Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 90. Sayangku, kau dimana?


__ADS_3

Anggara yang berdiri di depan terpaku di tempatnya. Tapi situasi di depan Anggara jauh lebih buruk Saat semua orang sudah bermandi keringat karena giliran mereka akan tiba setelah Anggara selesai.


"Kembali, buat ulang laporanmu dalam waktu 30 menit!


Kerjakan di ruangan ini!" Kata Angkasa sedikit memberi kelegaan bagi Anggara.


Namun Anggara juga tahu kalau mengerjakan ulang laporan bulanan tidak mungkin selesai dalam waktu 30 menit!


Ini hanya space sebelum pembantaian berdarah dilanjutkan!


"Berikutnya kepala bagian keuangan!" Ucap Angkasa membuat seorang pria paruh baya hampir kehilangan jantungnya karena terkejut.


Tidak menyangka gilirannya tiba lebih cepat.


Pria itu tergesa-gesa mengambil laporannya hingga menyenggol gelasnya yang diisi air putih lalu terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.


Dalam sekejap perhatian semua orang tertuju padanya.


Tapi Angkasa tidak mau memberi waktu bahkan satu detik pun untuk semua orang bernafas lega.


"Apakah gelasnya lebih penting?! Kalian ingin membersihkannya?!


Cepat katakan kalau kalian ingin turun jabatan menjadi cleaning service!" Kata pria itu membuat semua orang menarik pandangannya.


"Tidak Tuan." Jawab mereka.

__ADS_1


Kepala bagian keuangan yang baru saja menjatuhkan gelas tidak memperdulikan gelas itu lagi, ia langsung berdiri dan berjalan kearah podium.


Pria itu bermandi keringat dengan jantung berdegup amat kencang.


Baru saja dia membuka laporan keuangannya saat tatapan Angkasa sudah mengejutkannya.


'Astaghfirullah... Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum,,," dengan tangan gemetaran pria paruh baya itu membuka berkas yang sudah ia siapkan.


...


Kamar Leora.


Leora baru saja bangun di malam hari pukul 9.


"Saking kecewanya aku sampai aku melukai diriku sendiri di dalam mimpi." Ucap Leora berusaha tersenyum dengan air mata kembali mengalir di pipinya.


"Terlalu awal untuk menangis, ayolah Leora,, pemotretannya 2 hari lagi!


Buat mereka menyesal!" Gumam Leora berdiri dan pergi ke kamar mandi.


Baru saja ia berdiri di depan cermin saat melihat lehernya dipenuhi dengan memar memar biru dan dibawa tulang selangkanya, sebuah gigitan besar dengan bekas darah yang telah mengering.


"Ini,," Leora membulatkan matanya teringat akan seorang pria!


"Angkasa! Tidak bisakah dia menahan diri barang sesaat saja?! Aku ada pemotretan dalam dua hari lagi!" Gerutu Leora berdecak kesal lalu dia mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.

__ADS_1


"Tunggu saja kau! Aku tidak mau ditindas begitu saja!" Geram Leora tidak sabar selesai mandi dan menemui pria itu.


Setelah mandi dan berpakaian Leora mengambil ponselnya untuk menghubungi Angkasa yang belum pulang juga.


"Aku ingin makan malam dan balas dendam padanya!" Ucapnya menyalakan ponselnya.


Tapi Leora mengeryit saat melihat ada 10 lebih panggilan tak terjawab dari Anggara.


"Apakah terjadi sesuatu?!" Dengan panik, Leora langsung berpikir kalau Angkasa mungkin sudah membuat ulah lagi.


Leora langsung menekan nomor Anggara, memanggil pria itu, tapi setelah memanggil, tidak ada yang menjawab.


Nomornya tidak aktif.


Leora langsung beralih ke nomor Angkasa.


Dua kali deringan ponsel itu sebelum seseorang di seberang mengangkat panggilannya.


"Sayangku?! Kau baik-baik saja?! Kau dimana?! Mengapa tidak pulang?!" Tanyanya beruntun karena merasa sangat cemas.


Tapi Leora mengeryit saat lama ia menantikan jawaban dari seberang telepon tapi tidak ada yang menjawabnya.


"Halo? Sayang? Kau di sana?" Lagi tanyanya dengan hati mulai berdebar kencang.


__ADS_1


__ADS_2