Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 165. Lintah dan matahari


__ADS_3

Leora duduk di dalam mobil menunggu mobilnya tiba di kantor yang akan diresmikan.


Dan saat mereka tiba, acaranya sudah dimulai.


Para wartawan sudah berangsur-angsur pergi mencari makanan untuk menemani mereka menunggu sampai acara itu selesai.


Mobil Leora berhenti di depan gedung, tepat di ujung karpet merah digelar.


"Akhirnya sampai, Yosi, apakah kamu sudah menyiapkan mental? Para wartawan masih banyak." Ucap Leora saat melihat masih banyak wartawan yang menunggu.


"Saya akan berkerja keras." Ucap Yosi sebelum membuka pintu mobil.


Para wartawan yang awalnya sudah duduk agak jauh, sekarang mulai berlari mendekat.


Penasaran siapa yang datang terlambat di acara sepenting itu.


Dan mereka sangat terkejut saat Leora turun dari atas mobil beserta dengan gaun sederhana yang ia kenakan.


Gaun berwarna kuning, yang terlihat sangat bagus di tubuh Leora.


Beberapa detik, mereka tertegun, terutama wartawan perempuan yang merasa sangat iri pada Leora.


"Liona!!" Teriak mereka Langsung mengerumuni Leora untuk mengambil gambar.


"Boleh mengambil gambar tapi jangan menyentuhnya." Ucap Yosi memperingatkan para wartawan sembari menjaga agar Leora bisa berjalan dengan normal.


"Dapatkah kami mengajukan beberapa pertanyaan? 1 menit saja!" Ucap mereka berusaha menahan Leora.

__ADS_1


"Aku akan memberi waktu kalian setelah acara ini selesai." Ucap Leora.


"Baiklah, kami akan menagih janji nanti." Ucap sala seorang wartawan lalu membiarkan Leora memasuki gedung.


Begitu tiba di dalam gedung, sesuai dugaan Leora, pesta sudah dimulai dan semua orang sedang terfokus ke panggung sehingga ia bisa berjalan di belakang dan duduk disalah kursi meja paling belakang.


Yosi ikut juga bersamanya dan duduk bersama Leora.


Saat itu adalah waktu yang ditunggu-tunggu semua orang karena Angkasa akan diundang naik ke atas panggung.


"Kota sambut, Angkasa Raya selaku pemilik tunggal Raya Grup!" Ucap sang pembawa acara mempersilahkan Angkasa memasuki ruangan.


Orang-orang langsung membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka ke samping.


Angkasa dan Anggara keluar dari balik pintu, berjalan di karpet merah dengan aura yang kuat.


Sementara Calista yang duduk bersama Liona dan Radit, dia langsung menatap Angkasa penuh kekaguman.


"Apa lagi yang kau tunggu? Hampiri lah dia." Ucap Liona saat melihat Calista masih menahan diri.


"Iya, pergilah dan temani Angkasa ke panggung." Manajer Calista juga memberi dukungan pada Calista membuat perempuan itu langsung berdiri.


Saat Calista berdiri, semua orang mengalihkan pandangan mereka pada Calista yang kini berjalan menyambut angkasa.


"Astaga,, berhenti mengaguminya! pemiliknya sudah datang!"


"Mereka sangat serasi, dan hari ini akan menjadi hari patah hati sedunia!

__ADS_1


Pria langkah yang dikagumi semua wanita akan memperlihatkan wanitanya!"


"Aku keringat dingin! Akan kah mereka memberi sebuah pertunjukan?"


"Tentu saja! Sebuah pertunjukan kemesraan yang akan membuat hatimu terbakar oleh api cemburu dari neraka!"


Orang-orang berbisik dengan jantung berdegup kencang melihat Calista semakin mendekat pada pria yang berjalan dengan keagungan.


Yosi yang duduk bersama Leora, pria itu menatap dengan takut pada Leora.


'Jangan sampai Nyonya meledak, atau tempat ini akan segera rata dengan tanah!' Gumamnya menahan nafas.


"Tenanglah, apa kau berpikir seekor lintah bisa menyentuh api?," ucap Leora yang merasakan ketakutan Yosi.


Yosi langsung menelan air liurnya, "Lintah dan matahari? Perumpamaan yang aneh!"


Calista semakin mendekat, ia tersenyum sangat manis sambil terus menatap mata Angkasa yang melihat ke arahnya.


'Dia tidak fokus, ini pasti karena kecantikanku!' Gumam Calista penuh percaya diri membuat senyum dan aura percaya dirinya menjadi semakin kuat.


Begitu dekat dengan Angkasa, Calista mengulurkan tangannya untuk memegang dengan pria itu, tapi apa yang terjadi, Angkasa menghindar beberapa langkah darinya sebelum lanjut berjalan meninggalkan Calista.


Semua orang terkejut, terlebih Calista yang tangannya kini melayang di udara.


"Apa yang terjadi? Apa yang,,,"


"Dia, dilewati? Bagaimana bisa?"

__ADS_1


__ADS_2