
Pukul 10 pagi, semua orang berkumpul di lantai satu yang sudah didekorasi.
Semua orang menunggu dengan hati berdebar-debar karena mereka sangat ingin tahu apa yang sudah direncanakan oleh Anasta dan Bambang.
Tapi pertanyaan mereka Langsung terjawab saat tiba-tiba saja seorang pria datang dari pintu depan dengan setelan jas dan sebuah buket bunga di tangan pria itu.
"Radit!" Langsung kata Liona segera berlari menghampiri pria itu
Keduanya berpelukan dengan hangat sebelum Radit menyerahkan bunga di tangannya pada Liona.
Angkasa yang melihat kejadian itu langsung mengarahkan pandangannya pada Leora.
Leora terlihat terkejut sebelum menghela nafas dengan wajah langsung berubah murung.
Melihat itu, Angkasa langsung dipenuhi amarah kecemburuan. Tapi ia menahannya
Setelah pelukan Liona dan Radit, sederetan keluarga Radit juga memasuki rumah lalu mereka saling sambut satu demi satu.
Ternyata, kejutan yang dimaksud oleh Anasta adalah sebuah pertunangan antara Liona dan Radit.
Leora duduk bersama Angkasa di salah satu sofa.
Leora memandang dengan malas pada acara pertunangan yang sudah menyita waktu berharganya.
"Sayang, maaf, aku tahu kau seharusnya berada di kantor untuk pekerjaan." Kata Leora merasa bersalah pada pria itu.
__ADS_1
"Hmm," jawab Angkasa mendekap Leora agar perempuan itu semakin dekat padanya.
Sedari tadi dia sudah memperhatikan Leora yang selalu berwajah murung seolah kesal melihat acara pertunangan yang sedang diadakan.
Hatinya berantakan, kacau dan perasaan penuh kemarahan meluap-luap hingga Angkasa harus mengepalkan tangannya untuk menahan ledakan amarahnya.
Cemburu pada Leora yang masih menampakkan perasaannya pada Radit.
"Haruskah kita minum?" Tiba-tiba tanya Leora saat ia mulai merasa bosan.
"Baiklah." Jawab Angkasa lalu keduanya mulai menikmati sebotol anggur yang disediakan.
Sementara Liona yang sedang berdiri bersama Radit dengan beberapa orang mengelilinginya, perempuan itu sesekali menoleh pada Leora dan Angkasa.
Wajahnya menunjukkan kesombongan 'Hah, lihat wajah kesal Leora. Aku sangat puas!
Sementara dia?
Hidup menderita di bawah tekanan pria miskin yang terlilit hutang!' Gumamnya.
Angkasa hanya minum sedikit, sementara Leora minum terlalu banyak hingga perempuan itu mulai hilang sadar.
Melihat keadaan istrinya, bagaimana perempuan itu melampiaskan kecemburuannya dengan meneguk anggur secara terus menerus, Angkasa jadi semakin geram.
Ia baru akan membawa pergi Leora saat tiba-tiba saja Liona dan Radit menghampiri mereka.
__ADS_1
"Astaga, Adik minum terlalu banyak. Wajahnya sampai memerah begitu." Ucap Liona mendekati Leora.
Tapi baru saja Lipan mengulurkan tangannya untuk menyentuh Leora, Leora sudah menjauh dan langsung memeluk Angkasa dengan erat.
"Sayang, aku mau pulang." Ucapnya membuat beberapa orang, termasuk Anasta yang mendengarnya begitu terkejut.
Leora sedang ada di rumahnya sendiri, rumah dimana ia dibesarkan selama dua puluh tahun lebih, tapi Leora malah ingin pulang ke tempat lain.
Tidak menganggap rumah Casiora sebagai rumahnya!
"Adik, kita sedang ada di rumah," ucap Liona berusaha meraih tangan Leora.
Tapi dalam setengah sadar, Leora merasakan ancaman dari Liona, Jadi ia menepis tangan itu lalu mempererat pelukannya pada Angkasa.
"Sayang, bawa aku pergi!" Lagi rengek Leora.
"Maaf semuanya, kami harus kembali lebih awal." Ucap Angkasa lalu mengendong Leora untuk pergi.
'Cih! Pergilah! Nikmati waktumu menyiksa Leora!' Gumam Liona kembali mendekati Radit dan memeluk lengan pria itu.
Tapi begitu melihat sorot mata Radit, Liona menggelapkan tatapannya saat menyadari pria itu terus menatap pada dua orang yang sedang pergi.
Bukan tatapan biasa, tapi tatapan dalam yang tak bisa di baca.
Seolah Radit menyembunyikan perasaan mendalam di tatapannya.
__ADS_1
'Apakah Radit sudah sadar? Tidak! Tidak mungkin!
Untuk apa dia mau bertunangan denganku kalau ia sudah menyadari semuanya?' Gumam Liona berusaha menekan kecurigaannya.