Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 155. Masih perawan


__ADS_3

Di sebuah ruang penuh layar yang menampilkan hasil rekaman CCTV di seluruh sudut hotel, seorang pria bertubuh tinggi besar bernama Soy sedang menyamar menjadi sala satu petugas hotel.


"Hey Bro, ini minuman kalian." Ucap Soy meletakkan dua cangkir kopi untuk 2 orang yang sedang berjaga.


"Woahhh, makasih ya,," jawab kedua orang itu lalu meneguk sedikit kopi yang diberikan.


5 menit setelah itu, 2 orang itu langsung tidak sadarkan diri lalu Soy langsung mengambil alih ruang kontrol itu.


Mematikan CCTV pada ruang-ruang yang akan dilewati oleh Joy.


"Hah,, kenapa dia lama sekali?!" Gerutu Soy saat sudah 5 menit Joy berada di dalam kamar.


Tiba-tiba ia melihat ibu pengantin wanita berjalan ke arah kamar.


"Sial!!" Gerutunya langsung meraih ponselnya lalu menelpon kembarannya, Soy.


Drrrttt.... Drrrrrttt......


Sebuah ponsel yang diletakkan di atas meja bergetar tanpa dering.


Soy melihat ponsel itu lalu berdecak kesal. "Sial!! Sebentar lagi!!"


Soy menggertakkan giginya sambil terus menggoyangkan kedua pinggulnya menyasar seorang perempuan yang masih menggunakan gaun pengantin.


Darah segar mengalir membanjiri seprei tempat tidur.

__ADS_1


Tapi Liona sama sekali tidak merasakan apapun karena pengaruh obat bius yang terlalu kuat.


"Aakkhhh!!" Suara kepuasan terdengar lalu pria itu menjauhkan diri dari Liona dan meraih ponselnya.


"Sialan!! Siapa kau!!?" Tiba-tiba Anasta masuk ke dalam kamar dengan mata memerah.


"Apa kau ibunya? Terima kasih untuk gadis perawan mu!" Ucap Pria itu sebelum melompat keluar jendela.


"Kau!!! Pria sialan!!!" Umpat Anasta sebelum sadar kalau putrinya masih berbaring di rajang dengan tubuh tak berdaya.


Anasta mendekati Liona ke ranjang. "Sayang,, sayang,, kau baik-baik saja?" Anasta berusaha membangunkan Liona, tapi perempuan itu tak kunjung sadar.


Diambilnya ponselnya untuk menelpon, tapai ia berhenti saat kembali berpikir.


"Kalau Radit tahu anakku sudah dilecehkan, mungkinkah dia,, tidak, aku akan merahasiakan ini!" Ucap Anasta lalu menghubungi dokter kenalannya yang memiliki klinik swasta.


"Apa yang harus kulakukan?!" Anasta dengan panik melihat ponsel itu.


"Halo Nak Radit?" Akhirnya Anasta mengangkat panggilan itu.


"Ibu, apakah ibu menemukannya?" Tanya Radit dari seberang telpon.


"Belum Nak, sebentar lagi, ibu akan mencari di tempat lain." Jawab Anasta lalu menutup telpon itu.


Untungnya klinik swasta yang di telepon Anasta berjarak tak jauh dari hotel itu hingga dalam beberapa menit saja mobil sudah tiba di hotel lalu Liona dipindahkan ke klinik swasta itu.

__ADS_1


Dokter melakukan pemeriksaan pada Liona, sementara Anasta menunggu diluar ruangan dengan cenat-cenut begitu takut sesuatu terjadi pada putrinya.


Saat dokter keluar, dokter itu melihat Anasta dengan prihatin.


"Ba,, bagaimana anak saya Dok?" Tanya Anasta sembari mengusap air matanya.


"Mari bicara di ruangan saya." Kata dokter itu lalu keduanya langsung ke ruangan dokter.


"Bagiamana dok? Anak saya baik-baik saja 'kan?" Tanya Anasta dengan gelisah.


"Dia baik-baik saja." Jawab dokter itu.


"Syukurlah,, lalu,, lalu bagaimana? Saya melihat ada begitu banyak noda darah, apakah anak saya mengalami pendarahan?


Apakah,, apakah dia sedang hamil lalu keguguran?" Tanya Anasta meneteskan air matanya.


Mungkinkah putrinya hamil lalu keguguran?


Kalau begitu, itu adalah cucu keduanya yang meninggal sebelum lahir ke dunia!


"Maaf Bu, anak ibu tidak sedang hamil. Dan darah yang ada itu adalah darah yang keluar karena robeknya selaput darah.


Jadi, bukan masalah besar, anak ibu baik-baik saja." Ucap dokter itu mengagetkan Anasta.


"Tu,, tunggu Dok? Maksud dokter? Anak saya,, anak saya masih perawan sebelum kejadian itu?"

__ADS_1


"Ya,," jawab Dokter membuat Anasta seakan kehilangan dunia!


__ADS_2