Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 127. Terlambat menjemput Tetua


__ADS_3

"Kau!! Siapa kau?!" Tanya Tetua.


"Uh,, Kek,, dia adalah temanku. Namanya Yosi." Jawab Leora yang tidak mau mengakui Yosi sebagai pengawalnya. Tetua bisa curiga nanti.


"Hmmm," Tetua merasa tidak senang pada sikap Yosi, jadi dia hanya berdehem sebelum lanjut berjalan.


Di belakang Tetua, Leora mengeluarkan tangannya dan memegang tangan suaminya.


Suasana hati Angkasa yang tidak terlalu baik langsung berbunga-bunga saat mereka berpegangan tangan di punggung Tetua.


'Astaga,, hanya satu peningkatan derajat saja di mata nyonya dan Tuan sudah begitu cemburu!' decak Yosi dalam hatinya yang jelas tahu kalau Angkasa sebenarnya tidak setuju jika Leora mengakuinya sebagai teman.


Teman antara pria dan wanita? Hmm, itu memang sensitif!


Rombongan itu segera meninggalkan bandara dan singgah ke rumah sakit sebelum akhirnya mereka tiba di rumah besar Casiora.


Liona dan juga Anasta baru saja akan berangkat ke bandara untuk menyambut Tetua.


Mereka terkejut saat melihat orang yang akan pergi disambut sudah tiba lebih dulu di rumah.


"Lho, Kakek!" Ucap Liona terkejut.

__ADS_1


"Hmm," Tetua merasa enggan pada Liona, tapi dia berusaha menahan diri dan membiarkan perempuan itu berjalan ke sisi-nya menggantikan Angkasa yang sedari tadi memeganginya dari mobil.


"Ayah, kenapa tiba lebih awal? Bukankah seharusnya saat ini Ayah baru saja tiba di bandara?


Kami bahkan baru akan kesana!" Ucap Anasta juga mendekati Tetua dan menggantikan posisi Leora memegangi lengan Tetua.


Leora tidak mengatakan apapun dan membiarkan ketiga orang itu berjalan lebih dahulu, ia lebih memilih bergelayut di dengan suaminya sambil melangkah bersama.


Mereka segera tiba di ruang utama. Para pelayan telah menyiapkan berbagai makanan ringan dan juga minuman untuk menyambut kepulangan ketua.


"Liona, dimana temanmu tadi?" Tanya Tetua saat menyadari Yosi sudah tidak ada.


" Dia sudah kembali. Katanya ada urusan mendesak." Jawab Leora.


"Lho ayah, Ayah tidak mencicipi makanan ini?" Tanya Anasta merasa dihiraukan.


"Ayah tidak bisa makan makanan sembarangan.


Ada banyak makanan yang harus Ayah hindari, jadi mulai sekarang tidak usah memasak untuk ayah, karena ada koki yang sudah disiapkan untuk memantau dan memasak makanan yang ayah makan." Jawab tetua lalu pria itu kembali melangkahkan kakinya.


Liona langsung mendekati kakeknya dan memegang tangan ketua.

__ADS_1


"Biarkan aku mengantar kakek ke kamar." Ucap Liona dijawab anggukan Tetua.


"Kalian berdua makanlah, ibu juga perlu istirahat." Ucap Anasta lalu meninggalkan Leora dan Angkasa.


"Terima kasih Bu." Jawab Leora membiarkan ibunya pergi.


Setelah Anasta pergi, Leora langsung bersandar pada suaminya. "Ada apa dengan Ibu?" Ucapnya resah.


"Dia ibu kandungmu, mungkin ada sesuatu yang membebaninya. Sebaiknya kita pulang saja sekarang." Kata Angkasa yang tak merasa nyaman dengan rumah itu.


"Baiklah." Jawab Leora lalu mereka pergi.


Anasta di balkon lantai 2 memandangi Leora dan Angkasa, hatinya begitu rumit melihat anak perempuannya.


"Sayang, maafkan ibu." Katanya meneteskan air matanya.


"Ada apa Bu? Mengapa menangis?" Tanya Liona yang baru saja tiba.


"Tidak sayang, ibu hanya sedih, kita terlambat menjemput kakekmu." Jawab Anasta.


"Baiklah Bu, Oya Bu, mengapa Adik Liona langsung pergi?" Tanya Liona yang melihat Leora dan Angkasa menaiki mobil sederhana mereka.

__ADS_1


"Mungkin mereka ada urusan mendadak." Jawab Anasta.


"Sayang sekali, pada hal aku ingin memperlihatkan kamar Adik Liona yang sudah ku dekorasi ulang." Ucap Liona dengan sedih.


__ADS_2