Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 37. Angkasa kembali mengamuk


__ADS_3

Anggara duduk disamping Angkasa sembari memegangi ponselnya yang terus bergetar. Cahaya ponsel menerangi mobil yang sangat gelap itu.


Itu adalah panggilan dari Gina yang mengharapkannya supaya cepat pulang. Tapi apa yang bisa ia lakukan ketika pria disampingnya belum selesai dengan urusannya.


Mereka segera tiba di sebuah restoran tempat meeting yang terakhir.


Setelah gelisah selama 2 jam, akhirnya meeting itu selesai juga.


Anggara berniat untuk pamit pulang, tapi seorang bawahannya tiba-tiba datang membawa kabar buruk.


"Ada apa?" Tanya Anggara pada pria yang sedang berdiri di depannya.


"Ini," pria itu ragu-ragu mengatakannya karena Angkasa juga berada di sana.


"Katakan." Ucap angkasa membuat pria itu tidak punya pilihan lain selain menyerahkan sebuah kotak pada Anggara.


"Ini adalah racun yang diberikan oleh Liona untuk diberikan pada Nyonya.


Kami sudah menyelidikinya dan menemukan bahwa dia memesan dua dosis obat, tapi hanya memberikan 1 dosis pada kami." Lapor pria itu membuat Angkasa yang sedari tadi berdiri dalam ketenangan yang mencekam, berubah menjadi pria yang sedang menyaingi keganasan malaikat penyiksa neraka.


"Kau boleh pergi." Langsung kata Anggara pada pria itu, karena ia takut kalau Angkasa mungkin akan menjadikan pria itu sebagai pelampiasannya.


"Kembali ke apartemen." Ucap Angkasa dengan urat-urat yang menonjol di sekitar lehernya dan mata yang memerah karena amarah.


"Baik." Jawab Anggara memegangi ponselnya dengan erat.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil dan terlihat Angkasa begitu kuat mengepal tangannya.


"Lebih cepat menyetir." Perintah Anggara pada supir. Jantungnya berdegup kencang karena dia takut kalau saja Angkasa tidak bisa mengendalikan amarahnya dan malah ini meledak di dalam mobil.


"Baik Tuan." Jawab supir itu menambah tekanan pada pedal gas.


Akhirnya mereka tiba juga di apartemen, Anggara dengan hati-hati memasuki apartemen itu bersama Angkasa.


Ia melihat jam pada dinding menunjukkan pukul 10 malam. Anggara menghela nafas dan memastikan Angkasa sudah memasuki kamar.


'Aataga,, dia berusaha keras menahan amarahnya,' gumam Anggara sangat takut karena biasanya, jika pria itu berusaha menahan amarahnya, maka akan terjadi ledakan yang bisa membuat 1 kota mengalami gempa bumi.

__ADS_1


Anggara kembali memandangi ponselnya yang kembali bergetar. Ia lalu mematikan panggilan itu dan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Maafkan aku." Katanya dengan lirih sembari memejamkan matanya.


Baru 1 menit dia memejamkan matanya saat terdengar suara kegaduhan dari dalam kamar Angkasa.


Anggara kembali membuka matanya lalu berjalan ke pintu kamar untuk memeriksanya.


'Astaga, dia menghancurkan semua barang-barang lagi. Untung saja semuanya itu adalah barang-barang tiruan, jadi aku tidak perlu cemas kalau dia merusaknya.' gumam Anggara merasa lega karena ia memilih pilihan yang tepat.


Anggara kembali berdecak dan mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter Sain, Tapi sayangnya, pria itu tidak mengangkat teleponnya.


"Apa dia Sibuk?" Ucap Anggara memandangi ponselnya sebelum tiba-tiba sebuah tangan besar mengambil ponsel itu dan melemparkannya hingga hancur berkeping-keping.


"Apa yang kau!!" Anggara menghentikan kata-katanya saat melihat wajah Angkasa yang terlalu menakutkan meski ia sudah berulang kali menyaksikannya.


Pria itu hanya bisa berlari mengambil ponselnya dan bersembunyi di balik lemari sepatu dekat pintu keluar.


"Astaga,, tinggal ponsel Angkasa saja yang kumiliki." Ucap Anggara mengambil ponsel Angkasa yang ia simpan di saku jasnya.


'Astaga,, Kenapa hanya ada satu kontak di dalam?' ucap Anggara dengan frustasi karena yang ia pegang memang ponsel pribadi milik Angkasa yang tidak digunakan untuk bisnis.


'Apa yang harus kulakukan sekarang? Hanya ada nomor Leora di sini.' katanya hendak menangis saat angkasa semakin tidak terkendali dengan amarahnya.


"Maafkan aku,, Aku tidak punya pilihan lain." Kata Anggara langsung menekan tombol Panggil.


"Tidak! Angkasa akan menjadikanku daging cincang jika dia tahu aku memberitahu istrinya tentang keadaannya." Kata Anggara hendak menutup teleponnya ketika baru dering pertama saja, panggilan itu sudah diangkat.


"Halo?" Suara lembut dari seberang telepon membuat Anggara mematung.


"Apa ini kau?" Lagi kata Leora dengan ragu-ragu.


Anggara tidak punya pilihan lain selain menjawab "Ha,, halo. Ini Anggara. Aku ingin meminta tolong padamu untuk memberitahu pengawal supaya membawa dokter Sain ke apartemen A nomor 321." Ucap pria itu dengan suara terburu-buru dipenuhi kecemasan.


Leora yang mendengarkannya langsung bergetar di tempatnya.


Ia lalu menjawab "Baik," sebelum menutup telepon itu lalu memberitahu pengawal di dalam mobil.

__ADS_1


"Baik Nyonya." Jawab para pengawal sebelum melakukan koordinasi dengan beberapa orang lainnya.


"Kita juga pergi ke apartemen itu." Lagi kata Leora sambil bergetar di tempatnya, karena ia terlalu takut suara-suara aneh yang ia dengar mungkin suara kegaduhan orang sedang bertengkar.


'Apakah Anggara dan angkasa sedang bertengkar? Mengapa mereka memerlukan dokter Sain? Apakah seseorang terluka?' Gumam Leora menggenggam erat ponsel di tangannya.


Mobil mereka terus melaju sampai akhirnya mereka tiba juga di apartemen yang diberitahukan oleh Anggara.


Leora menekan bel apartemen lalu terdengar suara pintu dibuka. Leora langsung terdiam ditempatnya saat suara kegaduhan masih terdengar dari balik.


"Kau,," Anggara terdiam karena tidak menyangka Leora akan datang ke tempat itu.


Namun Sudah terlambat untuk menyesalinya, karena Leora langsung menerobos masuk dan melihat Angkasa yang terluka di sana sini masih setia membanting beberapa pot bunga yang ditata di dekat jendela.


Leora terpaku di tempatnya melihat pria itu begitu kacau.


Bahkan kekacauan di dalam ruangan itu tidak lebih parah dari kekacauan yang dialami oleh Angkasa.


Lidahnya menjadi sangat keruh, bahkan hanya untuk mengucapkan sepotong kata saja ia tidak mampu.


"Sebaiknya kamu keluar, dia tidak akan suka kalau orang yang dia cintai melihatnya dalam keadaan seperti ini." Ucap Anggara berusaha tetap tenang.


"Kau pikir aku anak kecil?" Ucap Leora yang akhirnya dapat mengatakan satu kalimat.


'Pria itu, aku tidak bisa membiarkannya!' Gumam Leora.


Detik berikutnya, ia sudah melangkahkan kakinya dan berlari memeluk pria yang akan mengulurkan tangannya untuk membanting sebuah pot bunga berukuran besar.


"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Leora sambil terisak dengan wajah disembunyikan di dalam bidang Angkasa.


Sementara Anggara yang melihat kejadian itu langsung berlari untuk menarik Leora dari pelukan Angkasa. Ia begitu takut kalau sampai ai Angkasa melukai istrinya sendiri.


Namun diluar dugaannya, pria itu diam mematung seolah robot yang baru saja kehilangan sumber tenaganya.


"Hikss,, aku tanya! Mengapa kamu melakukan hal seperti ini?!" Lagi kata Leora sambil mengeratkan pelukannya dan menangis dengan keras.


Maaf ya,, tadi siang lagi ada kesibukan, karena besok sala satu sepupu mo nikah,, jadi kalo besok gak ada up,, otor lagi kondangan😁😁🤭

__ADS_1


__ADS_2