
Di salah satu rumah sakit yang ada di ibukota.
Liona duduk di atas tempat tidur dengan Anasta berada disampingnya.
Perempuan itu terlihat hancur, seharian hanya berdiam diri, tidak ada ***** makan ataupun keinginan untuk membuka mulut dan berbicara.
Anasta menatap putrinya dengan cemas "Sayang, ibu mohon, makanlah sedikit, hmm?
Kalau kau tidak makan, Bagaimana kamu akan kembali ke rumah? Lihat dirimu, sudah sekurus ini." Katanya.
Liona lagi-lagi terdiam.
Anasta menghela nafas sebelum berdiri, ia meninggalkan ruangan Liona untuk melakukan panggilan telpon.
Sementara Liona, perempuan itu menatap penuh kebencian pada foto Leora yang dipajang di seberang gedung rumah sakit.
Foto terbaru Leora yang dipasang para fans Leora.
'Sekarang aku tidak punya tempat untuk bersandar.
Selama 5 hari, Radit tidak pernah mengunjungiku, Kakek pun meninggalkanku.' Liona mengehela nafas dengan kasar 'Hanya ada satu cara yang bisa ku harapkan!' gumam Liona menghela nafas.
"Sayang, ibu sudah menelpon ibu mertuamu, dia bilang akan datang nanti malam. Radit juga akan datang." Ucap Anasta saat ia selesai menelpon besannya.
__ADS_1
Mendengar itu, Liona langsung berbalik menatap ibunya. "Bu, tolong belikan aku testpack." Ucap Liona.
Anasta terkejut. "Testpack? Oh,, baik-baik, ibu akan membelinya." Ucap Anasta merasa sangat senang karena akhirnya anaknya berbicara juga.
Dan lagi, sepertinya anaknya sudah hamil, akan memberinya cucu.
Segera, perempuan paruh baya itu meninggalkan kamar Liona dan pergi ke apotek membeli testpack.
Saat kembali ke kamar Liona, ia melihat Liona sudah membersihkan diri.
Mencuci muka dan telah mengganti pakaian yang sudah dipakainya selama 5 hari berturut-turut karena tidak pernah mau disentuh.
Anasta menyerahkan testpack yang sudah ia beli lalu Liona segera masuk ke kamar mandi.
Tapi tak ada yang menjawabnya dari dalam kamar mandi, sampai menunggu selama 3 menit akhirnya Liona keluar juga.
"Bagaimana?" Tanya Anasta yang sudah tidak sabar mendapatkan kabar bahagia dari anak bungsunya.
Liona tersenyum dan menyerahkan tespek dengan dua garis merah.
"Astaga!!! Ibu akan punya cucu!" Kata Anasta penuh bahagia lalu memeluk anak perempuannya.
"Ibu, sudah 5 hari aku tidak mengijinkan Kakak datang kemari, tolong hubungi kakak supaya datang kemari.
__ADS_1
Aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf, bagaimanapun, saling membenci satu sama lain saat sedang mengandung tidak baik untuk bayiku." Ucap Liona.
"Tentu, tentu sayang. Sekarang makanlah dulu baru ibu akan menelepon kakakmu."
Terima kasih Bu, aku akan makan, tapi bolehkah ibu kembali ke rumah dan membawakan ku tas yang ada di kamarku?
Aku membutuhkan sesuatu di dalamnya." Lagi kata Liona pada ibunya.
"Aah, baik, kalau begitu, duduklah dulu dan ibu akan menyiapkan makananmu sebelum pergi ke rumah." Kata Anasta membantu Liona sebelum meninggalkan Liona dengan hati senang karena akhirnya anaknya mulai membaik.
Sementara itu, di kantor terbesar yang ada di ibukota, Angkasa sedang bersama Anggara.
"Kondisi perusahaan Radit mulai membaik, pria itu memilih bekerja sama dengan para pedagang senjata dan obat-obatan terlarang untuk memulihkan kondisi perusahaannya.
Tapi aku sudah menemukan semua bukti-bukti yang bisa menjatuhkannya dalam sekejap.
Apakah perlu memberi pukulannya sekarang?" Tanya Anggara yang sudah tidak sabar membuat Radit beserta keluarganya dipenjara karena sudah berani menyentuh obat terlarang dan senjata ilegal.
Terlebih, berurusan dengan Angkasa.
"Persiapkan saja semuanya. Aku akan memberimu perintah saat semuanya sudah siap." Ucap Angkasa yang sudah tidak sabar pergi ke rumah sakit menjenguk adik iparnya.
Sekaligus membuat perhitungan terakhir dengan kedua orang yang telah menyakiti istrinya.
__ADS_1