
Ding dong Ding dong.....
"Hah,, mereka datang lagi!" Gerutu Anggara yang sedang menggendong bayi mungilnya.
Gina yang baru saja membuat susu untuk baby boy mereka, hanya bisa tersenyum memberikan sebotol susu itu pada Anggara sebelum beralih ke pintu untuk menyambut tamu yang datang.
"Gina!! Dimana dimana Giangku tersayang?" Leora langsung menerobos Gina dan berlari ke kamar Giang.
Anggara yang sedang menggendong putranya, saat melihat perempuan itu datang, hanya bisa mendekati perempuan itu dan menyerahkan Giang pada Leora.
"Dia hendak tidur." Kata Anggara sebelum meninggalkan Giang dan Leora.
"Minumlah." Ucap Gina menaruh kopi di meja ruang tamu di mana Angkasa dan Anggara sedang duduk bersama.
"Ada apa dengan wajah Tuan besar kita?" Tanya Gina memperhatikan wajah Angkasa yang terlihat tidak senang.
"Apa lagi? Sejak istrinya mengandung, perempuan itu mengidam pisah kamar dengan suaminya.
Lebih parahnya lagi, Leora akan menangis di malam hari saat bagun dqn tidak menemui Angkasa di sisinya." Ucap Anggara dengan wajah mengejek.
"Bagaimana bisa? Kaau begitu, saat Leona tidur sebaiknya kau langsung menyelinap ke dalam kamarnya." Kata Gina.
"Tidak bisa, Leora selalu mengunci pintu kamar, dan perempuan itu akan langsung bangun kalau mendengar pintu kamar disentuh oleh orang lain.
Tapi saat dia tiba-tiba terbangun di tengah malam, perempuan itu akan menangis dengan keras sampai Angkasa dan para teknisi berhasil membongkar pintu." Ucap Anggara tertawa.
"Lalu, mengapa pintu kamar tidak rusak saja? Langsung tid-"
"Tidka bisa, Leora akan menangis lagi saat melihat ada barang yang rusak di rumah." Lagi potong Anggara yang selalu tahu kejadian di rumah Angkasa melalui setiap bawahannya yang ditempatkan di sana.
"Ha,, hahahaha... Aku pikir suamiku lah yang paling menderita karena bekerja dibawah tekanan Tuan besar ini, ternyata Tuan besar ini jauh lebih menderita dibawah tekanan istrinya!" Tawa Gina meledak.
"Berapa lama dia mengidam?!" Ucap Angkasa tidak meladeni ejekan kedua orang itu dan hanya menoleh pada Dokter Gina untuk meminta pencerahan.
"Entahlah, setiap perempuan memiliki siklus ngidam yang berbeda-beda. Mungkin saja sampai dia melahirkan, bahkan setelah melahirkan perempuan juga masih bisa sangat sensitif.
__ADS_1
Pokoknya, ini hanya masalah keberuntunganmu saja!" Ucap Gina sambil tersenyum, merasa puas dengan wajah memprihatinkan yang ditampakkan oleh Angkasa.
"Benar sekali, itu semua tergantung pada keberuntunganmu!" Ucap Nagagra.
Anggara dan Gina belum selesai menertawakan pria di depan mereka saat Leora keluar dari kamar Giang.
"Dia sudah tidur. Oya, aku sudah memutuskan untuk menjemputnya besok dan membawanya ke rumahku.
Dia harus tinggal bersamaku selama 1 Minggu." Ucap Leora tanpa rasa bersalah.
"Apa katamu?! Bagaimana bisa kau memutuskan sepihak seperti itu?!
Ah,, Aku benar-benar lelah menghadapi kalian berdua! Kalian pikir kalian lah orang tua dari bayiku?!
Pokonya tidak! Dia tid-" Anggara menghentikan kata-katanya saat melihat wajah Leora menjadi sangat buruk lalu perempuan itu menangis.
"Aku hanya mau menjaganya selama satu minggu!
Mengapa kalian melarangku?! Aku bahkan tidak berniat mencelakainya, hanya ingin bermain bersamanya saja!
Angkasa mendekati Leora dan hendak menyentuh perempuan itu saat tangannya ditepis Leora.
"Apa yang kau lakukan?! Jangan menyentuhku! Biarkan aku sendiri bersama bayiku!" Ucap Leora kini berdiri meninggalkan ketiga orang itu.
Ia masuk ke kamar Giang di apartemen Anggara lalu mengunci pintu dari dalam.
Angkasa sudah biasa menghadapi sikap Leora seperti itu, tapi dia selalu merasa cemas kalau saja perempuan itu melukai dirinya sendiri seperti dia yang pernah menghadapi trauma.
Lelaki itu segera mengejar Leora, tapi dia hanya bisa berhenti di depan pintu.
"Sayangku,, ku mohon buka pintunya. Aku sudah menyetujui kalau kita akan membawa Giang, kita akan membawanya ke rumah.
Bahkan bukan satu minggu, tapi 1 bulan!" Ucap Angkasa membujuk istrinya.
Bujukan pria itu membuat Leora yang menangis didalam kamar langsung menyeka air matanya dan tersenyum penuh bahagia.
__ADS_1
Tapi dua orang yang masih duduk di ruang tamu,,
Anggara langsung berdiri untuk memberi peringatan pada Angkasa tapi dia ditahan oleh Gina.
"Jangan,, Leora sedang mengandung." Ucap Gina.
"Lalu? Bagaimana dengan kita?!
Apa kau pikir kita bisa jauh dari bayi kita?! Bahkan satu jam saja sudah membuatku sangat ridnu!
Ini,, Ckk!! Bagaimana bisa,," Anggara mengacak rambutnya dengan frustasi.
Harusnya, hanya Angkasa saja yang direpotkan oleh Leora, tidak perlu dia dan istrinya!
Apa lagi menjadikan anak mereka sebagai korban!
Bayi yang malang itu,,,
Sementara Angkasa yang dengan cemas melihat pintu kamar kini bisa merasa lega saat Leora membuka pintu kamar.
"Benarkah? Satu bulan?!" Tanya Leora.
"Iya sayang," ucap Angkasa mengulurkan tangannya untuk memeluk perempuan itu, Tapi Leora langsung mundur selangkah dan menutup pintu kamar.
"Aku mengantuk!" Katanya langsung berjalan ke tempat tidur.
Tangan Angkasa masih melayang di udara saat pintu di depannya telah tertutup menghalanginya untuk memandangi istrinya.
"Benar kata orang, kalau lelaki menakutkan, maka perempuan jauh lebih menakutkan.
Tiba-tiba aku menyesal telah menikah!" Ucap Anggara mendapat tatapan tajam dari istrinya.
@Interaksi
__ADS_1
Siapa lagi nih yang mau? 😂😂😂ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤