Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 154. Mencari Liona


__ADS_3

Saat Radit keluar dari kamar mandi ia mendapati kamar itu telah kosong.


Hanya ada dirinya saja!


"Sayang? Leora?" Ucapnya sambil mencari istrinya, tapi setelah memeriksa seluruh kamar itu l, tidak ada satupun orang di sana.


Dia segera memakai pakaiannya lalu keluar dari kamar untuk bertanya pada resepsionis.


Saat memasuki lift, pria itu bertemu dengan ibu mertuanya.


"Lho, Nak Radit, mau kemana?" Tanya Anasta kebingungan karena tadi dia melihat Radit sudah menyeret-nyeret Liona ke kamar pengantin mereka.


Jadi Anasta memperkirakan kalau dua orang itu tidak akan keluar dari kamar sampai pagi ataupun sore menjelang.


"Ini Bu, Liona tiba-tiba hilang di kamar. Aku hendak menemui resepsionis untuk menanyakan keberadaannya karena ponselnya juga tertinggal di kamar." Ucapan Radit dengan wajah cemasnya, ia begitu takut kalau Leora ternyata mencelakai Liona karena rasa cemburu.


'Leora, awas saja kalau berani menyentuh istriku!' Gumam Radit mengingat bagaimana Leora baru saja mencelakai seorang aktris papan atas.


Kalau Leora bisa melukai Calista, maka perempuan itu tidak mungkin bersifat lunak pada Liona.


"Kalau begitu, ibu akan pergi bersamamu." Ucap Anasta ikut cemas.

__ADS_1


Setelah tiba di lantai dasar, keduanya segera menemui resepsionis.


"Permisi, apakah kalain melihat istriku? Model internasional Leora." Ucap Radit yang jelas tahu kalau kedua resepsionis yang berjaga pasti mengenal Leora dengan baik.


"Aah, kami tidak melihatnya." Jawab sala satu resepsionis.


"Ibu, aku akan mencarinya di taman, Dia mungkin pergi ke sana untuk mencari udara segar.


Apalagi kejadian besar baru saja terjadi di acara pernikahan kami, aku takut dia sangat cemas kalau Leora sampai kenapa-kenapa." Ucap Radit pada Anasta.


"Kau benar, dia mungkin membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikirannya.


Radit pergi ke taman, sementara Anasta mengunjungi tempat-tempat di dalam ruangan seperti restoran dan salon.


Anaknya sudah mencari ke semua tempat tapi dia tidak menemukan putrinya, ia hendak kembali ke lantai dasar.


Tapi dia berhenti saat mendengar dua orang pelayan berbicara.


"Apa aku yakin itu pengantin? Bagaimana kalau kita salah lihat lalu mendapat masalah?" Ucap salah seorang pelayan yang sepertinya takut untuk melaporkan kejadian ya iyla tahu.


Mendengar kata pengantin, Anasta langsung menghampiri kedua pelayan itu.

__ADS_1


"Permisi," kata Anasta membuat dua pelayan itu segera menutup mulut lalu keduanya memberi hormat pada Anasta.


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang dari pelayan.


"Aku dengar kalian membicarakan tentang seorang pengantin. Di mana kalian melihatnya?" Tanya Anasta dengan gugup.


Mungkinkah terjadi sesuatu?


"Ahh, Saya juga tidak yakin Apakah itu adalah pengantin yang baru saja menikah di aula atau gadis lain yang menggunakan baju yang mirip dengan gaun pengantin. Dia dibawa oleh seorang pria. "


"Tidak masalah, Saya hanya ingin memastikan nya." Ucap Anasta semakin gugup.


"Di kamar paling ujung di sana." Jawab pelayan itu menunjuk pada salah satu kamar.


"Baik, terima kasih." Ucapan Anasta pada kedua pelayan itu sebelum berjalan ke arah kamar yang dimaksud.


Jantung Anasta berdegup sangat kencang seiring dengan langkah kakinya yang semakin mendekati pintu berwarna emas.


Terlihat pintu itu tidak tertutup dengan rapat karena mungkin orang yang baru saja masuk ke dalam kamar sangat buru-buru dan lupa mengunci pintunya.


Dengan kegugupannya, Anasta mengintip pintu yang terbuka melihat seorang pria dan seorang perempuan.

__ADS_1


__ADS_2