sehingga bisa menaklukan Tuan Angkasa?!"


"Jelas bukan sembarang perempuan! Paling tidak, harus sejajar dengan Tuan!"

__ADS_1


Apakah alurnya lambat? Tolong di beri masukan ya...


Tapi masalah identitas Angkasa, Hm,, otor tidak akan membongkarnya sampai beberapa waktu ke depan, soalnya kalo udah kebongkar, siapa lagi yang berani menyentuh istri si raja iblis? 🤭


__ADS_2