Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 160. Mengapa Kakak begitu kejam?


__ADS_3

Liona duduk di kamar hotel yang dipesan Radit untuk mereka.


Rencananya, malam pertama mereka akan dilanjutkan di kamar hotel itu.


Tapi, Radit belum datang karena pria itu memiliki sebuah kesibukan yang harus diselesaikan lebih dulu sebelum menyusul Liona.


"Hah,, sekarang semuanya akan kembali seperti semula." Ucap Liona dengan puas sembari mengoleskan obat pada gelas yang akan digunakan Radit.


Dengan obat itu, pria itu tidak akan sadar dan hanya akan mengingat sepotong-sepotong kejadian di malam hari yang akan mereka lewati.


"Sekarang tinggal pil darahnya. Ini harus diletakkan di,,, sini!" Liona meletakkan sebuah pil darah yang akan ia pecahkan untuk menodai sprei tempat tidur supaya di pagi hari Radit benar-benar percaya kalau dia sudah mengambil mahkota istrinya.


"Sekarang semuanya sudah beres, aku hanya perlu menunggu Radit dan memastikan pria itu menggunakan gelas yang sudah ku sediakan." Ucap Liona tersenyum puas.


Liona memastikan tidak ada celah pada rencananya yang cemerlang saat ponselnya tiba-tiba berdering.


"Halo, ibu," katanya menjawab telpon itu.


"Iya Sayang, bagaimana? Apa kau sudah memutuskan hari apa kau akan mengatakannya pada semua orang?" Tanya Anasta.


Liona langsung merasa kesal "Ibu, malam ini aku akan mengatakan semuanya pada Radit, lalu aku akan membahas dengan suamiku kapan waktu untuk mengatakannya.


Ibu tahu bukan, kalau Radit belum tentu akan memaafkanku saat aku mengatakannya.

__ADS_1


Jadi aku belum bisa memastikannya sekarang, bisakah Ibu menunggu setidaknya sampai besok siang?"


"Ahh, baiklah, ibu mengerti. Jangan terlalu memikirkan Radit.


Dia sangat mencintaimu, jadi dia pasti akan menerima semua kekurangan dan kelebihan mu.


Yang terpenting, kamu harus mau memperbaiki semua kesalahan yang sudah kamu lakukan, maka Radit pasti bisa mengerti. Kamu paham maksud ibu?"


"Aku mengerti Bu." Jawab Liona sebelum panggilan itu di hentikan.


'Hah,, Ibu,, aku tidak mungkin membongkar pertukaran indentitas itu.


Sekarang saja aku masih berusaha untuk menyembunyikan fakta kalau aku bukan gadis lagi, jadi tentang identitas itu, aku akan mencari cara lain untuk mengancam Leora supaya dia mau setuju untuk terus bersandiwara.


Pokonya, aku tidak mau melihat Kak Leora senang, walau hanya sebentar saja!" Geram Liona yang menduga bahwa pelaku dibalik hilangnya kehormatannya adalah Leora.


"Leora, lihat saja nanti, aku akan membalas berkali lipat atas apa yang sudah kamu lakukan!" Ucap Liona menggertakkan giginya.


...


Keesokan harinya di hotel yang sama.


"Liona, kenapa menangis seperti itu?" Ucap Anasta saat ia menemui anaknya sedang menangis sesegukan di salah satu ruang privat yang mereka pesan.

__ADS_1


"Ibu,, hikss hiks,, ibu,," Liona menangis keras sambil memeluk ibunya dengan erat.


Anasta juga ikut meneteskan air matanya karena menduga putrinya sudah dicampakkan oleh suaminya sebab kehormatannya yang telah hilang.


"Sayang tenanglah, Kalau Radit meninggalkanmu masih ada keluarga kita yang terus menerimamu.


Jangan sedih, ada banyak laki-laki lain di luar sana.


Mereka mau menerima kekurangan dan kelebihan mu." Ucap Anasta.


"Bu,, Radit tidak menolakku. Dia bilang dia mencintaiku dengan sangat tulus jadi dia menerima kekuranganku, apa pun itu." Jawab Liona masih menangis.


"Benarkah? Syukurlah, ibu sangat bahagia. Tapi mengapa menangis seperti ini?" Tanya Anasta.


"Bu,," Liona mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah cuplikan video pada Anasta.


Saat melihat video itu, Anasta bergetar di tempatnya sebelum menjatuhkan ponsel Liona ke lantai.


"Aa,, apa itu?" Ucap Anasta tak percaya.


"Ibu,, aku juga tak menyangka,, setelah menceritakan semua kejadiannya, semalam Radit langsung menyelidikinya dan menemukan orang yang sudah merebut kehormatanku.


Tapi Bu,, setelah orang-orang Radit memaksa mereka berbicara, orang-orang itu mengaku kalau mereka adalah orang suruhan kakak.

__ADS_1


Ibu,, mengapa kakak begitu kejam?" Isak Liona dengan keras.


__ADS_2