Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 92. Suasana hati suami memburuk


__ADS_3

Begitu tiba di rumah, di depan pintu, Angkasa langsung disambut oleh istrinya.


Perempuan itu menghamburkan dirinya ke pelukan Angkasa menikmati aroma tubuh pria itu sambil menggesek-gesekkan hidungnya di dada bidang suaminya.


Kecemburuan yang awalnya sangat besar akhirnya hilang sepenuhnya.


Angkasa langsung menggandeng istrinya dengan posisi berpelukan lalu membawanya ke ruang makan.


"Sayang," Panggil Leora dengan manja sambil menatap pria yang sedang memeluknya.


"Hmm?" Jawab Angkasa balas menatap mata hitam istrinya.


Leora ingin membahas sesuatu tapi karena malam sudah larut dan mereka belum makan malam, ia akhirnya menundanya dan turun dari pangkuan Angkasa.


"Ayo makan." Kata Leora duduk di kursi lain lalu mulai menaruh makanan di piring suaminya lalu di piringnya.


Angkasa memperhatikan istrinya, ia tahu, istrinya akan mengatakan sesuatu, tapi sepertinya perempuan itu masih menimbangnya.


'Mungkinkah dia ragu untuk menceritakannya padaku?


Apakah dia masih ragu bersikap terbuka padaku?' Gumam Angkasa sembari wajahnya kembali diliputi perasaan murung.


"Sayang, Aku ingin menceritakan sesuatu tapi nanti saja.


Aku tahu kau juga lapar sepertiku. Aku tidak aku kau sakit karena telat makan." Kata Leora sembari menuang air untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


2 kalimat dari Leora membuat pria yang terlihat murung akhirnya bisa fokus pada makanannya.


Setelah makan malam selesai, Leora membersihkan meja makan lalu menyusul suaminya yang sudah di suruhnya mandi.


Saat tiba di kamar, dilihatnya Angkasa baru saja keluar dari ruang ganti dengan memakai piyama berpasangan dengan piyama milik Leora.


Leora langsung tersenyum mendekati suaminya. Ia mengulurkan tangannya minta di peluk.


Angkasa menggendong Leora ke ranjang lah pria itu duduk bersandar ke kepala ranjang dengan Leora di pangkuannya.


Tapi Angkasa terkejut saat Leora tiba-tiba menciumnya.


Awalnya lembut, tapi lama-lama perempuan itu mulai bermain kasar dan turun ke leher Angkasa.


"Hmmm,,," Angkasa berusaha menahan diri.


Tangannya hanya melingkar kuat di sekitar pinggang Leora, ditahan agar tidak di gerakkan untuk meraba.


Sementara Leora yang tiba di bagian bawah leher Angkasa, ia hendak menggigit pria itu, tapi lalu teringat dengan terakhir kali ia melukai suaminya terlalu jauh.


Leora menghentikan aksinya lalu menyandarkan kepalanya di lekukan leher Angkasa.


"Sayangku,," ucapnya tiba-tiba.


"Ya?"

__ADS_1


"Tadi siang aku mabuk, apakah aku merepotkan mu?" Tanya Leora.


"Tidak."


"Lalu kenapa kau menyerangku? Aku ada pemotretan dalam dua hari lagi!"


Angkasa menggelapkan tatapannya. Ia pikir mereka akan membahas perkara di pertunangan Liona.


Tapi perempuan itu malah menanyakan tindakannya?


Bahkan lebih mementingkan pemotretannya dibanding suaminya sendiri?


"Aku salah." Jawab Angkasa dengan singkat.


Leora mendengus, "Apa aku sudah menyakitimu?" Tanyanya.


"Tidak." Jawab Angkasa lalu ia mengubah posisinya jadi berbaring memeluk Leora.


Sesuatu yang bangkit telah hilang oleh kekecewaannya, ia hanya bisa terlelap dengan cepat karena kelelahan secara mental dan fisik.


Begitu nafas Angkasa teratur, Leora berpikir keras tentang penyebab suasana hati suaminya dengan buruk.


Tapi seberapa keras pun ia memikirkannya, Leora tak bisa mengetahui kesalahan apa yang sudah dilakukannya.


"Sial! Kenapa aku harus mabuk?! Aku jadi tidak ingat apa pun!" Gerutunya dengan pelan sembari mengigit bibirnya.

__ADS_1


Maaf ya upnya kelamaan, ini karena kemarin otor terlalu banyak kesibukan dari pagi sampai malam.


Jadi gak ada waktu menengok novel.


__ADS_2