Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 29. Sikap manja Angkasa


__ADS_3

Siang hari ketika Angkasa terbangun, ia terkejut mendapati dirinya sedang terbaring di kamar rumah sakit.


Ia hendak meregangkan tubuhnya saat menyadari ada sesuatu yang mencengkeram lengan kanannya. Ketika ia berbalik, didapatinya Leora sedang meringkuk di sampingnya.


Angkasa langsung bangun dan melihat perempuan yang tidur sambil memeluk lengan Angkasa.


'Kenapa dia bisa di sini?' Gumam Angkasa memperhatikan perempuan itu.


Angkasa kemudian mengeluarkan tangannya untuk menyingkirkan rambut Leora yang menutupi wajah Leora.


"Mmh!!" Gerutu Leora saat merasakan seseorang menyentuh wajahnya.


Leora perlahan membuka matanya dan melihat Angkasa sedang menatapnya dengan lembut.


"Akkh!!! Kau sudah bangun?" Tanya Leora sembari meregangkan tubuhnya.


"Kenapa kau bisa di sini?" Tanya Angkasa sambil memperhatikan Leora yang sedang meregangkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ahhh, ini adalah tidur siang terbaik yang pernah kurasakan." Ucap Leora sebelum ia memperbaiki posisinya dengan duduk menghadap Angkasa.


"Bagaimana tanganmu? Apakah sakit?" Tanya Leora sambil memegang tangan Angkasa yang dibalut dengan perban.


"Aku tanya, bagaimana caramu bisa berada di kamarku?" Tanya Angkasa.


"Hais!! Mengapa kau begitu kesal? Apa salahnya jika aku berada di kamar suamiku sendiri?" Ucap Leora menatap Angkasa dengan kesal.


"Kau ini,, bukankah kau bilang kita akan bercerai?" Tanya Angkasa berpura-pura kesal, meski dalam hatinya ia sebenarnya senang karena begitu bangun, Leora berada disisinya.


"Kapan aku bilang? Aku hanya mengusulkannya dan kau yang menyetujui nya. Sekarang kau malah melimpahkannya padaku?" Ucap Leora memandang Angkasa sambil menggertakkan giginya sampai terdengar bunyi-bunyi gigi yang saling bergesekan.


Sementara Angkasa yang melihat sikap perempuan itu hanya bisa terbengong di tempatnya. Hal itu membuat Leora merasa malu hingga pipinya menjadi merah padam.


"Kau membuatku malu dengan tatapanmu itu!" Ucap Leora berbalik membelakangi Angkasa.


"Maafkan aku." Kata Angkasa menarik Leora ke pelukannya. Mereka duduk dengan Angkasa memeluk Leora dari belakang.


"Apa yang kau lakukan?!" Jerit Leora berusaha merontah di pelukan angkasa.


"Ahhww!!! Aww!!" Angkasa ikut menjerit dan berusaha menampakkan wajah kesakitan nya sambil mengangkat tangan kirinya yang di perban.


"O astaga,, astaga,, apakah aku menyakitimu?" Tanya Leora sambil memegang lembut tangan kiri angkasa.


"Ah,, aku pikir daging di tanganku terasa ditarik-tarik." Ucap Angkasa berpura-pura kesakitan sementara tangan kanannya semakin erat ia lingkarkan di pinggang yang Leora.


"Apakah jahitannya terbuka? Oh,, aku harus memanggil dokter!" Ucap Leora meletakkan tangan Angkasa dengan lembut di paha pria itu, lalu ia berusaha turun dari tempat tidur.


Tapi dia tidak berhasil melakukannya karena tangan kanan Angkasa masih melingkar di pinggang Leora.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!!" Lagi ucap Leora menarik tangan Angkasa agar pria itu melepaskannya.


"Ahh!!! Sakit lagi!!!" Kembali jerit Angkasa membuat Leora semakin panik dan kembali menatap tangan Angkasa yang perbannya sudah berwarna merah.


"Ya ampun!! Darahnya keluar!" Kata Leora dengan panik sambil meniup-niup tangan Angkasa.


"Ya,, ya,, itu terasa lebih baik." Ucap Angkasa sambil tersenyum.


"Benarkah?" Tanya Leora semakin kuat meniup luka angkasa.


"Mm, terasa sejuk." Lagi kata Angkasa meski sebenarnya rasa sakit di tangannya tidak berkurang sedikitpun.


Tapi hatinya terasa jauh lebih baik karena Leora begitu memperdulikan nya. Ia tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke bahu Leora.


"Apa yang kau lakukan?" Gerutu Leora saat pria itu membebankan kepalanya di bahu Leora.


"Tanganku tidak terlalu sakit dengan posisi ini." Lagi kata Angkasa sembari menarik Liora semakin dekat ke tubuhnya.


Dari belakang Leora, Angkasa bisa merasakan punggung kecil Leora dengan wangi rambut Leora yang membuatnya merasa sangat nyaman.


"Apa hubungannya posisi seperti ini dengan tanganmu? Kau berpura-pura ya?!" Tanya Leora dengan kesal.


"Tentu saja ada, aku senang memelukmu seperti ini dan mencium aroma rambutmu. Karena aku merasa senang, aku jadi lupa kalau tanganku sedang terluka." Ucap Angkasa membuat Leora terdiam.


'Apa yang dia katakan? Mengapa aku merasa senang mendengarnya?' Pikir Leora yang tak mengerti dengan perasaannya sendiri.


"Kau sudah tidak sabar untuk berpisah denganku?" Tanya Angkasa.


"Bukan, aku ingin kita memikirkannya lagi. Aku pikir, kita,, hmm kita bisa menimbang lagi, uhh, ini,, ini bukan karena aku menyukaimu, tapi aku pikir sebuah perceraian bukan sesuatu yang mudah. Apa lagi, kita kan," Leora tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat bibirnya sudah di bungkam oleh Angkasa.


Pria itu menciumnya dengan lembut dan penuh cinta, tindakan Angkasa membuat Leora bergetar di tempatnya karena merasakan perbedaan kelakuan pria itu di awal pernikahan mereka dan saat ini.


Setelah melepaskan ciumannya, Angkasa memandangi mata hitam Leora yang sudah mengacaukan pikirannya sejak awal pernikahan mereka.


"Perceraian tidak akan pernah terjadi." Ucap Angkasa membuat Leora terbengong di tempatnya.


'Ini,, apa aku tidak salah dengar?' Gumamnya dalam hati.


"Jadi, mulai sekarang jangan pernah berpikir untuk kembali membicarakan soal perceraian. Kau mengerti?!" Lagi kata Angkasa sambil menatap tajam mata Leora.


"Kenapa kau berubah pikiran?" Tanya Leora.


"Karena matamu." Jawab Angkasa masih setia memandangi mata Leora.


"Ada apa dengan mataku?" Lagi tanya Leora.


'Matamu,,, seharusnya sejak malam pertama kita, aku menyadari dan percaya pada hati kecilku kalau kamu adalah Leora.

__ADS_1


Mata ini, mata yang selalu bersinar sudah membuatku tidak tenang, tidak mungkin aku melepaskannya lagi.' Gumam Angkasa.


"Kenapa tidak menjawab?" Tanya Leora saat pria di depannya malah melamun menatap matanya.


"Tanganku sakit lagi." Ucap Angkasa mengalihkan pembicaraan.


"Apa?! Astaga,, aku akan memanggil dokter." Kata Leora lalu Angkasa membiarkan perempuan itu meninggalkannya.


Setelah Leora pergi, Angkasa kembali berbaring dan menatap langit-langit. 'Apa yang akan dia lakukan kalau dia tahu aku sebenarnya sudah curiga akan identitasnya sejak pertama menikah?


Mungkin dia akan marah karena aku terlalu menuruti rasa dendamku dan tak pernah mengikuti kata hatiku hingga aku menyiksanya dengan kejam.' Gumam Angkasa.


"Dok, cepat!" Terdengar suara Leora kembali memasuki kamar Angkasa bersama seorang dokter.


Angkasa kembali duduk dan memperlihatkan tangannya pada Dokter.


Dokter kemudian melakukan pekerjaannya dengan kembali merawat luka angkasa.


"Apakah parah Dok?" Tanya Leora dengan cemas.


"Jahitannya kembali terbuka, ini akan sedikit sakit, jadi mohon untuk menahannya selagi saya memperbaiki jahitannya." Ucap Dokter membuat Leora menatap cemas ke arah Angkasa.


"Aku baik-baik saja." Kata Angkasa mencubit hidung Leora.


Leora hanya menghela nafas lalu mereka berdua menunggu dokter itu sampai selesai memperbaiki luka Angkasa.


Setelah dokter meninggalkan mereka Leora kembali memandangi tangan ang5kasa yang telah di perban dengan rapi.


"Aku dengar kau akan pergi?" Tanya Leora saat Leora ingat ucapan Gina.


"Hmm," jawab Leora Angkasa.


...


Interaksi Dengan Pembaca




Haha,, kalian berdua mau bikin jari otor jadi keriting karena terlalu banyak ngetik ya? 🥺


Hayooo,,, ngapain mau nambah lagi padahal pagi harinya udah dikasih 3 episode?


Kalo kepengen pengantar tidur bisa minta di kelonin Ama doi ajah😂😂🤭 oops,, jangan sampai kalian masih belum laku🤭🤭🤭


Canda ya,, jangan bawa parang🏃‍♂️💨

__ADS_1


__ADS_2