Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 142. Mereka menyebut namamu


__ADS_3

Liona mondar-mandir di dalam kamarnya sembari menggigit kuku palsunya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa Angkasa percaya dengan mudah kalau kami sudah bertukar posisi?


Tapi pria itu?!" Liona menjadi semakin gugup saat mengingat tatapan Angkasa padanya.


"Bagaimana bisa seorang pria culun memiliki tatapan seperti itu?


Dia hampir saja membunuhku!" Liona membayangkan kembali ketakutannya saat ia melihat batu yang sudah diisi oleh air.


"Pria itu! Hendak menenggelamkanku di bath up!


Tapi aku tidak bisa melakukan apapun karena tenaganya sangat kuat!


Bagaimana bisa?!" Liona terus bergumam sembari mengingat kejadian yang menimpanya di kamar Angkasa dan Leora.


Awalnya dia mendekorasi kamar itu dengan sangat bahagia karena ingin mempermalukan dua orang itu, tapi malah berakhir dengan dirinya lah yang diperlukan!


"Tidak! Aku harus menelpon Radit!


Dia satu-satunya orang yang bisa membebaskanku dari ketakutanku!


Setelah menikah dengan Radit, aku bisa keluar dari rumah ini, jadi aku tidak akan pernah bertemu dengan Angkasa!


Aku akan meminta bantuan Radit supaya bisa memusnahkan perusahaan tempat Angkasa bekerja!


Tapi memang aneh, mengapa aku tidak bisa mengetahui perusahaan pria itu bekerja?!

__ADS_1


Hais!! Merepotkan saja!"


Liona segera menghubungi Radit dan mengajak lelaki itu untuk bertemu.


"Benar! Ini keputusan terbaik!"


Liona langsung bersiap dan turun ke lantai bawah untuk pergi menemui Radit.


Tapi ia menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria tiba-tiba saja muncul dari depan rumah.


Liona mundur beberapa langkah saat melihat Angkasa kembali memberikan tatapan anehnya!


Seolah-olah pria itu sedang mengancamnya hanya dengan menggunakan kedua bola matanya!


'Apakah dia iblis?! Mengapa dia memiliki tetapan seperti itu?!' Liona hanya bisa berlari ke dalam rumah dan kembali ke kamarnya mengunci pintu.


Dengan wajah datarnya, Angkasa menertawakan perempuan yang kini lari ke atas lantai 2.


'Lemah!' gumamnya lalu dia segera mengikuti pelayan yang bersamanya dan pergi ke kamar tetua.


"Cucu menantuku!" Langsung sambut Tetua pada pria culun dengan wajah ramah yang masuk ke kamarnya.


"Kakek, bagaimana kabar Kakek?" Tanya Angkasa sembari duduk di sofa yang diletakkan dekat ranjang, di mana Tetua sedang terbaring.


"Kakek baik-baik saja. Kakek hanya kelelahan beberapa waktu karena harus mengurus perusahaan.


Hah,, seandainya saja kakek masih memiliki orang lain yang bisa mengurus perusahaan." Ucap Tetua meratapi nasibnya.

__ADS_1


"Kakek, Sebenarnya aku kemari untuk membicarakan soal perusahaan." Kata Angkasa membuat pria tua yang berbaring di atas ranjang tiba-tiba menampakan mata yang berbinar-binar.


"Katakan, katakan pada kakek!" Langsung kata Tetua dengan penuh semangat melupakan kepenatan yang baru saja ia keluhkan.


"Kakek, aku ingin minta ijin supaya Liona mengambil ahli posisi CEO di perusahaan." Ucap Angkasa mengagetkan Tetua.


"Kau bicara tentang Liona asli atau Liona istrimu?" Tanya ketua menatap dalam mata Angkasa.


"Aku sedang berbicara tentang Liona asli. Aku hendak mengembalikan identitas istriku, juga melakukan sebuah pengakuan pada Kakek." Jawab Angkasa.


"Pengakuan? Apa itu?" Tanya Tetua.


"Aku akan mengatakannya saat kakek setuju untuk mengembalikan identitas istriku.


Aku melakukannya ini bukan tanpa alasan, Tapi beberapa kali di tengah malam istriku ku menangis dalam tidurnya.


Dia mengigau tentang tentang identitasnya.


Beberapa kali dia berteriak, 'Jangan menghina Leora! Itu namaku!' lalu di pagi hari dia terlihat baik-baik saja.


"Sebenarnya aku ingin menyembunyikan identitasnya sampai beberapa waktu ke depan, tapi belakangan ini, dia semakin sering menangis di tengah malam.


Aku tidak tahan melihatnya, jadi kuputuskan supaya dia kembali ke identitasnya, lalu biarkan Liona mengambil posisi CEO." Ucap Angkasa membuat mata tertua menjadi merah berkaca-kaca.


Memangnya, siapa yang tidak akan tertekan saat banyak orang di internet ataupun di sekitarmu mencaci identitasmu?


Bahkan jika orang yang dicaci itu bukanlah dirimu!

__ADS_1


Tapi mereka menyebut namamu!


__ADS_2