
"Kau hanya meminta maaf dan tidak melakukan apa pun untuk scandal itu?! Mereka hanya mengonfirmasi tanpa adanya-"
"Aku akan melenyapkan mereka. Orang-orangku dalam perjalanan." Angkasa menyelah Leora saat melihat perempuan di depannya hendak meledak.
"Melenyapkan? Melenyapkan apa?" Tanya Leora.
"Serangga dan sarangnya." Lagi kata Angkasa menarik Leora ke dalam pelukannya.
"Besok pagi, semuanya akan hilang." Lagi kata Nagkasa membuat Leora jadi dilema.
"Kau,, kau akan menyingkirkan Calista?" Tanya Leora dengan cemas.
"Hm, siapa pun yang berani menganggu istriku. Maafkan aku, harusnya aku tidak membuang waktu meladeni mereka."
"Tidak! Jangan lakukan itu! Aku yang akan memberinya pelajaran!
Pihak ke-3 perempuan adalah urusan perempuan! Laki-laki tidak boleh ikut campur!" Ucap Leora dengan gigih, ia tidak mau suaminya menjadi orang yang merusak kebahagiaan seorang perempuan.
Karena dia punya rencana terbaik untuk seorang pelakor!
'Calista, aku memutuskan untuk bertemu denganmu di WO.' Gumam Leora memutuskan pekerjaan yang akan ia ambil.
Angkasa memandangi istrinya. Hatinya menjadi hangat hingga bibirnya melengkung ke atas.
"Baiklah, apa pun yang diinginkan istriku." Kata Angkasa.
__ADS_1
"Terima kasih, tapi kau berhutang penjelasan padaku. Tentang bagaimana rumor itu bisa tersebar!" Lagi ucap Leora memperlihatkan wajah masamnya.
"Aku akan menjelaskannya." Kata Angkasa sebelum wajah pria itu berubah menjadi keunguan karena menahan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Leora dengan panik saat menyadari perubahan Angkasa.
"Hmm,, aku perlu ke toilet." Jawab Angkasa berlari meninggalkan Leora. Ia sudah menahannya sejak Leora meledak di depannya.
"Astaga! Apa yang sudah kulakukan!" Ucap Leora dengan cemas lalu berlari mencari kotak P3K.
Setelah kembali ke kamar, Leora mondar-mandir didepan pintu kamar mandi sambil memegang kotak P3K di tangannya.
"Dia lama sekali." Ucapnya dengan gelisah lalu meletakkan kotak P3K di atas tempat tidur dan berlalu ke dapur.
Leora membuka kulkas dan memasak bubur untuk angkasa.
Padahal, dia pasti punya banyak pekerjaan besok pagi." Gerutu Leora pada dirinya sendiri.
Setelah lama gelisah di dapur, Leora akhirnya menyelesaikan masakannya lalu kembali ke kamar.
Tapi apa yang terjadi, Angkasa masih setia di dalam kamar mandi.
"Sayangku?" Ucap Leora setengah berteriak sembari meletakkan bubur di atas salah satu meja dalam kamar.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Leora mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang? Kau baik-baik saja?" Tanya Leora dengan cemas.
"Mmh!! Sebentar lagi aku keluar." Jawab Angkasa dengan suara berat.
Leora menunggu dengan gelisah sampai akhirnya pria itu keluar dari kamar mandi.
"Sayang," ucap Leora dengan suara cemas sambil memperhatikan wajah Angkasa yang terlihat tidak sehat.
Bekas keringat memenuhi seluruh wajah pria itu dengan warna kulit yang pucat.
"Aku baik-baik saja." Kata Angkasa sembari duduk di pinggir kasur.
"Maafkan aku, ini semua salahku." Ucap le ora membongkar kota p3k dan mengeluarkan obat sakit perut lalu memberikannya pada Angkasa.
Ia memastikan pria itu memakan obat sebelum dia pergi mencari sebuah piyama untuk Angkasa.
"Pakai ini." Katanya membantu Angkasa memakai piyamanya sebelum membantu pria itu memperbaiki posisinya di tempat tidur.
"Aku memasak bubur untukmu. Bubur ini bisa membantu meredakan sakit perut mu." Ucapan Leora mengambil bubur yang sudah ia sediakan.
Baru mendengar kata bubur yang dimasak oleh istrinya saja Angkasa kembali merasa sakit perut.
"Mmh,, sayang, aku harus kembali ke kamar mandi." Ucapnya buru-buru turun dari tempat tidur dan menghilang ke kamar mandi.
__ADS_1
"Astaga, dia pasti trauma pada masakanku." Leora menghela nafas dengan perasaan bersalahnya.